Si Cakrak, sapi lomusin milik Sunarwan, warga Karanganyar, Jawa Tengah yang laku terjual Rp 150 juta.

Foto: Radar Semarang/JPG
Si Cakrak, sapi lomusin milik Sunarwan, warga Karanganyar, Jawa Tengah yang laku terjual Rp 150 juta. Foto: Radar Semarang/JPG
KARANGANYAR – Peringatan Hari Raya Iduladha kali ini menjadi berkah tersendiri bagi warga Karanganyar, Jawa Tengah berna,a Sunarwan (45). Penduduk Dusun Gulunan RT 2/RW 2, Desa Kaliboto, Kecamatan Mojogedang itu menjual seekor sapinya dengan harga Rp 150 juta.

Sapi yang dijual Sunarwan memang bukan sembarangan. Beratnya 1,6 ton dan dikebal dengan sebutan sapi limusin, adaptasi dari sedan limousine yang berbodi panjang.

Sunarwan mengatakan, tahun lalu sapinya yang bernama Si Cakrak pernah ditawarkan ke Presiden Joko Widodo. Namun, Cakrak akhirnya laku setelah dibeli oleh warga Tegal bernama Muhammad Salafudin (39).

Salafudin mau merogoh kocek Rp 150 juta untuk membeli Cakrak. Menurut Sunarwan, sapinya memang istimewa.  ”Selama saya pelihara sudah menjuarai berbagai perlombaan,” katanya.

Cakrak pernah menjadi juara pertama kontes dan lomba ternak sapi kategori non-PO (peranakan ongole) se-Provinsi Jawa Tengah-DIY yang digelar di Klaten pada November 2014. Saat itu, berat ”Si Cakrak” yang memasuki umur 2,5 tahun mencapai 1,5 ton.

Sebenarnya ada dua sapi yang ditawarkan untuk dijual sebagai hewan kurban. Selain ”Si Cakrak”, ada satu sapi lagi yang diberi nama ”Jazen” yang sama-sama berjenis limusin.

”Saya beli saat umur enam bulan. Kemudian saya rawat selama empat tahun. Hasilnya bisa juara satu,” tuturnya.

Soal makanan untuk Si Cakrak, Sunarwan hanya mengaku menyediakan rumput kolonjono. Namun, ada juga suplemen tambahan dan konsentrat. Untuk menjaga stamina, Si Cakrak dalam tiga hari sekali diberi air yang dicampur gula jawa.

”Rahasia sapi agar gemuk itu pokoknya makan kenyang tidur nyaman. Kebersihan tubuh, tempat tidur kering. Bahkan kandangnya juga saya kasih obat pengusir nyamuk,” ucap pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Karanganyar ini.

Namun, Sunarwan tidak pernah menghitung biaya perawatan secara rinci. Dia memelihara sapi karena honi.

”Tidak pernah menghitung biaya perawatan keseharian ternak. Ini saya dasari karena suka memilihara sapi. Bahkan sapi ini sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, saya elus-elus,” terangnya.

Sementara Muhammad Salafudin yang membeli Si Cakrak mengaku kesulitan mencari sapi kurban berukuran jumbo. Dia sampai harus berputar ke sejumlah daerah.

”Setelah seminggu mencari, saya akhirnya dapat informasi ada sapi 1,6 ton yang mau dijual. Setelah saya cek dan harganya cocok lalu saya beli,” terangnya.(adi/un/jpg/ara/jpnn)

sumber : Jpnn.com
Reaksi: