Untuk mendapatkan rizki halal, asalkan mau bekerja, sebenarnya tidak sulit. Agama mengajarkan agar setiap orang bekerja untuk memperoleh rizki yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rizki dari Allah itu tidak terbatas jumlahnya. Sebaliknya, kebutuhan manusia itu yang justru terbatas. Persoalannya adalah belum diketahui cara memperoleh rizki dimaksud, atau kurang bersemangat dan belum bersungguh-sungguh dalam bekerja.

Banyak orang mengatakan bahwa mencari rizki itu sulit, namun ternyata dalam kehidupan hari-hari tidak terdengar orang yang mati hanya oleh karena kelaparan. Sekian banyak orang masih mampu bertahan hidup, maka artinya, mereka berhasil memperoleh rizki yang cukup. Siapa saja asalkan mau bekerja, dan tidak harus memilih sesuai dengan kehendak nafsunya, sekalipun lapangan pekerjaan itu terbatas, maka masih dapat ditemukan. Bekerja apa saja akan mendatangkan rizki untuk mempertahankan hidup. Maka benar, rezki memang sudah dibagi oleh Dzat Yang Maha Kuasa.

Memang di antara masing-masing orang, rizki yang diperoleh tidak sama jumlahnya. Ada sebagian yang memperoleh banyak, sedang, dan sebagian lainnya sedikit jumlahnya. Banyak dan sedekitnya rizki yang diperoleh tergantung dari kadar yang diusahakan. Mereka yang berusaha keras, memiliki modal, dan pandai memilih jenis pekerjaan yang mendatangkan banyak uang, ��� sekalipun tidak selalu, rizki yang diperoleh akan banyak jumlahnya. Disebutkan, berbagai jenis usaha tidak selalu mendatangkan rizki dalam jumlah besar, oleh karena misalnya, perhitungan yang dilakukan tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga hasilnya terbatas dan atau bahkan merugi.

Akan tetapi jika rizki yang dikehendaki itu tidak banyak, yaitu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sebenarnya tidak sulit dicari dan dapat dilakukan dalam berbagai bidang usaha. Jika seseorang tidak memiliki modal yang cukup, sekedar memelihara ayam, itik, bebek, dan sejenisnya, ternyata hasilnya dapat mencukupi kebutuhan hidup. Hal demikian itu, tentu jika dijalankan dengan penuh kesungguhan. Sejak berusia anak-anak, saya selalu memperoleh penjelasan, baik dari orang tua dan juga guru di sekolah, bahwa mendapatkan rizki itu amat mudah, asalkan mau bekerja.

Dahulu, orang tua dan juga guru di sekolah selalu meyakinkan bahwa jika berkeinginan mengkonsumsi telor, dianjurkan membuat telur. Caranya, adalah supaya memelihara ayam, itik, atau bebek, syukur jumlahnya banyak, maka unggas itu akan bertelur, dan kemudian dapat dikonsumsi. Jika pada setiap hari berkeinginan mengkonsumsi ikan, maka disarankan agar membuat kolam, dan kemudian diisi dengan bibit ikan. Maka tidak lama kemudian, kolam itu akan menghasilkan ikan. Demikian pula, jika ingin mengkonsumsi sayur, maka dianjurkan menanam sayur dan merawatnya.

Masih banyak contoh lainnya yang diberikan sebagai cara yang bisa dilakukan agar mendatangkan rizki. Kuncinya adalah bekerja keras, selalu menggunakan perhitungan, berbaik dengan semua orang, dan juga selalu berdoa, memohon kepada Dzat Yang Maha Kuasa, sebab pada hakekatnya rizki itu adalah milik-Nya. Terkait dengan rizki, keyakinan yang seharusnya dibangun adalah bahwa kemampuan manusia adalah sekedar berusaha dan memohon atas pemberian-Nya. Dengan cara itu, maka akan diperoleh rizki yang halal dan mencukupi.

Berbeda dengan pesan orang tua dan guru pada zaman dahulu, pada zaman sekarang ini, pesan itu justru sebaliknya, yaitu anak-anak diyakinkan bahwa mencari pekerjaan itu sulit, mendapatkan uang itu tidak mudah, rizki itu terbatas dan oleh karena itu harus diperebutkan, dan seterusnya. Disadari atau tidak, pandangan tersebut dapat menyebabkan beban psikologis menjadi berat. Seolah-olah masa depan itu penuh kegelapan. Akibatnya, usaha apapun harus dilakukan, dan tidak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh. Selain itu, banyak orang menjadi khawatir terhadap apa yang sudah dimiliki, dirasakan masih belum mencukupi kebutuhan hidupnya, dan juga tidak pernah bersyukur.

Padahal, kebutuhan manusia itu sebenarnya terbatas. Kebutuhan dasar itu hanya untuk memenuhi konsumsi sehari-hari, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya. Sedangkan lainnya, sebenarnya hanya untuk memenuhi keinginan, yang sifatnya dapat dibatasi dan atau sebaliknya, dipenuhi hingga tidak terbatas. Mereka yang tidak mampu mengendalikan diri, hidunya menjadi selalu terbebani. Berapapun rizki yang diperoleh selalu dirasakan kurang, sekalipun sebernarnya sudah berlebih.

Bahkan, ada juga seseorang yang justru tidak berpikir rasional, yaitu berkeinginan bekerja semudah-mudahnya untuk memperoleh rizki sebanyak-banyaknya, dan bahkan secepat-cepatnya. Keinginan seperfti itu menjadikan jiwa yang bersangkutan terbebani dan tidak mudah diraih. Akan tetapi, jika yang diharapkan adalah memperoleh rizki dalam jumlah sekedar cukup, sebenarnya dapat dipenuhi dengan cara yang tidak selalu sulit. Sebagaimana dicontohkan di muka, rizki halal itu dapat diperoleh dari beternak, bertani, berdagang, dan atau menjual jasa yang dikuasainya. Wallahu a�lam
 
Reaksi: