Sudah bukan menjadi rahasia umum, ethnis China di banyak kota berhasil dalam mengembangkan ekonomi. Pada umumnya mereka berdagang dan atau mengembangkan perusahaan. Toko-toko besar di banyak kota dimiliki oleh orang China. Tatkala berdagang, mereka tidak peduli tentang agama para pelanggannya. Siapapun dilayani sebaik-baiknya. Bagi orang China yang terpenting adalah menguntungkan dagangannya. Oleh karena itu, mereka tidak mau konflik atau apalagi bermusuhan, khawatir usahanya tidak lancar.

Sebagai pedagang, mereka paham benar bahwa, semakin banyak pelanggan, maka akan semakin banyak untungnya. Oleh karena itu, menjaga pelanggan selalu dinomor-satukan. Siapapun berusaha didekati, asalkan dipandang menguntungkan bagi kemajuan usahanya. Para pejabat pemerintah, lembaga-lembaga swasta, atau bahkan ulama sekalipun, jika memungkinkan, didatangi untuk diajak bersahabat. Perbedaan agama, keyakinan, atau kepercayaan tidak dianggap sebagai penghalang untuk berkomunikasi.

Sikap terbuka itu menjadikan etnis China di mana-mana memiliki banyak kenalan yang digunakan sebagai salah satu modal usahanya. Maka, jaringan komunikasi Itulah sebenarnya di antara salah satu rahasia keberhasilan mereka di dalam membangun usaha ekonomi. Sejak masih berusia anak-anak, saya sudah memperoleh nasehat, bahwa jika kelak ingin menjadi orang kaya, agar belajar atau bahkan meniru orang China. Nasehat dimaksud mendasakan pada kenyataan bahwa, mereka kebanyakan sukses dalam berekonomi.

Selama ini, saya memiliki banyak kenalan orang China. Kebetulan di antara mereka juga sukses dalam usaha ekonominya. Kebanyakan kenalan itu bekerja sebagai pedagang, dan juga pengusaha di berbagai bidang. Dari pergaulan itu, saya memperoleh kesimpulan yang saya anggap sebagai kunci sukses di dalam berekonomi. Sudah barang tentu, beberapa kesimpujlan yang saya maksudkan itu masih perlu diuji kembali, sebab saya akui masih bersifat kesan, dan belum mendasarkan pada data yang cukup banyak.

Kelebihan pengusaha China selain kemampuannya menjalin relasi, di antaranya adalah kedisiplinannya dalam melayani pelanggan. Toko-toko milik etnis China selalu buka dan tutup tepat waktu. Dalam keadaan apapun jika sudah waktunya buka, toko akan dibuka, dan demikian pula waktunya tutup, maka akan segera ditutup. Kedisiplinan itu menjadikan para pelanggannya loyal atau tidak pindah ke toko lain. Ibu saya ketika saya masih berusia anak-anak dan disuruh membeli minyak tanah, selalu menyarankan agar membeli ke tokonya Ting Whan, seorang etnis China. Alasannya sederhana, dipastikan toko milik orang China tersebut pasti masih buka. Berbeda dengan toko lainnya, dianggap kurang disiplin, yaitu kadang buka atau kadang sudah tutup.

Selain kelebihan tersebut, pedagang atau pengusaha China selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk ditabung. Orang China tidak mau mengkonsumsi seluruh penghasilannya. Jika mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 100.000,- misalnya, sedikitnya akan ditabung 20 % nya, dan atau bahkan lebih. Oleh karena itu, usahanya semakin lama semakin besar, yakni dari usaha menabungnya itu. Sementara itu, yang dilakukan oleh kebanyakan orang bukan etnis China, justru sebaliknya. Semangat menabung kurang, dan bahkan konsumsinya berlebih, yang diperoleh, bisa jadi, dari meminjam. Berhutang digunakan untuk kunsumsi dianggap hal biasa, dan bukan seperti kebiasaan orang China, berhutang hanya untuk menambah modal.

Kepada siapapun, orang China tidak segera percaya, terutama terkait uang, hingga kepada anaknya sendiri sekalipun. Mereka itu ketika memberikan uang, hingga kepada anaknya sendiri, harus dihitung di hadapannya. Jika uang dimaksud sudah dihitung dan lengkap, maka boleh dimasukkan saku, dan meninggalkan tempat itu. Dalam bekerja dan bertransaksi, mereka menghendaki ada kepastian. Berbeda dengan orang China, orang pada umumnya, hanya sekedar mempertimbangkan rasa sungkan, ketika menerima uang, mereka tidak mau menghitung, dan memprotes jika jumlah uang dimaksud ternyata ada kekurangan.

Kelebihan lainnya, orang China sangat menyukai dan menghargai apa yang menjadi miliknya. Kekayaannya dianggap segala-galanya. Kecintaannya terhadap harta, menjadikan mereka sungguh-sungguh di dalam mencarinya. Bagi mereka, harta sekan-akan disamakan dan bahkan lebih dibanding dengan harga dirinya. Kecintaan terhadap harta kekayaan itulah yang menjadikan mereka sanggup bekerja keras tanpa merasa lelah. Beberapa hal Itulah di antara kunci keberhasilan mereka dalam mengembangkan ekonomi. Nilai-nilai dimaksud berhasil merasuk pada jiwanya, sehingga dapat dijalankan dengan rasa enak dan sebaliknya, bukan dirasakan sebagai beban. Wallahu a�lam
 
Reaksi: