Dalam menjalani kehidupan ini, semua orang ingin meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akherat kelak. Sebaliknya, tidak ada orang yang menginginkan hidupnya menderita, dan apalagi di akherat masuk neraka. Semua orang mengetahui, cara-cara agar selamat, dan juga sebaliknya pintu-pintu neraka. Akan tetapi pengetahuan itu belum cukup digunakan untuk mendapatkan kebahagiaan dan juga menghindarkan diri dari kesengsaraan.

Siapa saja mengetahui bahwa agar mendapatkan kebahagiaan, harus berbuat baik kepada siapapun, bekerja sebaik-baiknya, berdisiplin, dan pandai mengatur dirinya sendiri, tetapi ternyata jalan hidup itu tidak selalu menjadi pilihannya. Mengetahui bahwa berbuat baik akan mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan bagi siapa saja, tetapi ternyata justru ditinggalkan. Menyenangkan orang akan mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri, tetapi yang dilakukan justru menyakitkan hati orang.

Pengetahuan ternyata belum cukup, tetapi harus diikuti dengan kemauan untuk melaksanakannya. Namun membuat seseorang mau melakukan sesuatu yang baik juga memerlukan energi tersendiri. Kebaikan tidak selalu menarik dan menjadikan semua orang segera melaksanakannya. Menjalankan kebaikan ternyata lebih berat dibanding mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Itulah sebabnya, tidak semua orang yang tahu sekaligus juga menjalankannya.

Berbeda dengan keburukan, pada umumnya sedemikian mudah dijalankan. Mengetahui bahwa keburukan selalu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan, tetapi ternyata justru dijalankan. Semua orang mengetahui bahwa sombong atau takabur itu adalah buruk, tetapi justru dilakukannya. Menghasut, iri hati, dengki, dendam, permusuhan, memfitnah, merendahkan orang lain, dan sejenisnya adalah sifat-sifat buruk yang seharusnya dijauhi, tetapi pada kenyataannya justru banyak orang melakukannya.

Semua sifat dan perilaku buruk tersebut jika dipilih dan dikembangkan akan mencelakakan, baik kepada pelakunya sendiri maupun terhadap orang lain. Orang takabur, memutus tali sillaturrahmi atau permusuhan, bakhil, riya� , memfitnah, merendahkan orang lain, dan sejenisnya akan mendapatkan balasan, berupa tempat buruk di akherat, atau disebut neraka. Oleh karena itu, sebenarnya pintu-pintu neraka cukup banyak jumlahnya. Pintu-pintu yang dimaksudkan itu bukan berada di tempat yang jauh, melainkan selalu berada pada diri masing-masing orang.

Ada saja orang mengira bahwa ketika yang bersangkutan sudah menjalankan shalat, zakat, puasa, dan haji dipastikan akan meraih kebahagiaan atau mendapatkan surga. Padahal, pintu surga itu masih jauh sedikit jumlahnya dibanding dengan pintu-pintu masuk ke neraka. Mengetahui pintu surga, sekalipun menyenangkan, ternyata tidak selalu segera dijadikan pilihannya. Sebaliknya, sekalipun mengetahui bahwa neraka itu menyakitkan, ternyata sedemikian mudah mendekatinya.

Sebagaimana disebutkan di muka, betapa mudah seseorang berbuat sombong, dengki, hasut, riya�, dan bahkan ingkar terhadap karunia Tuhan, padahal semua itu adalah merupakan pintu-pintu masuk neraka yang seharusnya ditakuti. Bahkan, sekedar ingin dikagumi saja, seseorang bersedia mengeluarkan biaya mahal dan mau menanggung resiko. Padahal kekaguman yang dimaksud sangat mungkin mendatangkan kesombongan dan riya�, yang sebenarnya akan mendekatkan dirinya pada pintuk masuk neraka. Manusia, memang aneh. Wallahu a�lam

Reaksi: