Manusia terdiri atas aspek lahir dan batin. Oleh karena itu, memahami manusia tidak cukup hanya dilihat dari aspek yang tampak. Apa yang tampak belum tentu menggambarkan secara keseluruhan dari yang bersangkutan. Manusia bisa berperilaku pura-pura, seolah-olah, atau seakan-akan. Seakan-akan setuju, padahal sebenarnya melawan, dan begitu pula sebaliknya.

Sebagai akibat dari perilaku yang tidak selalu jelas itu, maka ketika memandang manusia hanya dari aspek yang tampak, maka bisa jadi akan keliru. Seseorang dianggap baik, padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Lahirnya baik, padahal batinnya berlawanan dari yang tampak itu. Seakan-akan seseorang rajin bekerja dan bertanggung jawab, padahal sebenarnya tidak sebagaimana yang dikira itu.

Namun oleh karena melihat manusia secara utuh tidak mudah dilakukan, maka sementara orang mencukupkan dari apa yang tampak saja. Di kantor misalnya, seseorang disebut rajin jika selalu mengisi daftar hadir. Disebut jujur manakala ketika berbelanja selalu menunjukkan bukti pengeluarannya. Disebut berprestasi manakala yang bersangkutan memiliki banyak bukti atau tanda penghargaan yang telah diterimanya.

Demikian pula dalam kehidupan keagamaan, seseorang disebut baik atau bertaqwa sekedar dari bentuk pakaiannya, misalnya mengenakan pakaian jubah, bersurban, dan sejenisnya. Padahal pakaian itu sendiri adalah sebatas tanda, identitas, atau simbol, yang sebenarnya belum tentu menggambarkan hakekat yang sebenarnya. Seharusnya melihat kertaqwaan seseorang tidak cukup hanya dari bentuk pakaiannya, melainkan hingga pada keluasan ilmu dan keindahan perbuatannya.

Oleh karena manusia bisa menampakkan diri secara berbeda dari gambaran yang sebenarnya, maka seringkali orang salah di dalam memahaminya. Seseorang yang sebenarnya tergolong baik disebut jelek, dan sebaliknya, orang jelek disebut baik. Pemimpin yang baik disebut kurang baik, dan begitu pula pemimpin yang kurang baik disebut sebagai sosok ideal. Hal demikian itu, disebabkan karena memang tidak mudah memahami seseorang secara tepat.

Hal demikian tersebut lebih-lebih lagi di dunia modern seperti sekarang ini. Penilaian seseorang juga tergantung dari citra yang dibangunnya. Seseorang yang memiliki banyak uang, dengan berbagai cara, membangun citra sebagai orang baik. Melalui berbagai media yang bisa dibayar, seseorang yang sebenarnya tidak pintar, tidak memiliki prestasi, dan tidak memiliki kelebihan, berhasil dicitrakan sebagai sosok yang hebat, atau calon pemimpin yang ideal. Maka artinya, di zaman modern, menyangkut tipu menipu, kamuflase, dan sejenisnya ternyata semakin mudah dilakukan.

Islam menempatkan suara hati pada posisi yang lebih utama. Dalam melakukan sesuatu, seseorang akan dilihat dari niatnya dan suara hatinya. Ketulusan dan keikhlasan menjadi sedemikian penting. Kualitas seseorang tidak saja dilihat dari penampilan fisiknya, tetapi dari niat dan hakekat yang sebenarnya. Simbol dianggap penting, tetapi di balik simbol itulah justru menjadi yang terpenting.

Namun melihat seseorang hingga aspek yang terdalam sebagaimana dimaksudkan tersebut pasti tidak mudah dilakukan. Siapapun akan selalu menampakkan dirinya sebagai yang terbaik. Sebaliknya, segala kekurangan dan kelemahan dirinya selalu ditutup-tutupi. Sebaliknya, adalah hal wajar, seseorang menambah-nambah kelebihannya, agar disebut hebat dan istimewa. Itulah perilaku manusia.

Oleh karena itu, ketika melihat manusia hanya dari aspek yang tampak, atau aspek dhahirnya, maka akan cenderiung mengalami kesalahan. Apalagi, selain menggunakan banyak wajah, manusia juga bisa saja berubah-ubah. Dengan begitu, tentu semakin sulit lagi memahami, dan celakanya adalah tidak terkecuali perilaku para pemimpinnya sekalipun. Wallahu a�lam

Reaksi: