Tatkala bermbicara tentang musuh maka siapapun menganggap bahwa sesuatu yang membahayakan itu datang dari luar dirinya. Musuh yang dimaksudkan itu adalah apa saja yang menjadikan dirinya celaka, merugi, mati, atau binasa. Padahal jika pengertian musuh digambarkan seperti itu, sebenarnya bisa juga datang dari dirinya sendiri. Banyak hal yang terdapat pada diri seseorang justru menjadi sumber petaka dan kehancuran.

Kebodohan, kemalasan, dan perilaku buruk akan menjadikan diri seseorang lemah, dan akibatnya tidak bisa bertahan hidup atau mati. Oleh karena itu sebenarnya yang mengancam diri seseorang bukan selalu berasal dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Bahkan ancaman atau musuh yang berasal dari dalam diri sendiri itu jauh lebih berbahaya dibanding yang berasal dari luar.

Musuh dari luar biasanya segera diketahui dan diantisipasi. Sementara itu musuh dari dalam dirinya sendiri tidak mudah dikenali dan diketahui. Mengetahui bahwa apa yang ada di dalam dirinya sendiri berbahaya adalah ketika sudah dirasakan akibatnya. Oleh karena itu mengenali musuh yang berasal dari dalam diri sendiri menjadi amat penting. Namun sayangnya tidak semua orang mampu melakukannya sendiri.

Dalam suatu kisah, setelah menyelesaikan peperangan yang amat dahsyat, Nabi Muhammad pernah mengingatkan kepada para sahabatnya, bahwa mereka baru saja menyelesaikan perang kecil dan segera akan menghadapi perang yang lebih besar lagi. Atas pernyataan itu, para sahabat menanyakannya tentang perang dimaksud. Nabi menjawab bahwa, perang yang lebih besar sebagaimana disebutkan itu adalah perang melawan hawa nafsu.

Perang melawan hawa nafsu adalah merupakan peperangan melawan musuh yang berasal dari dirinya sendiri. Musuh berupa hawa nafsu sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat, dan bahkan resikonya juga amat berat, yakni hingga ke akherat kelak. Hawa nafsu mendorong manusia untuk bersikap takabur, riya�, iri hati, hasut, bakhil, permusuhan, fitnah, dendam, berbohong, dan lain-lain semua itu merupakan kekuatan yang mampu menghancurkan diri seseorang.

Menghindar atau menjauhkan diri dari sifat tersebut bukan perkara mudah, dan berhasil dilakukan oleh semua orang. Musuh atau penyakit dimaksud berkemungkinan menyerang terhadap siapapun, baik mereka yang berpendidikan, berjabatan tinggi, memiliki kekayaan, atau apapun kelebihannya. Bahkan berbagai kelebihan dimaksud justru dapat menjadi pintu masuk atau pendorong bertumbuh-kembangnya hawa nafsu yang disebut sebagai musuh yang berasal dari dalam diri seseorang dimaksud.

Melawan musuh yang berasal dari dalam diri sendiri, berupa hawa nafsu, ternyata juga harus mengandalkan kekuatan dari dalam diri sendiri pula, yaitu melalui upaya membersihkan diri, banyak mengingat dan mendekatkan diri pada Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang memperkaya dirinya dengan kekuatan spiritual, akan mampu mengalahkan kekuatan hawa nafsu itu. Hawa nafsu tidak akan bisa dilawan hanya sekedar dengan kekuatan intelektual. Bahkan sebaliknya, kekuatan intelektual justru berpotensi menumbuh-kembangkan hawa nafsu itu sendiri.

Musuh berupa hawa nafsu yang tidak kelihatan dan bahkan juga tidak terasakan datang dan keberadaannya adalah sangat membahayakan. Ancaman itu tidak saja terbatas di dunia ini, melainkan juga akan mensengsarakan pada kehidupan di akherat kelak. Banyak orang yang semula hidupnya dipandang bahagia ternyata berubah menjadi jatuh, sengsara, dan bahkan hina di mata masyarakat adalah karena terkalahkan oleh kekuatan hawa nafsunya sendiri. Kekuatan musuh dimaksudkan itu tidak tampak dan juga tidak disadari keberadaannya tetapi memiliki kekuatan perusak yang luar biasa besarnya. Wallahu a�lam

Reaksi: