Perubahan kelembagaan dari STAIN menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebenarnya didorong oleh keinginan atau motifasi agar semua mahasiswa, apapun bidang ilmu yang menjadi pilihannya, mampu memahami al Qur�an dan Hadits nabi. Cita-cita ideal tersebut sebanarnya merupakan kelanjutan dari apa yang digagas oleh para ulama terdahulu ketika mendirikan perguruan tinggi Islam, yaitu untuk melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama, namun sekalipun sudah melewati waktu sekian lama, hasilnya belum memuaskan.

Kegagalan tersebut secara jujur harus diakui telah melahirkan rasa prihatin yang mendalam dari berbagai kalangan, tidak terkecuali kalangan internal perguruan tinggi Islam itu sendiri, semisal para dosen dan orang-orang yang menaruh perhatian pada lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Keprihatinan yang selalu diungkap itu misalnya, bahwa tidak sedikit lulusan perguruan tinggi islam yang ternyata belum lancar membaca al Qur�an, dan apalagi memahami isinya. Selain itu, mereka juga belum semua memiliki kepercayaan diri untuk memimpin kegiatan ritual keagamaan, dan sejenisnya.

Pertanyaan mendasar yang selalu muncul adalah, manakala lulusan perguruan tinggi Islam semisal IAIN atau STAIN hingga belum mampu membaca al Qur�an dan apalagi memahaminya, lalu apa sebenarnya yang diharapkan dari mereka itu. Mereka memiliki ijazah, tetapi tidak mampu menunjukkan kemampuan dan atau kecakapannya yang dibuktikan dari ijazah dan transkrip nilai yang dimilikinya itu. Keprihatinan seperti itu sebenarnya sudah cukup lama dirasakan, akan tetapi tidak segera diambil jalan keluar untuk mengatasi dan atau memperbaikinya.

Memang tidak semua prestasi lulusan perguruan tinggi Islam adalah seperti digambarkan itu, yakni tidak mampu membaca al Qur�an dan kitab lain yang berbahasa Arab. Mereka yang kebetulan memiliki basis pendidikan pesantren, sudah barang tentu dapat dikecualikan. Sebelum menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, ketika masih berstatus sebagai santri di pesantren, mereka sudah mampu membaca dan bahkan sanggup memahami kitab-kitab yang berbahasa Arab. Akan tetapi, bagi yang berlatar belakang pendidikan madrasah pada umumnya dan apalagi dari sekolah umum, mereka belum mampu memenuhi harapan yang diinginkan.

Melihat kenyataan tersebut, seolah-olah pengetahuan agama yang diperoleh dari selama belajar di perguruan tinggi Islam tidak bertambah, oleh karena mungkin saja, disebabkan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan. Pembelajaran agama di kampus tidak berhasil menjadikan mahasiswanya bersemangat untuk memperkaya pengetahuan agama secara memadai. Pengajaran agama yang diberikan hanya menggunakan pendekatan kuliah, dan tidak banyak menantang. Tugas-tugas dan sejenisnya yang menjadikan mahasiswa berpikir kritis dan inovatif tidak berhasil dikembangkan. Sehingga asalkan ikut kuliah, mahasiswa dinyatakan lulus, diwisuda, dan akhirnya mendapatkan ijazah. Gambaran seperti itu ternyata dialami oleh banyak mahasiswa, dan bisa jadi, di banyak perguruan tinggi Islam, keadaan yang demikian itu masih terjadi.

Sebagai upaya keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan tersebut, khususnya STAIN Malang, membuat langkah-langkah strategis, yaitu di antaranya, mengusulkan agar pemerintah mengubah statusnya dari bentuk sekolah tinggi menjadi universitas. Melalui perubahan itu diharapkan melahirkan semangat baru untuk mengembangkan ilmu secara luas dan bahkan menjadikan al Qur�an dan Hadits Nabi sebagai sumbernya. Memposisikan al Qur�an dan Hadits Nabi pada tempat yang strategis dan mendasar itu, diharapkan sekaligus melahirkan semangat dan kesadaran untuk memahami dan mendalami sumber ajaran Islam dimaksud. Selain hal tersebut, mewajibkan kepada semua mahasiswa baru tanpa melihat jurusan atau bidang ilmu yang diambil, agar mengikuti pembelajaran Bahasa Arab secara intensif. Setiap mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun pertama diwajibkan bertempat tinggal di Ma�had dan belajar Bahasa Arab secara intensif pada setiap hari, selama 5 jam.

Kebijakan yang bersifat strategis tersebut berhasil dijalankan, dan buahnya pada batas-batas tertentu dapat dirasakan. Setelah program dimaksud dijalankan, menjadi tidak ada lagi keluhan bahwa lulusan STAIN/ UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak mampu membaca al Qur�an. Bahkan melalui kebijakan tersebut kemudian muncul berbagai kegiatan, misalnya program Tahfidz al-Qur�an. Program yang pada awalnya diinisiasi oleh mahasiswa sendiri itu hasilnya cukup membanggakan. Hingga pada saat ini, lebih dari 20 % mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti program halafan al Qur�an.

Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa, mahasiswa yang mengikuti hafalan al Qur�an, selain prestasi akademiknya unggul, mereka juga sekaligus mampu memelihara akhlaknya. Setiap diselenggarakan wisuda sarjana, peraih prestasi akademik unggul, selalu diraih oleh mereka yang hafal al Qur�an hingga sempurna atau 30 juz. Oleh karena itu, untuk menjadikan lulusan perguruan tinggi Islam dapat dihandalkan dan mampu menjadi kekuatan penggerak masyarakatnya, maka al Qur�an seharusnya dijadikan bacaan wajib atau utama bagi seluruh mahasiswanya pada setiap hari. Jika demikian itu yang dilakukan, maka al Qur�an akan benar-benar difungsikan secara tepat. Wallahu a�lam

Reaksi: