Sudah sekian lama banyak orang berharap agar kualitas akhlak para birokrat terjaga dengan baik. Manakala akhlak para birokrat kualitasnya sesuai dengan yang diharapkan maka pelayanan publik akan menjadi berkualitas, tidak ada penyimpangan, bebas dari korupsi, nepotisme, dan perbuatan tercela lainnya. Namun persoalannya bahwa menjadikan akhlak para birokrat tetap terjaga ternyata ternyata tidak mudah.

Dari dahulu hingga sekarang keluhan terhadap kualitas birokrat tidak pernah berhenti. Oleh karena banyak penyimpangan, maka birokrasi menjadi mahal, anggaran banyak yang bocor, pelayanan tidak memuaskan, hingga semua itu selalu menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Singkatnya, menjaga kualitas birokrasi pemerintah bukan pekerjaan mudah. Birokrasi pemerintah diharapkan berhasil menyelesaikan masalah, tetapi justru para birokrat itu sendiri yang menjadi sumber masalah.

Banyak cara yang ditempuh untuk menjadikan birokrasi bersih dan atau tidak melakukan penyimpangan. Di antara cara itu adalah melakukan pengawasan secara ketat, kontrol dan pemeriksaan secara periodik, perbaikan manajemen, pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar, dan lain-lain. Namun berbagai pendekatan itu ternyata belum sepenuhnya berhasil menjadikan para birokrat menjalankan tugas sebaik-baiknya.

Pada akhir-akhir ini, para birokrat yang melanggar dan apalagi melakukan penyimpangan keuangan negara ditindak tegas dan bahkan diadili dan dipenjarakan. Akibat gerakan penertiban itu, maka banyak birokrat atau pejabat pemerintah ditangkap, diadili, dan dipenjarakan oleh karena melakukan korupsi. Oleh karena banyaknya meraka yang terjebak melakukan penyimpangan itu, akhirnya penjara menjadi penuh sesak. Tidak sedikkit mulai dari lurah, camat, kepala kantor, bupati, wali kota, anggota DPRD, DPR, oknum kejaksaan, hakim, gubernur, dan hingga menteri sekalipun dipenjarakan.

Gerakan memperbaiki akhlak birokrat melalui pendekatan hukum, dengan maksud agar keadilan, kejujuran, kebenaran, dapat diwujudkan, atau artinya akhlak para birokrat terpelihara, ternyata belum sepenuhnya berhasil. Banyak pejabat atau birokrat yang terkena hukuman atau dipenjara, tetapi dampaknya terhadap perbaikan mental birokrasi belum dapat dirasakan hingga memuaskan. Hukuman ternyata belum memberikan efek jera sebagaimana yang diharapkan itu.

Akhlak adalah menjadi sumber atau pangkal perbuatan manusia. Manakala seseorang atau juga birokrat berakhlak mulia, maka tidak akan lagi melakukan penyimpangan, pelanggaran, tindakan indisipliner, melakukan korupsi, nepotisme dan semacamnya. Perilaku atau tindakan negatif tersebut sebenarnya bersumber dari dalam hati atau akhlak yang bersangkutan. Betapapun ketatnya pengawasan, dan bahkan beratnya hukuman, manakala hati mereka tidak bersih, sakit, dan apalagi mati, maka akan tetap saja melakukan penyimpangan.

Perbuatan jahat seseorang adalah berawal dari perintah hatinya yang kotor, sakit, dan bahkan mati tersebut. Oleh karena itu, memperbaiki para birokrat akan menjadi tepat melalui upaya menyehatkan bagian yang terdalam dari manusia itu. Apa yang dimaksud dengan bagian terdalam itu adalah kekuatan penggerak, atau sumber hidup setiap manusia, yaitu ruh. Akhlak yang baik adalah muncul dari ruh yang berada di dalam hati setiap orang. Ruh itulah sebenarnya yang menjadikan akhlak seseorang, ����tidak terkecuali para birokrat, baik atau buruk.

Dalam ajaran Islam memperbaiki ruh itu adalah urusan Allah dan Rasul-Nya. Agar seseorang akhlaknya menjadi baik, maka dilakukan melalui shalat secara khusu�. Bukan sembarang shalat, tetapi adalah shalat yang khusu�. Siapa saja, tidak terkecuali para birokrat, yang mampu menjalankan shalat secara berkualitas itu, maka akhlaknya akan menjadi baik. Penyimpangan akan semakin berkurang dan bahkan akan hilang tatkala seseorang dari menjalankan shalat secara khusu�, semakin merasa dekat pada Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya, kerja dan pelayanan kepada masyarakat akan meningkat kualitasnya.

Oleh karena itu, melengkapi kantor, sekolahan, kampus-kampus dengan tempat ibadah sebenarnya adalah merupakan pendekatan terbaik dalam menjaga kualitas akhlak para birokrat untuk meningkatkan pelayanan dan sekaligus mencegah penyimpangan. Kegiatan ritual, bagi umat Islam, di antaranya adalah shalat, adalah merupakan cara terbaik untuk menjaga atau merawat kualitas kerja para birokrat. Kegiatan ritual yang dilakukan sehari-hari bukan saja bermakna untuk mengumpulkan pahala sebagai bekal di akherat tetapi juga sekaligus memperbaiki kualitas kerja dan pelayanan kepada masyarakat. Wallahu a�lam

Reaksi: