Salah satu sifat manusia adalah pelupa. Apa yang dilakukan atau dialami beberapa waktu saja, kadang sudah dilupakan. Hanya peristiwa yang benar-benar mengesankan, berhasil dapat diingat dalam waktu lama. Sedangkan kegiatan rutin sehari-hari cepat sekali dilupakan. Oleh karena lupa itu, seseorang kadang ragu apakah sudah melaksanakan shalat atau belum. Demikian pula dalam shalat juga lupa, sudah sampai raka�at ke berapa, dan seterusnya.

Segera lupa tentang sesuatu kadang juga sangat besar kegunaannya. Misalnya orang yang mengalami kekecewaan oleh karena dibuat sakit hati oleh temannya atau orang lain, dengan lupa itu, maka rasa sakit hatinya juga akan segera hilang. Tidak bisa dibayangkan, apa jadinya jika seseorang tidak memiliki sifat lupa, maka akan berakibat apa saja yang menyedihkan akan dirasakan dalam waktu lama.

Sebaliknya, orang juga tidak boleh terlalu banyak lupa. Apalagi melupakan tugas, tanggung jawab, amanah, dan semacamnya. Orang yang melupakan hal demikian itu akan beresiko. Orang lain yang terkait dengan kelupaannya itu akan merasa dirugikan. Resiko itu akan semakin besar apabila yang dilupakan itu adalah terkait dengan atasan, pimpinan, atau bossnya.

Apalagi, jauh lebih berbahaya lagi jika yang dilupakan itu adalah hal yang amat prinsip dan mendasar dalam kehidupan, misalnya melupakan dirinya sendiri, keluarganya, dan apalagi tuhannya. Seseorang disebut mengalami keadaan lupa diri. Dirinya sendiri saja dilupakan, misalnya kesehatan dirinya sendiri saja tidak diurus hingga jatuh sakit. Oleh karena terlalu bersemangat untuk meraih sesuatu, hingga dirinya sendiri dikorbankan.

Lebih dari hal tersebut, resiko yang paling berbahaya adalah melupakan hidupnya. Mereka lupa bahwa hidup ini adalah ada batasnya, yaitu batas umurnya. Banyak orang melupakan bahwa hidup ini adalah sebentar. Oleh karena lupa akan keterbatasan umur itu, maka mereka melakukan apa saja bagaikan orang yang akan hidup selama-lamanya. Apa saja dikumpulkan, sekan-akan mereka tidak akan mati selama-lamanya. Harta, jabatan, dan berbagai fasilitas hidup yang sebenarnya sudah melimpah dan berlebihan, masih saja berusaha ditambah. Mereka lupa bahwa apa yang dikumpulkan itu sebenarnya tidak akan memberi manfaat bagi dirinya.

Menjadikan orang ingat dirinya sendiri dan apalagi terhadap tuhannya juga tidak mudah. Bahkan hingga sedang berada di kuburan pun, banyak orang melupakan bahwa pada suatu saat kehidupannya akan berakhir. Mereka mengira bahwa orang lain saja yang akan mengalami kematian, sementara itu dirinya sendiri tidak akan mengalaminya. Menjadi aneh, oleh karena sifat lupa itu, sekalipun sedang berada di kuburan pun, mereka lupa bahwa hidupnya akan berakhir.

Islam mengajarkan, agar setiap orang selalu mengingat akan dirinya sendiri dan apalagi terhadap tuhannya. Disebutkan di dalam kitab suci bahwa sangatg beruntung orang yang selalu mensucikan dirinya, mengingat Tuhan, dan menjalankan shalat. Lupa bukan persoalan sederhana, bahwa banyak orang mengalami kerugiaan atau kecelaan hanya oleh karena lupa itu. Lebih-lebih lagi adalah orang yang melupakan dirinya, amanah atau tanggung jawabnya, dan bahkan terhadap tuhannya, maka akan merasakan penderitaan yang tidak berkesudahan. Wallahu a�lam
Reaksi: