Pada hari ini, Senin tanggal 22 Agustus 2016, saya telah menulis artikel pendek dan sederhana pada setiap hari tanpa jeda, genap 3000 judul. Tulisan dimaksud saya posting melalui website UIN Malang, website pribadi saya sendiri dan juga melalui facebook. Oleh karena itu, semua tulisan dimaksud dapat dibaca kembali dari dokumen dimaksud.

Kegiatan menulis yang saya lakukan, pada awalnya hanya sebatas untuk mengisi waktu luang, yaitu pada pagi hari sekembali dari masjid, shalat subuh berjama�ah. Saya merasakan bahwa, kegiatan apa saja yang dilakukan secara rutin atau ajeg, akan menjadi terasa enak. Jika suatu kegiatan sudah menjadi kebiasaan dan telah berjalan dalam waktu lama, maka meninggalkannya akan menjadi tidak enak, atau paling tidak, ada sesuatu yang dirasakan kurang jika tidak dikerjakan. Begitu pula, kegiatan menulis pada setiap pagi itu.

Oleh karena sudah menjadi kebiasaan tersebut, maka menulis menjadi sebuah kebutuhan yang terasa harus saya lakukan pada setiap hari. Jika oleh karena sesuatu hal sehingga kegiatan rutin dimaksud tidak bisa saya lakukan, misalnya pagi-pagi harus berangkat pergi ke luar kota, maka hutang itu harus segera saya bayar pada saat sudah ada waktu untuk mengerjakannya. Manakala hutang itu sudah terbayar, artinya sudah menulis, maka terasa enak, yakni beban itu menjadi hilang. Pada umumnya, orang merasakan terbebani tatkala harus mengerjakan sesuatu. Namun ketika pekerjaan itu sudah menjadi rutin maka menjadi berbalik, yaitu terasa memiliki beban jika tidak atau belum mengerjakannya,

Secara material, kegiatan menulis tidak mendatangkan keuntungan apa-apa, atau tidak ada yang memberi upah, honor atau bayaran. Akan tetapi, setiap mengetahui bahwa tulisan itu ternyata ada yang orang membaca atau memanfaatkannya, maka terasa menyenangkan. Kepuasan dari merasakan telah memberi sesuatu, berkomunikasi atau bersillaturrakhiem dengan sesama, sekalipun sekedar melalui tulisan, adalah tidak ternilai harganya. Kebutuhan berkomunikasi dengan sesama menjadi terpenuhi melalui berbagai tulisan dimaksud.

Kegembiraan juga selalu saya peroleh ketika pada suatu saat berkesempatan membaca kembali tulisan yang sudah sekian lama saya buat. Oleh karena semua tulisan dimaksud terdokumentasi, baik yang ada di website atau berupa hasil print out, maka tidak sulit mendapatkannya kembali. Membaca tulisan tersebut selalu mendatangkan kegembiraan sendiri. Kegembiraan juga muncul ketika tulisan-tulisan dimaksud memberi manfaat lebih, misalnya ada seseorang yang mengedit, kemudian menerbitkan menjadi buku, dan yang bersangkutan memberi tahu bahwasanya, ia memperoleh keuntungan dari usahanya itu.

Dari kegiatan menulis secara rutin, dalam waktu sekian lama pada setiap hari tanpa pernah berhenti, saya juga mendapatkan pelajaran penting, yaitu menyadarkan bahwa sesuatu yang sebenarnya kecil, sederhana, dan mungkin juga semula tidak memiliki arti apa-apa, tetapi di kemudian hari, ternyata membawa manfaat yang tidak terhitung banyaknya. Seumpama tidak menulis pada setiap hari, saya tidak akan mungkin memiliki artikel hingga 3000 judul. Jumlah itu belum termasuk tulisan terdahulu, yang saya buat sebelum tersedia media sosial, seperti website, facebook, dan sejenisnya.

Benar apa yang pernah dianjurkan oleh Sahabat Nabi, yaitu Ali bin Abi Tholib, bahwa pikiran, ide, pandangan itu harus diikat. Mengikatnya adalah dengan menulisnya. Saya yakin setiap orang, dan apalagi yang bersangkutan sudah menjadi mahasiswa dan sarjana, pada setiap hari pasti memiliki ide, pandangan, dan atau pikiran yang cemerlang. Namun oleh karena tidak ditulis, atau dengan menggunakan istilah Ali Bin Abi Thalib tidak diikat, maka kekayaan intelektual yang sebenarnya berharga mahal itu, menjadi hilang percuma. Selain itu, oleh karena tidak ditulis, selain menjadi hilang percuma, juga tidak mendatangkan kebahagiaan. Wallahu a�lam

Sumber : imamsuprayogo.com
Reaksi: