Siapapun yang sedang menduduki posisi penting sebagai pemimpin, pasti berharap agar kepemimpinannya sukses. Keberhasilan itu akan dicapai manakala mereka yang sedang dipimpin menjalankan tugas dan fungsinya secara maksimal. Para bawahan atau stafnya diharapkan bersedia bekerja keras, memiliki momitmen dan integritas yang tinggi, serta mengikuti atau loyal kepada pemimpinnya.

Menjadikan semua orang bersedia bekerja sebagaimana, yang di antara disebutkan itu, ternyata tidak selalu mudah. Itulah sebabnya, banyak pemimpin yang merasakan bahwa pekerjaan yang paling berat adalah memotivasi dan mendorong para bawahannya agar bersedia menjalankan tugas dan fungsinya semaksimal mungkiin. Berbagai cara dilakukan, misalnya melalui pendekatan peraturan, kesejahteraan, sampai pada pelatihan, dan lain-lain.

Mendisiplinkan para bawahan agar datang dan pulang tepat waktu, pada akhir-akhir ini, banyak instansi atau kantor baik pemerintah maupun swasta, menggunakan mesin kontrol kehadiran, berupa fingerprint, dan semacamnya. Akan tetapi, oleh karena mesin kontrol itu hanya menyentuh aspek fisik dan bukan pada hati, maka tidak sedikit pegawai yang kemudian juga mengakali mesin dimaksud. Misalnya, pagi-pagi para pegawai datang untuk menekan tombol fingerprint, tetapi setelah itu mereka kembali pulang. Sekalipun tidak semua, akal mereka ternyata digunakan untuk mengakali mesin pengontrol kehadiran itu.

Menyangkut kedisiplinan kerja, seolah-olah yang harus selalu dimaksimalkan adalah para bawahan. Sebaliknya, para atasan atau pemimpin dianggap dengan sendirinya sudah maksimal kerjanya. Padahal sebenarnya, kualitas kerja para staf atau bawahan itu sendiri amat tergantung pada pimpinannya. Suatu ketika saya didatangi oleh pimpinan lembaga pendidikan, meminta saya memberikan motivasi kepada para staf pengajar dan karyawannya agar mereka bekerja maksimal.

Pemimpin lembaga pendidikan tersebut mengira bahwa merosotnya semangat kerja disebabkan oleh faktor psikologis para gurunya itu sendiri. Atas dasar pandangan itu, maka pimpinan lembaga pendidikan dimaksud, melalui saya, merasa perlu memotivasi dan pencerahan. Padahal dari berbagai informasi yang saya peroleh, kemerosotan itu sebenarnya justru bersumber dari kepemimpinan lembaga pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, diberikan pengarahan dan pencerahan seperti apapun, jika gaya kepemimpinan tersebut tidak diubah, yaitu masih keras kepala, tidak demokratis, tidak mau menghargai para guru, selalu menuntut tetapi tidak memperhatikan hak-hak mereka, dan seterusnya, maka kualitas kerja mereka tidak akan berubah.

Rendahnya semangat dan motivasi kerja di lembaga pendidikan tersebut sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinannya, dan bukan oleh mereka yang dipimpin. Kepemimpinan dalam berbagai teori organisasi selalu dipandang strategis dan menentukan. Kualitas pemimpin itulah sebenarnya yang selalu mempengaruhi kualitas kerja para bawahannya. Oleh karena itu untuk menghidupkan dan memajukan institusi dimaksud, cara yang paling tepat dan strategis adalah mengubah gaya kepemimpinan lembaga pendidikan itu sendiri.

Setiap berbicara tentang dominannya posisi pemimpin dalam organisasi, saya selalu teringat apa yang saya alami sendiri ketika masih usia anak-anak, berada di pedesaan, dan ditugasi oleh orang tua untuk memelihara berbagai jenis ternak, seperti bebek, kerbau, kuda, sapi, kambing, dan lain-lain. Pengalaman yang cukup lama menjadi penggembala, saya memperoleh kesimpulan bahwa perilaku berbagai jenis ternak ternyata juga dipengaruhi oleh penggembalanya. Jika penggembalanya berperilaku sabar, lembut, dan menunjukkan kasih sayang, maka ternak juga akan berperilaku jinak dan menurut. Sebaliknya, jika ternak diperlakukan dengan cara kasar, maka ternak juga akan berperilaku keras atau binal.

Hal demikian tersebut juga mirip dengan cerita yang saya dapatkan dari guru mengaji ketika saya belajar di madrasah diniyah. Guru saya dimaksud bercerita bahwa Nabi dulu semasa masih kecil diberi tugas untuk mengembala kambing. Ternak yang sulit diatur tersebut ternyata bukan miliknya sendiri, tetapi juga milik beberapa orang dengan pengembala yang berbeda-beda. Pemilik kambing tersebut merasakan dengan jelas, bahwa ternyata kambing yang digembala oleh Muhammad, semasa ia masih kecil dan belum menjadi rasul, ternyata perilakunya berbeda dari kambing yang digembala oleh selainnya. Kambing yang dipelihara oleh Muhammad, ternyata dirasakan lebih jinak dan menurut.

Mendasarkan pengalaman dan juga cerita yang disampaikan oleh guru mengaji tersebut, saya mendapat pelajaran penting, bahwa perilaku binatang saja bergantung pada pengembalanya. Binatang ternak yang tidak bisa berpikir, sebagaimana manusia, siapapun penggembalanya, seharusnya perilakunya tidak berubah-ubah. Akan tetapi, berbeda penggembala, ternyata perilaku ternak saja juga berbeda. Oleh karena itu, sebagai catatan penting bagi para pemimpin, ���-jenis pemimpin apapun, seharusnya menyadari bahwa perilaku orang yang sedang dipimpin sangat tergantung pada perilaku dan karakter pemimpinnya sendiri. Maka, upaya memperbaiki semangat kerja anak buah, sebagai pemimpin tidak perlu merasa sulit, yaitu bisa ditempuh dengan terus menerus berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Wallahu a�lam

sumber :  Imamsuprayogo.com
Reaksi: