Akhir-akhir ini semakin terasa adanya gejala saling berolok-olok dalam beragama. Sementara atau sekelompok orang menganggap bahwa cara beragama yang dilakukannya sudah benar, tetapi dipandang kurang tepat oleh orang atau kelompok lain. Padahal cara yang dilakukan dimaksud sudah berjalan bertahun-tahun dan bahkan juga dari generasi ke generasi. Oleh karena itu ketika apa yang dilakukan itu dianggap keliru, maka yang bersangkutan akan merasa tidak enak, tersinggung, dan bahkan menjadi marah.

Perbedaan pengertian atau pandangan tentang agama sebenarnya sudah sejak lama. Semasa Nabi, yakni pada saat pembawa ajaran agama itu masih hidup, perbedaan itu sebenarnya sudah ada. Akan tetapi jika hal itu terjadi di kalangan pengikutnya, maka Nabi segera dan selalu memberikan penjelasan hingga perbedaan itu segera teratasi. Sebagai seorang Nabi selalu berhasil menjaga perasaan kedua belah pihak yang sedang berbeda itu.

Sebagai contoh, dalam suatu kisah, ketika pada suatu saat para sahabat berkumpul membicarakan sesuatu dan kemudian datanglah waktu shalat, segeralah mereka shalat bersama. Oleh karena kekurangan air, maka mereka sepakat bersuci dengan bertayamum. Namun sebelum waktu shalat habis, ternyata turun hujan, dan tentu tersedia air untuk berwudhu. Maka muncullah perbedaan pendapat. Sebagian menyatakan, shalat harus diulang kembali dengan berwudhu�. Namun sebagian lain menganggap tidak perlu, oleh karena sudah menunaikan shalat sekalipun hanya bersuci dengan bertayamum.

Perdebatan terjadi terkait apakah shalat seharusnya diulang setelah ada air atau tidak. Untuk mendapatkan kepastian terhadap siapa yang benar, mereka mengadu kepada Nabi. Ternyata, Nabi menjelaskan bahwa keduanya betul, baik yang mengulangi shalatnya maupun yang tidak. Atas penjelasan tersebut akhirnya keduanya merasa mendapatkan pengakuan, dan terpeliharalah di antara mereka suasana damai. Islam memang hadir untuk kedamian dan bukan untuk saling konflik, bertikai, dan apalagi bermusuhan dalam soal menjalankan agama.

Problem yang bersumber dari perbedaan pandangan tersebut ternyata selalu terjadi dan tidak mudah selesai, oleh karena tidak ada lagi orang atau pihak yang mendamaikan. Masing-masing kelompok atau pihak mengklaim bahwa dirinya paling benar dan yang lain keliru. Beragama yang seharusnya agar menjadikan di antara sesama selalu bersatu, hidup damai, saling menghargai, dan berbagi kasih sayang, ternyata tidak jarang justru menjadi sebab mereka bertikai dan bermusuhan.

Saling curiga mencurgai, tidak percaya, sakwasangka, dan sejenisnya di antara kelompok yang berbeda dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Seolah-olah bercerai-berai dalam beragama dianggap bukan sebagai sesuatu yang dilarang. Padahal, agama sendiri mengajarkan di antara sesama agar saling bersatu dan tidak boleh bercerai berai. Diingatkan bahwa dengan bercerai berai, maka umat akan menjadi lemah. Namun peringatan tersebut ternyata tidak mampu menjauhkan dari semangat untuk mendapatkan kemenangan dan atau keunggulan kelompoknya masing-masing.

Akhirnya, agama dijadikan bahan olok-olokan dan menjatuhkan pihak lain. Ajaran yang sedemikian mulia dijadikan kekuatan untuk memperoleh kemenangan di dunia. Padahal, agama seharusnya diposisikan sebagai jalan menuju kemenangan di akherat kelak. Mungkin saja oleh sementara kalangan, konflik itu dipahami sebagai cara membela agamanya. Padahal, agama tidak memerlukannya. Sebaliknya, agama justru menghendaki agar umat menjadi bersatu, damai, saling bertolong menolong, dan berbagi kasih sayang. Wallahu a�lam
 
sumber ; metrojambi.com
Reaksi: