Jangan dikira bahwa melihat kesalahan pada diri sendiri itu mudah, ternyata tidak semua orang mampu melakukannya. Seseorang dengan mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak demikian itu ketika harus melihat dirinya sendiri,� Hal demikian itu tidak terkecuali pada persoalan agama yang dianut. Banyak orang menganggap bahwa dalam menjalankan agama, dirinya sudah merasa benar, sementara agama orang lain masih keliru.

Perasaan bahwa dirinya sudah benar dan sebaliknya orang lain masih salah itulah sebenarnya yang seringkali melahirkan konflik dan atau perpecahan di kalangan umat. Padahal agama tidak menyuruh agar mengoreksi orang lain, melainkan justru agar supaya mengoreksi dirinya masing-masing. Selain itu, agama juga tidak menganjurkan seseorang memperbaiki orang lain, tetapi yang lebih utama adalah agar supaya memperbaiki dirinya sendiri.

Sudah barang tentu, tugas memperbaiki diri sendiri itu dapat berhasil ditunaikan manakala yang bersangkutan mengetahui kesalahan atau kekurangan yang ada pada dirinya. Sementara itu, sebagaimana disebutkan di muka, bahwa tidak mudah melihat kesalahan dirinya sendiri. Seakan-akan apa yang dilakukannya sudah benar, padahal justru masih banyak kekurangannya. Sebaliknya, orang lain yang dikira keliru, sudah memperoleh manfaat dari keberagamaannya.

Melihat sesuatu bagi siapapun tidak selalu mudah. Jangankan melihat sesuatu yang jauh, mengetahui bagian fisik tertentu tentang dirinya sendiri saja, seseorang tidak mampu, kecuali menggunakan alat bantu, kaca misalnya. Apalagi melihat hal-hal yang bersifat non fisik, misalnya perangai, sifat, karakter, dan sejenisnya. Seseorang tidak mengerti bahwa dirinya bersifat pemarah, pendendam, iri hati, takabur, dan sejenisnya. Sifat-sifat yang dimaksudkan tidak mudah diketahui oleh yang bersangkutan sendiri.

Akibat dari tidak mudah melihat dirinya sendiri, maka seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya masih menyandang banyak kekurangan, kelemahan, dan bahkan juga kesalahan. Kekurangan informasi tentang dirinya sendiri itu, pada umumnya, adalah sebagai akibat dari kesalahannya sendiri. Kebanyakan orang lebih suka melihat orang lain dibanding melihat terhadap dirinya sendiri. Itulah sebabnya, sampai al Qur�an memerintahkan agar orang pada setiap hari melihat dirinya sendiri. Sebaliknya, tidak memerintahkan agar melihat orang lain.

Akan tetapi yang terjadi adalah justru sebaliknya, yaitu kebanyakan manusia lebih menyukai melihat orang lain daripada melihat dirinya sendiri. Akibatnya, seseorang lebih mudah menjelaskan tentang orang lain, ���termasuk kesalahannya, dibanding dengan kesalahan dirinya sendiri. Padahal kemampuan melihat kelemahan, kekurangan, dan bahkan kekurangan terhadap diri sendiri adalah sebagai modal utama untuk melakukan koreksi atau perbaikan.

Manusia memiliki dimensi yang sedemikian luas, baik menyangkut aspek dhahir maupun batin. Dimensi yang sedemikian luas itu menjadikan dirinya sendiri saja tidak selalu sempurna dalam melihatnya. Mengira bahwa yang dilakukannya sudah benar, padahal sebenarnya yang dimaksud benar itu adalah baru pada aspek dhahirnya, sementgara itu batinnya masih belum tersentuh. Mungkin saja aspek gerakan fisik dan ucapannya dalam menjalankan shalat misalnya, sudah sempurna, tetapi belum tentu menyangkut aspek batinnya sudah tepat.

Memahami aspek fisiknya saja seseorang tidak mudah, maka apalagi aspek batin yang berada pada wilayah paling dalam, tentu tidak semua orang mampu menjangkaunya. Jika demikian itu yang sebenarnya terjadi, maka memang melihat diri sendiri bukan perkara mudah, dan apalagi menyangkut wilayah yang paling dalam sebagaiamana dimaksudkan itu. Oleh karena itu, sibuk mengoreksi orang lain hanya akan merugikan dirinya sendiri. Seseorang tidak disuruh membaca atau melihat orang lain, tetapi justru dianjurkan agar melihat apa yang ada pada dirinya sendiri. Tentu, bagi siapa saja hal itu juga bukan merupakan pekerjaan yang mudah dilakukan. Wallahu a�lam.

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: