Sri Mulyani Indrawati saat pengumuman perombakan kabinet atau reshuffle jilid II di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (27/7/2016).Foto: RAKA DENNY/JAWAPOS
Sri Mulyani Indrawati saat pengumuman perombakan kabinet atau reshuffle jilid II di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (27/7/2016).Foto: RAKA DENNY/JAWAPOS
JAKARTA - Pasar saham menguat cukup signifikan menyambut perubahan susunan kabinet pemerintahan Presiden Jokowi. Terutama atas kehadiran Sri Mulyani di pos menteri keuangan sehingga diyakini lebih menguatkan program amnesti pajak.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menyentuh level psikologis 5.300 saat menguat 1,25 persen di tengah perdagangan saham kemarin.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyebut pengumuman kabinet oleh Jokowi kemarin sebagai reshuffle terbaik di negeri ini sepanjang sejarah.

’’Timing tepat untuk kesempatan yang tepat. Sri Mulyani dikenal keras, firm (pasti), lurus. Pak Bambang (Brodjonegoro) juga begitu. Tapi, Sri Mulyani itu ada (unsur) menakutkannya,’’ ujarnya di gedung BEI kemarin (27/7).

Hal itu, menurut dia, membuat orang, terutama pelaku pasar, lebih optimistis program amnesti pajak berjalan lebih sukses sesuai dengan rencana.

Di sisi lain, masih ada tiga titik kelemahan di negara ini yang sedang terus diperbaiki. Yaitu, perencanaan yang kurang matang, konstruksi hukum yang kurang kuat, dan distribusi pangan.

Wajah-wajah baru di kabinet memberikan harapan adanya perbaikan pada titik-titik kelemahan tersebut.

’’Yang menarik, buat saya, reshuffle ini membuktikan betapa kuatnya Presiden Jokowi. Stabilitas di antara para menteri dengan masuknya Wiranto dan adanya Pak Luhut. Pembagian antarpartai juga bagus,’’ ungkapnya.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih justru menilai kehadiran Sri Mulyani lebih dari sekadar menyukseskan program amnesti pajak.

’’Sri Mulyani justru akan berperan dalam bagaimana selanjutnya jika program amnesti pajak kurang maksimal. Itulah yang diharapkan darinya,’’ ucapnya kepada Jawa Pos kemarin.

Terlebih, meski perekonomian terus membaik, Indonesia masih mencatatkan defisit Rp 230 triliun dan penerimaan pajak turun. Pengelolaan fiskal agar risikonya bisa diminimalkan itulah yang paling penting. Sri Mulyani memang dianggap memberikan harapan perbaikan.

Secara umum, Lana menilai positif wajah baru Kabinet Kerja Jokowi. Di pos bidang industri, menteri perindustrian yang diamanatkan kepada Airlangga Hartarto diharapkan bisa mengisi kebolongan di industri menengah.

Setelah ini, Lana berharap pemerintah Jokowi sampai 2019 sudah tidak sering melakukan reshuffle. Terutama berkaitan dengan mekanisme dan berkaitan langsung terhadap perekonomian.

’’Dulu presiden memang berjanji, jika ada yang performanya, tidak bagus akan diganti. Tapi, kalau setiap tahun ganti, terlalu pendek untuk menilainya. Khawatirnya jadi tidak ada kepastian dari aspek birokrasi,’’ pikirnya. (byu/lum/owi/wan/jun/gen/dee/dyn/far/bil/mia/kim)

Sumber : Jpnn.com
Reaksi: