Beberapa hari berada di Makkah pada akhir Bulan Ramadhan, saya menyaksikan suasana masjidil Haram agak berbeda dibanding tempat ibadah di Indonesia pada umumnya. Pada akhir bulan tersebut di Indonesia banyak tempat ibadah semakin sepi, sehingga para muballigh atau penceramah mengkritik dan mengeluhkan bahwa semakin memasuki masa akhir Bulan Ramadhan maka tempat ibadah semakin kekurangan jama�ah. Pada awal bulan, masjid atau mushalla penuh dan bahkan tidak memapu menampung jama�ah, maka semakin bertambah hari justru jumlah tersebut semakin berkurang.

Sebaliknya muncul fenomena lainnya, pengunjung pertokohan, mall, atau tempat perbelanjaan lainnya, justru jumlahnya meningkat tajam. Apakah peningkatan jumlah pengunjung tempat perbelanjaan itu sebenarnya adalah berasal dari mereka yang semula menjadi jama�ah tarweh di masjid atau di mushalla, selama ini belum ada data yang digunakan untuk menjawabnya. Akan tetapi itulah keadaan pada umumnya. Di awal Bulan Ramadhan jama�ah di tempat ibadah meningkat, namun semakin hari jumlah tersebut berkurang, dan ternyata sebaliknya mereka yang berada di tempat perbelanjaan pada jam yang sama meningkat.

Apa yang terjadi di Masjidil Haram, Makkah, keadaan jama�ahnya ternyata justru sebaliknya. Semakin mendekati akhir Bulan Ramadhan, maka jumlah jama�ah semakin banyak. Masjid semakin tidak mampu menampung jama�ah lagi. Bahkan, mereka tidak mau meninggalkan masjid. Mereka itu melakukan apa yang disebut dengan i�tikaf. Kegiatan mereka di tempat ibadah itu adalah membaca al Qur�an, berdzikir, shalat, dan tentu juga beristirahat. Sekalipun terdapat sekian besar jumlah orang, namun anehnya, tidak terlalu terdengar suara orang berbicara, kecuali bacaan al Qur�an dengan suara amat pelan.

Ketika sedang berada di masjid tersebut, mereka tidak ada pembicaraan kecuali seperlunya di antara sesama yang mereka kenal saja. Pada saat itu, urusan yang menyangkut keduniaan ditinggalkan. Mereka berada di masjid untuk beribadah, mendekatkan diri pada Allah, agar menjadi orang bertaqwa. Bahkan pada saat menjelang berbuka bersama, tampak sekali suasana keindahan yang menyangkut tentang hubungan antar orang. Mereka yang berpunya memberi kepada yang membutuhkannya. Pada saat berbuka puasa itu, bahwa yang pasti dibutuhkan orang adalah makanan dan minuman. Maka, pada saat itulah, siapapun yang sedang berada di masjid tidak akan ada yang terlantar, karena tidak kebagian makanan, misalnya. Sebab, di seluruh tempat di masjid itu, orang menyediakan takjil untuk berbuka.

Sekalipun oleh karena ukuran besarnya, Masjidil Haram mampu menampung hingga beberapa juta orang, namun ternyata tidak ada tempat yang kosong atau tersisa. Semua tempat terpenuhi jama�ah, hingga jauh di halaman masjid. Pada menjelang akhir Bulan Ramdhan, orang-orang Saudi sendiri dan sekitarnya, datang ke masjid yang mulia itu. Itulah sebabnya, semakin mendekati hari raya idul fitri, maka keadaan masjid semakin dipenuhi oleh jama�ah, dan bukan justru sebaliknya. Maka menjadi tampak dan terasa, semakin bertambah hari pada Bulan Ramadhan hingga menjelang akhir, suasana beribadah di Masjidil Haram semakin meningkat. Sebaliknya, tempat perbelanjaan semakin sepi dan tidak menarik. Seolah-olah keadaan itu berbicara, bahwa Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat digunakan untuk meningkatkan ketaqwaan sebagai bekal nanti di akherat menghadap Allah.

Keadaan yang terasa indah tersebut ternyata belum sepenuhnya berhasil ditunjukkan oleh umat Islam di Indonesia. Menjelang akhir Bulan Ramadhan, tempat ibadah justru semakin berkurang jumlah jama�ahnya. Sebaliknya, sebagaimana disebutkan di muka, banyak tempat perbelanjaan, misalnya pasar, pertokoan, mall, dan semacamnya, semakin dipenuhi jumlah pengunjung. Sudah barang tentu, mereka berbelanja juga masih ada kaitannya dengan ibadah puasa dan hari raya. Mereka membeli pakaian dan apa saja lainnya yang berhubungan dengan hari raya. Mungkin saja, mereka berpikir bahwa puasa dan hari raya harus dihormati dan dirayakan. Namun, mereka mengira bahwa cara menghormatinya adalah dengan berbaju dan penampakan lainnya yang serba baru. Padahal seharusnya bukan demikian itu. Menghormatinya adalah dengan peningkatan perilaku ketaqwaan, yaitu misalnya semakin rajin beribadah, semakin mencintai Al Qur�an, semakin mencintai masjid, semakin mencitai sesama, dan semakin meningkat keimanan, maupun keshalehannya. Wallahu a�lam
 
Reaksi: