Tulisan berikut bukan akan menyoroti sesuatu dari aspek hukumnya, yaitu antara boleh dan tidak boleh, tetapi hanya sekedar menunjukkan bahwa di mana-mana, orang yang berkeinginan mendapatkan efisiensi, termasuk dalam beribadah ternyata selalu ada, tidak terkecuali bagi orang-orang yang sedang berada dekat dengan Masjidil Haram. Pada saat umrah beberapa hari yang lalu, saya kebetulan menginap di salah satu hotel mewah. Letak hotel itu memang agak jauh dari Masjidil Haram, kurang lebih satu kilometer.

Menginap di hotel mewah, ���tidak perlu saya tunjukkan namanya, bukan oleh karena, saya memiliki banyak uang, tetapi sudah dibayari oleh pihak yang mengundang. Saya hanya mengikuti petunjuk pihak yang menghadirkan ke tempat yang mulia itu, baik yang terkait tentang tempat penginapan, jenis pesawat yang harus ditumpangi, dan berbagai fasilitas lainnya. Tentu semua fasilitas yang disediakan tidak ada sedikitpun yang mengecewakan.

Sekalipun jarak antara hotel dan Masjidil Haram agak jauh, yakni sekitar 1 km tersebut, tetapi jarak dimaksud tidak menjadi penghalang oleh karena pihak hotel menyediakan fasilitas kendaraan, berupa bus kecil yang pada setiap saat bisa mengantar dan juga sebaliknya menjemput. Selain itu, di lingkungan hotel juga disediakan tempat khusus atau masjid untuk shalat berjama�ah. Masjid di lingkungan hotel itu agak aneh, tidak disediakan tempat imam shalat, melainkan dilengkapi dengan kaca tembus pandang berukuran lebar, sehingga dapat digunakan untuk melihat dari jauh suasana masjidil Haram.

Siapa saja yang sedang shalat berjama�ah di masjid yang berada di hotel itu tidak lagi memerlukan imam tersendiri. Mereka bermakmum kepada imam shalat yang ada di Masjidil Haram. Hal demikian itu oleh mereka dianggap tidak mengapa, asalkan makmum bisa mendengarkan suara imam, dan juga bisa melihat baris paling belakang jama�ah shalat di masjid. Tentang suara imam bisa didengarkan melalui peralatan canggih yang berada di hotel itu, sementara baris atau shaf paling belakang, sekalipun jaraknya jauh, bisa dilihat melalui kaca berukuran lebar sebagaimana disebutkan di muka.

Rekayasa tersebut itulah yang bisa dianggap sebagai cara untuk mendapatkan efisiensi, yaitu memilih yang termudah, lebih enak, dan tidak banyak memakan waktu. Bagi siapa saja yang berada di hotel, dapat ikut berjama�ah, mengikuti imam shalat di Masjidil Haram. Mungkin saja, cara ini diusahakan oleh pihak hotel, agar fasilitas penginapan itu, sekalipun jaraknya jauh dari masjid masih tetap laku. Saya sendiri, oleh karena ada kendaraan berupa bus yang disediakan oleh hotel, selalu berusaha berjama�ah ke Masjidil Haram. Mengetahui apa yang selalu saya lakukan tersebut, ��pada suatu saat, seseorang menanyakan, mengapa tidak berjama�ah di masjid hotel saja, dengan alasan lebih enak dan efisien.

Pertanyaan tersebut saya jawab bahwa, shalat di Masjidil Haram terasa lebih enak, damai, dan menjadi teduh di hati. Selanjutnya, saya menambahkan jawaban itu bahwa secara fisik, shalat di hotel lebih efisien dan sangat enak. Menuju ke tempat shalat, sekedar keluar kamar dan melalui fasilitas lift bisa sampai ke masjid hotel. Tempatnya juga bersih dan sangat indah. Akan tetapi, secara batin atau suasana hati terasa sekali, bahwa shalat di dalam Masjidil Haram menjadi jauh lebih nikmat. Sekalipun harus berjalan jauh, dan harus mencari tempat di dalam masjid yang juga tidak selalu mudah, yakni harus berjalan ke sana dan kemari, tetapi kelelahan itu selalu terbayar oleh perasaan enak, teduh, dan menjadi terasa lebih khusu�.

Mungkin saja efisiensi itu tepat diusahakan untuk urusan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan bahkan juga emosi. Akan tetapi, kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat spiritual atau ritual, maka tidak mudah direka-reka, agar lebih efisien. Kegiatan ritual, oleh karena mengikut-sertakan aspek batin, hati, atau ruh, maka memerlukan suasana khas, dan bukan ditentukan oleh keindahan tempat dan apalagi hanya pertimbangan efisiensi. Mungkin itulah sebabnya, banyak orang, sekalipun berjarak jauh dan berbiaya mahal, mereka datang ke Masjidil Haram dan ke Masjid Nabawi, dengan maksud agar bisa shalat di tempat itu. Semangat datang ke tanah suci, kiranya bukan hanya atas pertimbangan bahwa pahalanya berlipat hingga ribuan kali, melainkan mereka ingin mendapatkan suasana teduh, damai, dan khusu�. Maka, mengedepankan prinsip efisiensi dalam beribadah sebenarnya tidak terlalu tepat. Wallahu a�lam
Reaksi: