Dalam banyak hal, umat Islam mengalami ketertinggalan dibanding umat lainnya. Banyak negara yang penduduknya mayoritas muslim masih mengalami ketertinggalan baik di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, dan lain-lain. Persoalan itu semua masih diperparah lagi oleh adanya berbagai konflik yang tidak mudah diselesaikan, misalnya di Irak, Yaman, Sudan, Libya, Syuriah, Mesir, dan lain-lain.

Sudah barang tentu, penderitaan akibat konflik itu tidak bisa dibayangkan. Konflik atau bahkan perang dimaksud tidak saja membawa kurban kematian dalam jumlah besar, cacat, kelaparan, tetapi rakyat yang masih hidup juga harus menanggung derita hingga tidak jelas kapan berakhir. Membangun kembali pemerintahan, sosial, politik dan ekonomi yang telah porak poranda seperti di Irak, Yaman dan Libya misalnya, adalah bukan pekerjaan mudah. Proses membangun kembali tersebut juga membutuhkan proses yang tidak mudah dilakukan.

Konflik yang mengakibatkan penderitaan kuar biasa di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim tersebut ternyata belum menjadi pelajaran bagi umat Islam sendiri. Semangat untuk menunjukkan keunggulan dan menang sendiri belum mampu mengalahkan kebutuhan akan ketenangan, kedamaian, dan bahkan juga anjuran kitab suci dan Hadits Nabi untuk membangun persatuan sesama muslim Perbedaan madzhab, golongan atau aliran, misalnya antara sunny dan syi�ah, wahabi, dan lain-lain dijadikan alasan untuk saling bermusuhan.

Padahal sudah menjadi pengetahuan umum yang sedemikian jelas bahwa perpecahan, permusuhan atau konflik di antara umat Islam selalu menjadi pintu masuk bagi orang luar untuk memperlemah dan memporak-porandakan keadaan. Kadang terasa aneh, kebencian di antara madzhab, kelompok atau golongan di internal umat Islam sendiri melebihi terhadap agama lain. Sementara orang bisa melakukan kebersamaan di antara pemeluk agama yang berbeda tetapi tidak mudah bersatu dan apalagi bekerjasama di antara mereka yang berlainan madzhab, aliran atau golongan dalam agama yang sama.

Mengacu pada ajaran Islam, yaitu al Qur�an dan Hadits Nabi, sebenarnya tidak mudah memahami konflik dan atau perpecahan tersebut. Al Qur�an dan Hadits Nabi mengajarkan bahwa antar umat manusia harus saling kenal mengenal dan juga bersatu. Diperkenalkan oleh al Qur�an bahwa manusia berasal dari nenek moyang yang sama, menempati bumi yang sama, dan menjalani umur yang terbatas. Lebih dari itu, di antara sesama muslim hendaknya dipandang sebagai saudara, dan oleh karena itu seharusnya saling berbagi kasih sayang dan bertolong menolong.

Bermusuhan di antara sesama muslim bukan merupakan perintah dan apalagi bersumber dari ajaran Islam. Sebaliknya, Islam justru melarang saling bermusuhan. Oleh karena itu, memandang bahwa konflik atau permusuhan di antara umat Islam sendiri sebagai bagian dari upaya membela Islam, adalah tidak tepat. Sebaliknya, perpecahan dan konflik itu pasti memperlemah umat Islam sendiri. Selain itu, tidak pernah ada konflik dan apalagi perang menghasilkan kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran. Konflik selalu melahirkan resiko berupa penderitaan dan kemunduran yang luar biasa.

Oleh karena itu, persoalan berat yang kini dihadapi oleh umat Islam adalah perpecahan itu. Manakala tidak segera diperoleh jalan kompromi untuk mempersatukannya, maka umat Islam akan semakin mundur, terbelakang, dan bahkan menghadapi ancaman atau resiko luar biasa besarnya. Perselisihan di antara umat Islam akan membuat mereka sendiri semakin menderita dan lemah. Oleh karena itu, cara terbaik dan menyelamatkan bagi semua adalah bersatu. Di antara yang merasa berbeda hendaknya mengurangi sakwasanghka, tidak menganggap bahwa yang lain dan atau yang berbeda adalah salah, keliru, dan rendah. Manakala hal demikian itu bisa diselesaikan, umat Islam masih berpeluang semakin maju dan menjadi yang terbaik. Wallahu a�lam

Sumber : Jpnn.com
Reaksi: