Saya memperoleh keterangan dari al Qur�an bahwa shalat yang berpengaruh pada perilaku sehari-hari adalah shalat khusu�. Selama ini saya juga memperoleh penjelasan bahwa shalat disebut dapat menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Sudah sekian lama, shalat itu saya jalankan, akan tetapi secara jujur, saya harus mengakui bahwa masih banyak perbuatan maksiyat yang saya lakukan. Seakan-akan, ���-atau memang demikian, shalat saya belum mampu mencegah atau apalagi menjauhkan diri saya dari perbuatan buruk, baik keburukan anggota badan, ucapan, dan apalagi perbuatan hati atau maksiyat batin.

Sebenaranya sudah sekian lama saya mencari cara, tentang shalat khusu� itu. Banyak orang menawarkan cara itu, baik melalui perbinacangan pribadi, ceramah, atau juga kursus tentang shalat khusu�. Selain itu, melalui berbagai perbincangan, ternyata banyak orang yang sebenarnya mengalami kegelisahan seperti yang saya rasakan. Shalat tidak pernah khusu� bukan saja dialami sebagian orang, tetapi ternyata oleh sedemikian banyak orang. Shalat akhirnya hanya sebatas untuk menunaikan kewajiban. Oleh karena diwajibkan shalat, maka kemudian dijalankannya. Kualitas shalat dimaksud tidak selalu dipikirkan. Sejak membaca takbiratul ikhram hingga membaca salam, sebagai penutup shalat, kadang tidak sadar bahwa kegiatan itu seharusnya diliputi oleh suasana sakral, karena sedang menghadap dan bertemu Allah dan Rasul-Nya.

Namun dari pengalaman panjang, bertahun-tahun menjalankannya, terasa shalat seolah-olah hanya kegiatan biasa. Selesai shalat tidak pernah merasa bertemu siap-siapa. Yang penting bahwa shalat telah berhasil ditunaikan. Akan tetapi, sesekali terbetik dalam pikiran, sebuah pertanyaan, apakah shalat yang saya lakukan benar-benar telah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh perintah Rasulullah. Pada saat-saat tertentu di dalam merenung, batin saya sendiri mengatakan bahwa, shalat yang saya lakukan sebenarnya belum sampai pada sasaran yang sebenarnya. Akan tetapi saya sadar, betapa beratnya meraih kekhusu�an itu. Maka, apa boleh buat, itulah maksimal yang berhasil saya lakukan sepanjang hidup ini.

Berkali-kali dan kadang dalam waktu lama, saya merenungkan tentang rendahnya kualitas shalat yang berhasil saya lakukan. Kadang saya tertarik oleh kritikan para mubaligh ketika berceramah. Mereka mengkritik, shalat seseorang yang dilakukan dengan tidak khusu�. Penceramah itu menyindir bahwa banyak orang yang dalam keadaan sedang shalat tetapi pikirannya di pasar, di jalan, di kebun, di sekolah, di kantor, dan lain-lain. Disebutkan bahwa shalat yang demikian itu tidak benar dan tidak khusu�. Akan tetapi mubaligh dimaksud juga tidak memberi penjelasan yang mudah dan bisa dijalankan, tentang bagaimana seharusnya menjalankan shalat khusu� itu sendiri. Mereka juga tidak memberikan pengalaman kongkrit, bagaimana agar shalat itu berhasil menjadi khusu�. Mungkin saja cara dimaksud tidak diterangkan, oleh karena yang bersangkutan, kemungkinan juga masih belum berhasil menjalankannya secara khusu�.

Di tengah-tengah upaya pencaharian cara menjalankan shalat khusu� itu, saya berusaha mengingat kembali berbagai pengalaman menjalankan shalat yang saya rasakan sendiri bisa khusu�. Pengertian khusu� yang saya maksudkan di sini sebenarnya juga masih terbatas. Yaitu ketika sedang shalat, maka pikiran, perasaan, dan ingatan saya, lebih banyak kepada aktifitas shalat itu sendiri, dan bukan sebagaimana biasanya kepada berbagai hal, sebagaimana yang saya sebutkan di muka. Dari menginventarisasi pengalaman selama ini, yang saya rasakan sebagai berhasil memperoleh kekhusu�an, ���-dalam pengertian sederhana itu, ialah tatkala shalat itu saya lakukannya di depan ka�bah atau baitullah. Pada waktu shalat di tempat itu, merasakan sekan-akan atau seolah-olah, saya bertemu dengan Dzat Yang Maha Kuasa dan juga Rasul-Nya.

Perasaan tersebut tidak pernah saya alami kapan dan di mana saja ketika sedang shalat di selain tempat itu, sekalipun juga pada saat sedang shalat malam. Atas pengalaman yang saya peroleh itu, terbayang andaikan sehari-hari, saya bisa shalat di depan baitullah, maka keinginan khusu� dalam menjalankan shalat akan terpenuhi. Namun hal itu tidak akan mungkin terlaksana, karena saya bukan penduduk di sekitar Masjidil Haram. Sekalipun demikian, persoalan itu menemukan jawaban, sekalipun sederhana oleh karena juga melalui perenungan dan logika sederhana. Logika saya mengatakan bahwa dalam setiap shalat, siapapun harus menghadap ke kiblat, atau baitullah. Tentu, di balik ketentuan itu terdapat makna yang harus dihayati, yaitu bahwa setiap orang yang sedang menjalan shalat, tidak saja fisiknya yang menghadap kiblat, tetapi juga seluruh pikiran, jiwa, perasaan, dan hatinya, harus diarahkan ke tempat mulia itu, ialah baitullah. Secara fisik, shalat bisa dijalankan di mana saja, akan tetapi hati orang yang sedang shalat, sebagaimana fisiknya harus menghadap kiblat, maka juga harus berada di tempat yang dibangun kembali oleh Ibrahim, As., bersama anaknya, Isma�il, As, ialah baitullah.

Oleh karena tulisan ini sebenarnya hanya menjelaskan tentang pengalaman, dan lebih sempit lagi, adalah sebatas pengalaman pribadi, maka tidak dimaksudkan untuk memberikan petunjuk, tetapi tidak lebih sebatas dimaksudkan untuk berbagi pengalaman semata. Namun, dari proses pencaharian panjang dan ditambah pengalaman itu, ternyata menemukan ayat al Qur�an terkait dengan shalat, yaitu pada surat al al anfaal ayat 35, berbunyi sbb. : � wamaa kanaa shalaatuhum �indal baiti illaa mukaa-aw wa tashdiyatan, fa dzuu qul �adzaaba bi maa kuntum takfuruun. Mendasarkan pada ayat ini, maka shalat agar khusu� rupanya memang harus dilakukan di baitullah, setidaknya adalah oleh hati orang yang sedang melakukan shalat itu. Fisik orang yang sedang shalat harus menghadap kiblat dan demikian pula ruh atau hatinya harus berada di Baitullah.

Pikiran dan juga hati seseorang tidak akan mudah berkonsentrasi pada berbagai atau banyak obyek yang berbeda-beda. Manakala telah diarahkan kepada satu titik atau obyek tertentu, maka bagian tubuh manusia yang amat penting dimaksud tidak akan bergerak atau melayang ke mana-mana. Maka, ketika sebelum memulai shalat, pikiran dan hati orang yang shalat sudah dikonsentrasikan ke satu tempat, yaitu baitullah, maka kekhusus�an itu insya Allah akan dapat diraih. Selama menjalankan shalat, pikiran dan hatinya tertuju pada alamat yang jelas. Namun demikian, di dalam pelaksanaannya, masih saja keluar atau bergeser kepada obyek lainnya. Akan tetapi menyadari bahwa pada saat itu sedang menjalankan shalat, maka tidak terlalu sulit mengembalikan ke tempat yang seharusnya. Demikianlah salah satu bahan yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan tentang cara, agar shalat menjadi khusu� sebagaimana yang selalu diusahakan atau diinginkan oleh banyak orang. Wallahu a�lam

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: