Merasa benar adalah sikap yang tidak keliru, tetapi ketika seseorang merasa benar sendiri ternyata mengganggu perasaan orang lain. Oleh karena itu, sikap merasa benar sendiri itu tidak boleh diungkapkan oleh siapapun. Boleh-boleh saja seseorang merasa dirinya benar. Sebab, bagaimana mereka melakukan sesuatu dengan senang jika dirinya sendiri saja tidak yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.

Demikian pula dalam beragama. Ketika seseorang menjalankan ajaran agama, maka yang bersangkutan harus merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. Akan tetapi, ketika melihat orang lain melakukannya dengan cara berbeda, tidak perlu dalam dirinya muncul perasaan sakit hati, karena menganggap orang lain dimaksud salah. Entah sumbernya dari mana, seseorang merasa senang jika apa yang dilakukan oleh orang lain, tidak terkecuali dalam beragama, sudah sama dengan apa yang dilakukannya.

Berbagai jenis konflik dalam beragama lahir dari adanya perasaan benar sendiri dan menganggap orang lain keliru. Perbedaan pandangan atau pilihan itulah yang melahirkan suasana sakit hati. Mereka menghendaki agar di antara sesama dalam beragama harus sama, sekalipun dalam hal lainnya boleh berbeda, dan bahkan menjadi senang ketika justru berbeda itu.

Perbedaan status sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain antar sesama tidak dianggap sebagai masalah. Ketika tetangga atau saudaranya menjadi kaya, mendapatkan jabatan, kenaikan pangkat, dan sebagainya, maka seseorang tidak selalu peduli. Demikian pula, jika tetangganya jatuh miskin, tetap bodoh, menderrita, dan lain-lain juga tidak diangap mengganggu dirinya. Keadaan tersebut dianggap sebagai hal biasa.

Namun sikap tersebut akan sangat berbeda jika perbedaan itu menyangkut agama, aliran, madzhab, dan sejenisnya. Bertetangga atau berdekatan dengan orang yang tidak sealiran, seagama, atau semadzhab, dirasakan sebagai masalah. Perbedaan itu ternyata segera melahirkan kebencian. Mungkin saja dengan adanya orang yang berbeda maka yang bersangkutan menjadi khawatir apa yang dilakukannya dianggap keliru, sehingga lahirlah kebencian itu.

Seringkali kita mengetahui, betapa seseorang jika disebut aliran tertentu, misalnya syi�ah, wahabi, ahmadiyah, atau sejenisnya, asalkan berbeda, menjadi sedemikian benci dan seolah-olah telah kehadiran musuh yang amat mengganggu. Padahal sebenarnya belum tentu orang yang menganut aliran berbeda itu benar-benar akan mengganggu dan apalagi hingga mencelakakan dirinya. Perasaan tidak senang ternyata sama, yaitu juga dimiliki oleh masing-masing orang yang beraliran atau bermadzhab yang berbeda. Jika kelompok sunny misalnya, tidak menyenangi wahabi atau juga syi�ah, maka demikian pula sebaliknya.

Namun kadang juga terasa aneh, terhadap orang yang benar-benar berbeda, kadangkala justru menganggapnya bukan sebagai pengganggu atau juga musuh. Di antara orang-orang yang jelas jauh berbeda ternyata malah bisa berkomunikasi dan tidak bermusuhan. Sebagai contoh sederhana, antar pemeluk agama yang berbeda bisa berkomunikasi, tetapi antar aliran yang masih seagama ternyata tidak selalu bisa ketemu. Hal demikian itu bisa disebabkan oleh adanya kekuatan psikologis, sosiologis, politis atau juga sejarah, ����dan bukan persoalan agama atau aliran, yang menjadikan di antara mereka sulit bertemu.

Padahal masing-masing pihak sebenarnya memerlukan kegiatan berdakwah, menyampaikan misi, atau mempengaruhi, agar apa yang dimiliki juga menjadi milik orang lain. Sedangkan untuk berdakwah dan sejenisnya itu perlu mendekat dan bahkan menyatu, dan bukan sebaliknya. Berdakwah tidak mungkin berhasil jika saling menjauh. Menyadari hal itu, antar aliran, kelompok, madzhab, dan lainnya, seharusnya justru menunjukkan kebaikan dan keunggulannya masing-masing, dan bukan sebaliknya, yaitu kebenciannya. Jika dakwah ingin berhasil, maka yang bersangkutan harus merasa benar, tetapi tidak akan menguntungkan jika mengembangkan sikap merasa benarnya sendiri. Wallahu a�lam

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: