Menyelesaikan persoalan ekonomi ternyata bukan sesuatu yang mudah. Sehari-hari pemerintah berusaha mengatasi kemiskinan, keterbatasan lapangan pekerjaan, kebutuhan bahan pokok, dan lain-lain, tetapi hasilnya tidak selalu nyata. Sejak lama pemerintah berharap agar masyarakat meraih kehidupan yang sejahtera, atau setidaknya kebutuhan hidupnya sehari-hari tercukupi, tetapi ternyata harapan itu tidak kunjung berhasil hingga memuaskan. Kemiskinan, kesenjangan, pengangguran, dan lain-lain masih saja menjadi persoalan yang tidak pernah selesai.

Angka kemiskinan dan pengangguran dari tahun ke tahun sulit ditekan. Persoalan itu selalu muncul dan menuntut untuk diselesaikan. Setiap pergantian pemerintahan dari hasil pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah selalu menjanjikan untuk memperbaiki keadaan ekonomi, menambah lapangan pekerjaan baru, dan sejenisnya, tetapi hingga masa jabatannya habis, usaha itu tidak selalu berhasil. Mereka yang miskin tetap miskin, dan begitu pula yang menganggur juga tetap menganggur.

Besarnya jumlah migrasi ke luar negeri dengan tujuan sekedar untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah murah sebenarnya menjadi petunjuk, betapa sulitnya memperoleh pekerjaan dan kehidupan di negerinya sendiri. Resiko pilihan hidup tersebut kadangkala sedemikian berat, yakni harus meninggalkan keluarga dan dipaksa beradaptasi dengan kultur atau budaya di tempat baru yang tidak selalu mudah, tetapi terpaksa dijalani oleh karena tekanan hidup yang dirasakan sedemikian berat. Mereka keluar negeri atau setidaknya keluar daerah agar mendapatkan kesejahteraan atau tercukupi hidupnya.

Dalam upaya mengembangkan ekonomi masyarakat sebenarnya sudah banyak konsep yang ditawarkan, seperti misalnya melalui pendampingan, pemberian modal, pelatihan ketrampilan, dan lain-lain. Usaha tersebut sekalipun telah dirancang sedemikian rupa ternyata juga tidak selalu berhasil. Namun anehnya, ada pihak-pihak tertentu lainnya, yang tanpa sentuhan dari pihak luar, ternyata justru sukses dan berkembang pesat. Banyak pengusaha sukses tanpa bantuan pemerintah. Hal demikian itu memberikan petunjuk bahwa usaha di bidang ekonomi sebenarnya tidak saja membutuhkan kecakapan, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk bersaing. Memenangkan persaingan ternyata juga membutuhkan ketrampilan tersendiri.

Selain hal tersebut bahwa di mana dan kapan saja dalam mengembangkan ekonomi ternyata tidak ada kamus belas kasihan. Sebaliknya, yaitu tidak mengapa orang lain bangkrut atau bahkan mati asalkan usahanya sendiri bisa semakin besar. Hal itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyak usaha masyarakat kelas bawah yang sebenarnya hanya sekedar untuk mempertahankan hidup, ternyata harus berjuang mati-matian oleh karena harus bersaing dengan penguasaha yang memiliki modal besar. Sebagai contioh yang mudah dilihat di mana-mana, kehadiran pasar modern merambah hingga di gang-gang kecil sebenarnya berakibat banyak usaha ekonomi tradisional menjadi gulung tikar atau mati.

Kehadiran bisnis modern yang jelas-jelas menambah kesengsaraan rakyat kecil tersebut seolah-olah tidak dikenali oleh pemerintah. Pada satu sisi pemerintah mengaku bertekat akan menolong masyarakat kecil agar berdaya tetapi pada sisi lain membiarkan rakyat dengan kekuatannya sendiri bersaing dengan kekuatan modal yang tidak terbatas. Tentu rakyat akan kalah dan tersingkir. Maka akhirnya yang terjadi bukan mengurangi kemiskinan, melainkan menambah orang miskin. Banyak orang yang sebelum kedatangan pemodal besar bisa hidup, ternyata menjadi tersingkir setelah pemilik modal atau kaum kapitalis itu datang. Kemampuan menghadapi persaingan dengan para pemilik modal itulah yang tidak diberikan kepada mereka yang katanya akan diberdayakan itu.

Jika diamati secara saksama, dalam kehidupan berekonomi, kehadiran para pemodal besar menyerupai ikan hiu atau ikan paus di tengah-tengah teri di lautan lepas. Ikan teri atau dalam hal itu adalah rakyat kecil yang tidak berdaya sehari-hari berhadapan dengan ikan besar dan ganas itu. Mereka itu jangankan ditolong, melainkan jika perlu dimakan sekalian. Oleh karena itu, rakyat kecil dan berekonomi lemah tersebut tidak akan menjadi besar dan kuat sepanjang tidak ada kekuatan pembelanya, yaitu pemerintah. JIka kenyataan itu tidak mendapatkan perhatian, maka kesenjangan akan semakin bertambah lebar, rakyat akan menjadi semakin miskin dan sengsara.

Mengikuti perilaku teri ketika menghadapi ikan besar di lautan bebas, ternyata mereka memiliki strategis yang sedemikian hebat, yaitu ribuan teri itu secara bersama-sama menyatu, agar menyerupai ikan besar. Dengan cara itu, para teri tidak lagi dihirup tetapi justru ditakuti. Maka, umpama saja, para pelaku ekonomi kecil dimaksud menyatukan diri, atau berjama�ah, maka betapapun akan menjadi kekuatan yang tidak mudah dipermainkan. Mereka tidak saja selamat dari ancaman dihirup, tetapi juga akan disegani oleh ikan besar. Umpama para petani, nelayan, pedagang kecil semuanya bersatu tanpa kecuali, maka kekuatan pemodal besar tidak akan bisa sewenang-wenang. Oleh karena itu, cara menghadapi ekonomi raksasa tidak ada lain kecuali meniru teri, atau juga menyerang bagaikan pasukan semut. Dengan membangun jama�ah yang kokoh, maka mereka akan menjadi kuat, dan akhirnya akan bertahan dan bahkan menang. Berjama�ah tidak saja di dalam menjalankan shalat, tetapi juga dalam berekonomi, sehingga dengan cara tersebut keberadaannya akan diperhitungkan. Wallahu a�lam
 
Reaksi: