Orang percaya bahwa agama mampu memperbaiki perilaku bagi siapa saja yang menjadi pemeluknya. Islam misalnya, bahwa salah satu misi atau tugas pokok ditugaskankannya Rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Maka siapapun yang beragama, seharusnya akhlaknya menjadi semakin baik. Kelebihan orang yang beragama satu di antaranya adalah pada akhlaknya itu.

Namun hal yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, ternyata orang beragama tidak selalu berhasil menunjukkan perilaku yang lebih baik. Orang beragama dianjurkan untuk bersedekah, membayar zakat, infaq, dan lain-lain, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang masih berperilaku bakhil. Agama menganjurkan agar saling membangun tali sillaturrakhiem, saling mengasihi di antara sesama, saling tolong menolong, akan tetapi pada kenyataannya saling menjatuhkan, konflik, memfitnah, dan sejenisnya adalah dianggap hal biasa.

Banyak lembaga pendidikan yang dibangun dengan maksud untuk mengajarkan agama, tetapi keindahan perilaku keberagamaan juga tidak selalu tampak di lembaga pendidikan yang dimaksudkan itu. Memang dari sisi pengetahuan tentang agamanya, orang yang belajar di lembaga pendidikan tersebut menjadi lebih baik. Mereka mampu membaca kitab suci, mengerti tentang hukum-hukum dan tradisi yang seharusnya diikuti dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupannya, akan tetapi lagi-lagi, ajaran yang sedemikian indah tersebut tidak selalu tampak dalam perilaku sehari-hari.

Seseorang selalu datang ke masjid atau tempat ibadah untuk menjalankan kegiatan ritual, tetapi di dalam berekonomi, berpolitik, dan juga dalam menjalankan kehidupan sosial sehari-hari, ternyata mereka tidak selalu menampakkan perbedaannya secara signifikan dari orang yang tidak menjalankannya. Mereka itu juga masih menampakkan atau dikenal sebagai orang yang memiliki sifat sombong, bakhil, dengki, iri hati, riya�, konflik, pendendan, berbohong, dan lain-lain. Atas dasar kenyataan seperti itu, maka muncul pertanyaan, yaitu apa sebenarnya yang salah dari keberagamaan mereka itu.

Orang yang beragama Islam diwajibkan untuk mendirikan shalat. Ibadah itu disebutkan di dalam al Qur�an mampu menjauhkan bagi siapa saja yang menjalankannya dari perbuatan keji dan mungkar. Selain itu disebutkan di dalam kitab suci bahwa manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah. Manakala mereka ditimpa kesulitan maka akan mengeluh, dan ketika mendapatkan kebaikan akan berperilaku bakhil, kecuali adalah orang-orang yang menjalankan shalat. Maka artinya, bahwa shalat sebenarnya mampu memperbaiki hati dan perilaku seseorang yang menjalankannya.

Apa saja yang disampaikan di dalam al Qur�an adalah sebagai sesuatu yang pasti benar dan kebenaran itu dapat dibuktikan. Orang yang shalat maka perilakunya akan menjadi baik dan terpuji. Siapa saja yang menjalankan shalat maka hatinya akan menjadi sehat dan hal itu juga akan tampak pada perilakunya dalam kehdiupan sehari-hari. Jika antara perilaku seseorang yang selalu menjalankan shalat dan tidak menjalankannya masih belum bisa dibedakan, maka sebenarnya shalat yang bersangkuan masih belum berhasil dilakukan secara benar.

Pertanyaannnya adalah shalat seperti apa yang berhasil mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam kitab suci ada sebutan shalat khusu�, maka artinya ada pula shalat yang tidak khusu�. Tidak semua orang mampu menjalankan shalat secara khusu� itu. Sama halnya dengan ibadah puasa. Disebutkan di dalam Hadis Nabi bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Demikian pula shalat yang tidak khusu�, maka tidak berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari.

Pada saat sedang shalat, agar khusu�, maka hati seseorang seharusnya merasa benar-benar bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya di tempat menjalankan ibadah itu, ialah di Baitullah. Di dalam menjalankan shalat, selain bacaannya benar, gerakannya benar, waktunya benar, maka yang tidak kalah pentingnya lagi adalah hati yang bersangkutan seharusnya merasa berada di tempat ia sedang menghadap, yaitu di Baitullah. Shalat yang demikian itulah yang disebut khusu�. Shalat yang dijalankan dengan cara demikian itu akan memperbaiki hati yang bersangkutan. Beragama yang dilakukan dengan cara selalu menyambungkan antara hati yang bersangkutan dengan Allah dan Rasul-Nya pada setiap saat, ���-terutama pada waktu shalat, maka perilaku yang bersangkutan akan selalu terjaga atau menjadi baik dan terpuji. Wallahu a�lam

Reaksi: