Dalam hal beribadah orang melakukannya dengan cara berbeda-beda. Shalat jum�at misalnya ada yang menggunakan adzan dua kali, dan ada pula yang satu kali. Untuk menentukan jatuhnya hari raya, ada yang menggunakan hisab dan ada pula yang menggunakan ru�yat. Demikian dalam menjalankan shalat tarweh, ada yang memilih delapan raka�at dan ada pula yang melaksanakannya hingga 20 raka�at. Dulu perbedaan itu dianggap hal yang sensitif, tetapi lama kelamaan, atau sekarang ini, orang tidak lagi terlalu peduli dengan perbedaan itu.

Satu hal yang menggembirakan, ketika hari raya idul fitri tiba, perbedaan tersebut tidak terlalu dipedulikan. Apapun madzhab, aliran, golongan atau organisasinya, di antara mereka yang berbeda itu masih saling mendatangi. Sillaturrakhiem pada hari raya idul fitri tidak mengenal perbedaan tersebut. Siapa saja yang dianggap sebagai orang tua, saudara, famili akan didatangi. Jarang sekali terdengar, seseorang terpaksa tidak mudik hanya alasan, bahwa orang tua atau saudaranya di kampung halamannya mengikut aliran atau madzhab yang berbeda.

Memang, menjalin hubungan atau bersillaturrakhiem seharusnya dilakukan kepada siapa saja, tanpa membedakan kelompok, aliran, madzhab, dan bahkan juga agama. Di dalam al Qur�an dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah agar saling kenal mengenal. Perbedaan itu sengaja diciptakan bukan agar di antara sesama saling berpisah, atau menjauh, dan apalagi berkelahi, melainkan agar saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain.

Islam menganjurkan agar umatnya berdakwah, menyampaikan ajaran yang diyakini benar kepada siapapun. Dakwah itu bisa dilakukan melalui contoh, tauladan, atau disampaikan secara lisan atau tulisan. Hal demikian itu tidak akan mungkin berhasil manakala tidak ada sillaturrakhiem, tidak mendekat, atau tidak berkomunikasi. Komunikasipun harus dilakukan dengan cara terbaik, yaitu menggembirakan, menyenangkan, dan menghargai orang lain. Tidak akan mungkin orang yang dimusuhi, diolok-olok, atau sekedar dikritik dan disalahkan, akan tertarik dan mengikuti orang yang menganggu perasaan itu. Sebaliknya, mereka justru akan meninggalkan, menjauh, dan bahkan akan memusuhi.

Oleh karena itu, bersillaturrakhiem tidak perlu dibatasi hanya kepada orang-orang terttentu. Idul fitri seharusnya dijadikan momentum untuk membuka diri dengan semangat kasih sayang kepada siapapun, tanpa membedakan apapun etnisnya, bangsanya, golongannya, madzhabnya, dan bahkan agamanya. Sesat menyesatkan seharusnya dibuat jeda, dan bahkan diusahakan menjadi hilang dengan datangnya Idul Fitri. Sementara orang mengatakan bahwa, datangnya idul fitri menjadikan seseorang bagaikan bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya. Penegasan itu menggambarkan bahwa hendaknya seseorang seperti bayi, yaitu kehidupan yang tidak memiliki ikatan primordial apapun. Sebagai seorang bayi, ia berkeadaan bersih bahkan suci, sehingga berkemungkinan dapat berkomunikasi dan bergaul dengan siapapun.

Idul Fitri seharusnya menjadikan siapapun mampu dan siap bergaul dengan siapapun. Memalui pergaulan dan atau komunikasi itu maka akan membuahkan suasana saling mengetahui, memahami, menghargai, membuka diri untuk saling memberi kasih sayang, dan akhirnya terjadi tolong menolong dalam kebaikan. Akhirnya, Idul Fitri menjadi benar-benar indah, berhasil menghilangkan sakwasangka, dendam, permusuhan, fitnah, dan sejenisnya terhadap siapa pun tanpa terkecuali. Manakala hal demikian itu berhasil diwujudkan, maka ketegangan antar sesama terkurangi dan bahkan akan menjadi hilang. Sedangkan yang tersisa adalah kebersamaan, kedekatan, kasih sayang, dan kedamaian. Itulah sebenarnya salah satu misi kehadiran Islam. Wallahu a�lam
Reaksi: