Antara sekolah dan salon kecantikan terasa jauh bedanya. Sekolah adalah lembaga pendidikan. Tugasnya sehari-hari adalah mendidik para siswanya. Peran penting untuk menjalankan tugas itu adalah guru. Semakin berkualitas guru yang ada pada lembaga pendidikan itu maka lulusan yang dihasilkan juga akan semakin bermutu, dan begitu pula sebalinya. Guru yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan luas, serta kecakapan mengajar, mereka itu disebut guru profesional atau guru yang bermutu.

Seharusnya siapa saja memberikan kepercayaan kepada guru yang berkualitas itu. Makin besar kepercayaan yang diberikan, maka guru dimaksud akan berhasil menjalankan profesinya semaksimal mungkin. Hasilnya juga akan maksimal. Sebaliknya, guru yang tidak terlalu dipercaya, sehingga terlalu banyak diawasi, diatur, dan diberi berbagai jenis pedoman, maka kualitas kerjanya justru menjadi tidak selalu maksimal. Para profesional di bidang apa saja, biasanya bekerja mendasarkan pada pengetahuan dan keahliannya, dan bukan pada peraturan yang berlebih-lebihan.

Ketika berbicara tentang lembaga pendidikan yang bermutu, saya menjadi teringat salon kecantikan. Sudah barang tentu, pengusaha salon yang berkualitas akan menseleksi pegawainya, yaitu hanya memilih mereka yang berkualitas. Selain memilih pegawai yang berkualitas, pengusaha salon kecantikan juga menyediakan peralatan yang cukup dan tentu memilih yang berkualitas unggul pula. Sudah barang tentu, para pegawai yang disebut profesional, dengan sendirinya, sudah mengetahui cara kerja terbaik.

Para pekerja di salon kecantikan akan menunaikan tugasnya sebaik mungkin. Hanya dengan cara berkerja terbaik atau berkualitas itulah, mereka akan bertahan di tempat kerjanya itu. Manakala hasil kerjanya tidak memuaskan dan banyak dikomplain oleh pelanggan, maka pemilik usaha salon akan segera memutus hubungan kerja dengan yang bersangkutan. Para pekerja di tempat dimaksud tidak terlalu peduli atau membutuhkan penilaian dari lembaga resmi. Mungkin saja, hal demikian itu diperlukan, tetapi penilaian dari kunsumen justru lebih utama dari pada penilaian yang diperoleh dari lembaga yang bersifat formal.

Para pekerja di salon kecantikan juga tidak akan bekerja hanya sebatas mengikuti aturan atau pedoman formal, misalnya menyangkut waktu yang ditentukan, peralatan yang diperlukan, dan juga bahan habis yang digunakan. Mereka tahu dan sadar bahwa bekerja yang hanya sebatas mengikuti aturan formal tidak akan berhasil mempertahankan kualitas. Para pelanggan di salon kecantikan tidak akan puas hanya sekedar misalnya, rambutnya telah dipotong, dan wajahnya dirias sesuai aturan. Sebaliknya, mereka akan mengikuti tuntutan keahlian dan profesinya semaksimal mungkin. Harga diri dan keahliannya bukan dipertaruhkan dari sekedar mengikuti aturan melainkan pada kemampuan memuaskan pelanggannya.

Bekerja sebagai pendidik, sekalipun tidak sama persis dengan pekerja di perusahaan salon kecantikan tetapi sebenarnya bisa disebut mirip. Pekerja di salon sehari-hari tugasnya adalah memperindah wajah atau penampilan seseorang, agar menjadi semakin cantik atau tampan. Keindahan itu terletak pada aspek yang tampak atau pada sisi dhahirnya. Sementara itu tugas pendidik, adalah mempercantik atau memperindah dari aspek pikiran, hati, dan ketrampilannya. Kesamaan lainnya adalah, oleh karena kedua profesi tersebut sama-sama bersentuhan dengan manusia dengan berbagai karakter atau sifatnya, agar hasilnya maksimal, maka tidak cukup dilakukan dengan pendekatan formal.

Akhir-akhir ini, lembaga pendidikan, dirasakan semakin terasa dijalankan dengan pendekatan formal tersebut. Apa saja diukur dengan angka atau dikuantifikasikan, hingga sampai menyangkut berapa kali guru masuk kelas, berapa lama waktu yang digunakan, jenis buku dan berapa jumlahnya yang dijadikan pegangan, dan bahkan sampai berapa lembar sebuah karya ilmiah dianggap berkualitas. Padahal tugas guru seharusnya sama dengan pekerja di salon kecantikan, yaitu berusaha maksimal agar menghasilkan karya terbaik yang memuaskan bagi para pelanggannya. Jika mereka hanya sekedar berorientasi menyelesaikan tugas tanpa memperhitungkan mutu, maka usaha itu akan bangkrut atau gulung tikar, oleh karena ditinggalkan para pelanggannya. Kiranya lembaga pendidikan juga sama dengan pengusaha salon kecantikan. Jika pelayanannya tidak memuaskan, pendekatannya hanya sebatas formalitas, guru hanya disibukkan oleh pekerjaan yang bersifat formalitas pula, maka lembaga pendidikan atau sekolah juga akan ditinggal oleh para pelanggan atau peminatnya. Wallahu a�lam

Sumber : Imamsuprayogo.com



http://jualbeliweb.com
 
Reaksi: