Adian Napitupulu. Foto: dok/JPNN.com
Adian Napitupulu. Foto: dok/JPNN.com
JAKARTA - Pemilihan Gubernur DKI Jakarta berbeda dengan pemilihan kepala daerah lainnya. Karena di Jakarta, ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan, antara lain penduduk Jakarta yang sangat beragam. ‎Sehingga membuat perubahan-perubahan yang ada menjadi sangat dinamis.

Menurut politikus PDI Perjuangan, Adian Napitupulu, kondisi ini perlu menjadi perhatian para pendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Jangan justri buru-buru meyakini kemenangan gubernur yang akrab disapa dengan panggilan Ahok tersebut, hanya berdasarkan hasil survei dan klaim satu juta KTP dukungan.

"Misalnya komposisi etnis, ini juga sangat penting diperhatikan. Di Jakarta, etnis Jawa baik itu Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, mencapai 35,16 persen. Kemudian Betawi 27,65 persen, Sunda 15,27 persen, Tionghoa 5,53 persen dan Batak  3,61 persen. Kemudian Minang 3,18 persen,, Melayu 1,62 persen dan sisanya etnis lain dari Papua, Dayak, Bugis, Maluku, Bali, hingga Aceh," ujar Adian, Jumat (22/7).

Selain etnis, ‎komposisi agama kata Adian, juga penting menjadi pertimbangan. Di mana di Jakarta saat ini sekitar 85,36 persen penduduknya beragama Islam, 7,54 persen  beragama Kristen, 3,15 persen beragama Katolik, Hindu 0,21 persen, Budha 3,13 persen dan Konghucu 0,06 persen.‎

"Tm masing-masing kandidat tentu akan mengelola, bersiasat dan mengatur taktik serta strategi kampanye. Dua faktor dan dua fakta di atas akan sangat menentukan siapa yang akan jadi pemenang," ujar Adian.

Menurut anggota DPR ini, walau pilkada DKI masih tujuh bulan lagi, tapi bisa diprediksi kelompok sektarian akan gunakan isu agama dan kelompok primordial akan gunakan isu etnis.

"Sementara kelompok nasionalis dan pro-demokrasi akan melawan kedua isu itu dengan argumentasi prestasi, kinerja, track record dan lain lain yang senafas dengan nasionalisme dan demokrasi," ujar Adian. (gir/jpnn)

Sumber : Jpnn.com
Reaksi: