Islam melalui al Qur�an dan Hadits Nabi menganjurkan umat Islam untuk mencari ilmu tanpa mengenal batas waktu, yakni hingga selamanya. Disebutkan di dalam hadits nabi bahwa mencari adalah wajib bagi kaum muslimin dan muslimat mulai dari ayunan hingga masuk ke liang lahat. Juga disebutkan di dalam al Qur�an bahwa salah satu ciri ulul albaab adalah selalu merenungkan atau memikirkan penciptaan langit dan bumi.

Mencari ilmu, dengan demikian, di dalam Islam adalah merupakan kegiatan yang dipandang amat penting dan mulia. Mendasarkan pada ajaran Islam itu, maka umat Islam dalam sejarahnya telah melahirkan ilmuwan muslim di berbagai bidang, tidak saja menyangkut ilmu fiqh, tauhid, tarekh, akhlak dan tasawwuf, melainkan juga ilmu pengetahuan secara universal, misalnya ilmu astronomi, ilmu kedokteran, matematika, arsitektur, filsafat, ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, bahasa dan sastra, dan lain-lain.

Mencari ilmu, selain secara praktis menjadi penting untuk mempermudah di dalam menjalani kehidupan, juga dimaksudkan untuk mengenal ciptaan Allah. Orientasi yang demikian itu menjadikan hingga kapan pun mencari ilmu tidak boleh berhenti. Ciptaan Allah tidak mengenal batas sehingga upaya menggalinya pun seharusnya juga tidak mengenal akhir. Dengan demikian hingga kapan pun rahasia tentang ciptaan Allah tidak akan mungkin berhasil ditemukan hingga seluruhnya.

Sedemikian rumit ciptaan Allah, tidak terkecuali apa yang ada pada diri manusia sendiri. Sekedar sebagai contoh, manusia yang berjumlah milyaran, ternyata sebanyak itu tidak ada yang sama, hingga disebut sebagai makhluk yang unik. Perbedaan itu tidak saja menyangkut wajah dan juga seluruh anggota tubuhnya, tetapi bahkan hingga jenis suaranya pun juga berbeda-beda. Manakala berkumpul seratus orang, maka pasti juga terdapat seratus jenis suara. Bahkan ternyata, telinga masing-masing orang yang dalam keadaan normal mampu membedakan suara yang berbeda-beda itu.

Atas kenyataan tersebut, para ilmuwan yang mempelajari manusia, sekalipun hanya dari aspek fisiknya saja maka tidak pernah tuntas. Kajian tentang tubuh manusia itu semakin lama semakin berkembang hingga melahirkan spesifikasi yang sedemikian rumit. Kajian tentang gigi saja misalnya, memerlukan waktu bertahun-tahun tanpa mengenal akhir. Demikian pula para ahli lainnya, mengkaji bagian-bagian lainnya yang juga tidak mengenal final. Maka, melalui berbagai kegiatan kajian akhirnya diketahui bahwa sedemikian luas ilmu yang dapat digali dari berbagai ciptaan Allah.

Dalam Islam menggali ilmu, sebagaimana disebutkan di muka, bukan semata-mata bertujuan praktis, ialah digunakan di dalam menjalani hidup sehari-hari melainkan untuk mengenal Allah. Dzat Tuhan tidak akan bisa dikenali, kecuali melalui ciptaan-Nya. Maka sebenarnya, usaha mengali ilmu pengetahuan adalah jalan atau pintu untuk mengenal Tuhan itu sendiri. Tambahan pula dengan cara apapun, usaha dimaksud tidak pernah akan selesai. Itulah sebabnya, mencari ilmu dalam Islam juga tidak mengenal akhir, sehingga kegiatan itu seharusnya dilakukan mulai dari ayunan hingga seseorang mengakhiri hidupnya.

Memahami ilmu yang sedemikian luas dan tidak akan mungkin terjangkau oleh kemampuan nalar atau pikiran manusia itu, maka lembaga pendidikan Islam seharusnya tidak membatasi hanya pada jenis ilmu, yang kemudian disebutnya sebagai bidang keagamaan, misalnya syari�ah, ushuluddin, tarbiyah, adab dan dakwah, melainkan harus mencakup wilayah yang tidak terbatas. Membatasi ilmu hanya pada bidang-bidang sebagaimana selama ini dikembangkan hanya akan melahirkan kesan bahwa Islam adalah sempit dan terbatas. Islam seolah-olah hanya menyangkut kegiatan ritual, sebagaimana yang terkesan pada pemahaman agama pada umumnya.

Perubahan kelembagaan perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia pada akhir-akhir ini, yaitu dari STAIN atau IAIN menjadi UIN sebenarnya adalah sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Islam itu luas, mencakup berbagai aspek kehidupan dan bersifat universal. Islam tidak saja sebatas menyangkut kehidupan akherat, melainkan juga kehidupan di dunia. Islam adalah seluas kehidupan itu sendiri, yaitu menyangkut konsep tentang Ketuhanan, penciptaan, tentang manusia, alam, dan konsep tentang keselamatan. Memahami Islam hanya sebatas lingkup fiqh, tauhid, akhlaq, tasawwuf dan tarekh, hanya akan menunjukkan bahwa Islam sebatas agama, dan bukan sekaligus peradaban. Pendekatan semacam itu juga beresiko tidak akan berhasil mengenal pencipta-Nya. Wallahu a�lam

- Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: