Ketika sedang berada di Makkah untuk umrah akhir Bulan Ramdhan ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang sudah lama saya kenal. Mereka berasal dari luar kota Makkah, yaitu dari Hail, Qasim, dan Kunfudza. Semuanya sedang berada di Masjidil Haram untuk i�tikaf. Beberapa keluarga dimaksud mengaku, sudah menjadi kebiasaan, setiap Bulan ramadhan sengaja pindah ke Makkah, agar bisa dekat dan shalat berjama�ah, serta beri�tikaf di Masjidil Haram. Disebutnya bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan bagi keluarganya.

Wilayah Hail, Qosim, dan juga Kunfudza dari Makkah cukup jauh. Untuk pergi Kunfudza misalnya, dengan jalan darat memerlukan waktu kurang lebih 7 jam. Sedangkan ke Hail dan Qasim, dari Jeddah harus terlebih dahulu naik pesawat terbang ke Riyad, dan kemudian pejalanan diterusnya dengan kendaraan darat, kira-kira juga memerlukan waktu 6 hingga 7 jam. Jarak yang cukup jauh itu tidak dianggap sebagai halangan untuk bersama-sama memboyong keluarga ke Makkah. Selama di kota suci itu, mereka menyewa apartemen, untuk ditempati ketika sedang tidak berada di masjid.

Mereka menyebut Bulan Ramadhan sebagai bulan pendidikan keluarga oleh karena pada bulan itu, seluruh anggota keluarga diajak berkonsentrasi untuk beribadah, memperbanyak membaca al Qur�an, selalu shalat berjama�ah, dan beri�tikaf di Masjidil Haram. Dengan demikian, selama sebulan penuh, mereka tidak bekerja yang terkait dengan urusan rizki yang biasa diperoleh. Selain itu, dipandang sebagai bulan pendidikan keluarga oleh karena pada saat berada di masjid itu, mereka bersamaan dengan seluruh keluarganya.

Memang, ketika sedang berada di Masjidil Haram, antara laki-laki dan wanita dipisah, sehingga masing-masing mengambil tempat terpisah. Anak laki-laki diurus oleh ayahnya, sedangkan anak-anak perempuan oleh ibunya. Pendidikan keluarga itu menjadi terasa utuh atau komprehensif, oleh karena sejak urusan yang terkait dengan membaca al Qur�an, berdoa, shalat berjama�ah, kebersamaan keluarga ketika berbuka puasa, kegiatan menanamkan nilai-nilai mulia tentang kecintaan terhadap Allah, Nabi, orang tua, dan lain-lain terlaksana ketika mereka bersama-sama sedang berada di lingkungan masjid itu..

Selama sebulan penuh, ketika mereka berada di masjid itu, menjadikan semua anggota keluarganya berlatih menyesuaikan dengan tradisi masjid, mulai shalat berjama�ah, membaca al Qur�an, dan lain-lain. Oleh karena sedang berpuasa, maka kegiatan mereka juga menjadi terbatas, yaitu hanya di sekitar masjid. Hanya akibatnya, masjid menjadi sangat ramai. Tempat ibadah yang sedemikian luas, kecuali tempat-tempat untuk thawwaf dan sa�i, digunakan oleh untuk beristirahat dan atau membaca al Qur�an. Ustadz Dr. Yahya al Ja�fari, dari Kunfudza, yang juga ikut beriktikaf di Masjidil Haram menjelaskan bahwa, kebanyakan orang Saudi dan sekitarnya, di Bulan Ramadhan tidak lagi sibuk mencari dunia, tetapi berharap kelak memperoleh surga.

Pendidikan yang sedemikian tampak efektif, selain berupa pembiasaan berjama�ah di Masjid dan membaca al Qur�an, juga tampak bentuk-bentuk kebersamaan ketika mereka sedang makan sahur dan berbuka puasa. Anak-anak dengan berbagai tingkat umurnya, menjelang berbuka, dengan dibimbing ayahnya dan atau ibunya, mereka menyiapkan takjil dan minuman yang diperlukan. Pada kesempatan itu, antara orang tua dan sesama saudara bekerja bersama-sama, mempersiapkan makanan yang akan digunakan untuk berbuka dan bersahur. Selain itu, melalui kegiatan tersebut, mereka juga belajar dari orang lain, oleh karena di tempat itu berkumpul ratusan ribu dan bahkan bisa jadi hingga jutaan orang.

Melalui kegiatan orang tua bersama keluarganya secara langsung tersebut, maka anak-anak akan memperoleh berbagai jenis pelajaran hidup, mereka ditunjuki, dilatih menjalankan ibadah, memperlakukan al Qur�an, berdoa, kebersamaan di dalam hidup sesama ketika sedang berada di luar rumah, dan tidak terkecuali adalah kegiatan yang dilakukan ketika seseorang sedang beri�tikaf di masjid. Pendidikan semacam itu, kiranya menjadi sangat penting dan mengesankan, apalagi dilakukan oleh semua anggota keluarga. Dalam menjalani kegiatan di Bulan Ramadhan, orang tua tidak saja memberi perintah atau memberi tugas, melainkan juga sekaligus menjadi contoh kepada anak-anaknya.

Berbeda dengan di Arab, di Indonesia pada Bulan Ramadhan dikenal ada istilah Pondok Ramadhan. Pada kegiatan itu, anak-anak diberi tambahan jam pelajaran untuk mengaji al Qur�an dan kegiatan keagamaan lainnya. Cara itu sebenarnya sudah bagus, tetapi belum secara nyata melibatkan orang tuanya sendiri. Yang diwajibkan untuk belajar adalah baru sebatas anaknya, sedangkan orang tuanya sendiri, ����bisa jadi, tidak akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang anak-anaknya. Seringkali tertanam ke dalam pikiran orang tua bahwa, yang perlu belajar adalah anak-anak. Padahal siapapun sebenarnya, termasuk orang tua sendiri, juga masih perlu belajar, setidaknya mereka harus belajar menjadi orang tua. Wallahu a�lam
Reaksi: