Jamaah membaca Alquran di Masjidil Haram selama bulan Ramadhan di Mekkah, Saudi Arabia (16/8). REUTERS/Fahad Shadeed
Pada akhir Bulan Ramadhan, Juni 2016 ini, saya merasa beruntung memperoleh undangan kerajaan Saudi Arabia, Malik Salman bin Abdullah, menunikan umrah. Undangan itu ternyata untuk sekitar 20 negara yang berpenduduk muslim, termasuk Indonesia. Ada sepuluh orang yang memperoleh undangan, termasuk saya. Selain itu di antaranya adalah KH. Syukron Makmun, Tifatul Sembiring, Ustadz Yusuf Mansyur, KH. Hasan Abdullah Sahal, dan beberapa lagi lainnya.

Sekalipun tidak terlalu lama, hanya satu minggu termasuk waktu perjalanan pulang pergi, merasakan bahwa pada Bulan Ramadhan dan apalagi saat sepuluh hari terakhir, suasana Masjidil Haram berbeda dengan bulan lainnya. Para peziarah Masjidil Haram meningkat tajam. Keadaannya mirip dengan pada waktu haji. Perbedaannya, pada akhir bulan Ramadhan, jama�ah Masjid didominasi oleh orang Arab sendiri. Sementara itu pada Bulan Haji, variasi itu tampak sekali, ialah misalnya dari warna kulit, rambut, dan ukuran tubuhnya, menunjukkan jama�ah dimaksud berasal dari banyak negara.

Selain kepadatan yang meningkat, pemandangan lain yang tampak menarik dari suasana di Masjidil Haram di akhir Ramadhan adalah banyaknya orang i�tikaf. Sepanjang waktu, banyak jama�ah tidak meninggalkan masjid. Mereka duduk sambil berdoa dan atau membaca al Qur�an. Sebagian lainnya bahkan istirahat dengan tiduran di dalam masjid. Di beberapa tempat, terutama di lantai bawah, keadaannya seperti para pengungsi. Mereka membawa keluarga dan sekaligus barang-barang yang diperlukan. Memang secara fisik, mereka kelihatan tidak teratur, tetapi justru hati mereka pada saat i�tikaf itu, orang lain pun dapat merasakan sekali keindahannya.

Pada saat sedang di tempat suci itu, ���-hingga selama beberapa hari, sekalipun berkumpul bersama dengan ratusan ribu, bahkan mungkin hingga jutaan orang, mereka tidak ada yang berebut, berkompetisi, dan apalagi konflik. Sebaliknya, mereka saling menghargai, peduli terhadap orang lain, dan saling membantu. Tampak misalnya, manakala masih tersisa tempat dan kebetulan ada orang lain yang kelihatan mencarinya, maka orang yang menempati terdahulu segera menunjukan tempat diaksud agar digunakannya.

Semua orang membaca al Qur�an, kecuali yang sedang beristirahat, akan tetapi dari kegiatan itu, di antara mereka tidak ada yang saling mengganggu. Suara bacaannya dipelankan. Yang tampak adalah, ratusan ribu dan bahkan mungkin mencapai jutaan orang, sama-sama memegang kitab suci dan membacanya. Siapapun yang melihat dan mampu merasakan, maka suasana atau keadaan itu terasa indah sekali. Ketika sehari-hari, di lain waktu, kita menyaksikan di pasar, di mall, di pertokoan, di jalan raya, dan lain-lain, orang sibuk mengurusi dunianya, maka pada saat di Masjidil Haram, pada akhir Bulan Ramadhan, keadaannya berbalik, orang berusaha mendekat pada Allah dan Rasul-Nya melalui iktikaf itu.

Selain kegiatan iktikaf oleh sedemikian banyak orang, juga tampak suasana di sekeliling halaman ka�bah, pada sepanjang waktu, ���siang maupun malam, kelihatan sedemikian padat. Suasana panas di siang hari ternyata tidak dianggap sebagai halangan orang untuk bertawwaf. Padahal, mereka juga sedang berpuasa. Perintah hati untuk berusaha mendekat pada Allah dan Rasul-Nya ternyata tetap dijalankan dalam keadaan apapun. Mereka sengaja datang dari tempat jauh untuk keperluan itu.

Melihat pemandangan indah itu, muncul pikiran dari dalam hati, yaitu seumpama saja dalam kehidupan sehari-hari, semua orang selalu merindukan Tuhan dan Rasul-Nya, mencintai al Qur�an, masjid, dan sesamanya, maka kehidupan ini akan menjadi indah sekali. Itulah sebenarnya petunjuk yang diajarkan oleh Islam. Namun sayang, keindahan itu masih sebatas tampak di Bulan Ramadhan, dan di tempat tertentu, yaitu di Masjidil Haram. Sedang di tempat lain, orang masih lebih suka memenuhi hawa nafsu, sibuk dengan urusan dunianya yang belum tentu ada manfaatnya, dan atau mengikuti ajakan setan. Berpuasa, iktikaf, membaca al Qur�an, dan berbagai jenis kegiatan terpuji lainnya itu sebenarnya adalah dimaksudkan, agar kadar ketaqwaannya berhasil meningkat. Wallahu a�lam.

sumber ; Imamsuprayogo.com
Reaksi: