Bagi orang-orang tertentu, misalnya pekerja fisik atau orang yang harus menanggung beban berat, orang dalam perjalanan, orang sakit, dan sejenisnya, dalam menjalankan puasa pasti merasakan amat berat. Akan tetapi sebenarnya ada beban lagi yang lebih berat, yaitu mempuasakan hawa nafsu. Sekedar mempuasakan fisik, yakni tidak makan, minum dan hal lain yang membatalkan puasa hanya berlaku pada siang hari. Berbeda dengan mempuasakan fisik, mempuasakan hawa nafsu durasinya sepanjang waktu, siang dan malam, selama bulan Ramadhan.

Batal berpuasa secara fisik akan kelihatan dan atau bisa diketahui. Berniat puasa tetapi pada siang harinya, oleh karena merasakan keadaan yang amat berat, maka kemudian membatalkan puasanya. Yang bersangkutan akan menggantikan pada hari lainnya di luar bulan Ramadhan. Jumlah hari meninggalkan puasanya bisa dihitung dengan mudah. Oleh karena itu menggantikannya juga mudah dan jelas hitungannya.

Perbedaan lainnya, bahwa kekeliruan dalam mempuasakan hawa nafsu tidak bisa diganti. Ketika usaha menahan hawa nafsu di Bulan Ramadhan dilanggar, maka yang bersangkutan tidak perlu menggantikan puasa pada hari yang lain. Puasanya tetap sah, tetapi substansi puasanya terganggu, karena tidak berhasil mempuasakan hawa nafsunya itu. Itulah sebabnya, terdapat hadits Nabi yang mengatakan bahwa, banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.

Orang yang digambarkan berpuasa tersebut, pada Bulan Ramadhan berniat puasa, malam harinya shalat tarweh, makan sahur, pada siang harinya mencegah makan, minum, dan tidak berhubungan suami isteri, tetapi kegiatan mengunjing, permusuhan, mengolok-olok orang lain, dengki, iri hati, memfitnah, dan sejenisnya tidak berhenti dari waktu ke waktu. Perbuatan tersebut tidak berhasil dicegah oleh yang bersangkutan pada saat puasa. Mereka itu merasa berpuasa, tetapi sebenarnya hanya sebatas menjalankan puasa sebagaimana puasanya anak kecil atau sekedar ikut-ikutan berpuasa.

Kegiatan yang dapat mengurangi keutamaan puasa sebagaimana disebutkan itu tidak mudah dihindari. Munculnya adalah secara tiba-tiba, baik melalui suara hatinya, ucapannya atau juga perbuatannya. Seseorang yang menggunjing misalnya, kadang yang bersangkutan tidak sadar bahwasanya yang dilakukan itu adalah dilarang. Contoh lain, seseorang tiba-tiba marah tanpa sebab, dan tidak menyadari bahwa kemarahannya itu menurunkan kualitas puasanya. Lebih-lebih lagi, seseorang yang dengan sengaja atau tidak, menjelek-jelekan orang atau kelompok lain. Mereka mengira bahwa apa yang dilakukannya itu sebagai bagian dari memperjuangkan Islam. Padahal Islam tidak perlu dibela dengan jalan seperti yang dimaksudkan itu.

Beberapa contoh tersebut adalah merupakan perbuatan seseorang yang sedang mengikuti hawa nafsu. Padahal seharusnya di Bulan Ramadhan, sebagai orang beriman seharusnya berusaha mempuasakan hawa nafsunya, atau disebut meninggalkan maksiat batin. Munculnya perbuatan itu bisa secara spontan, sehingga yang bersangkutan kadang tidak merasa atau tidak menyadari bahwa perbuatan itu adalah salah, berdosa dan merusak puasanya. Oleh karena itu, mempuasakan hawa nafsu sebenarnya jauh lebih sulit dan lebih berat dibanding mempuasakan fisik, yaitu tidak makan, tidak minum, dan menjauhkan diri dari hubungan suami isteri di siang hari.

Beratnya mempuasakan hawa nafsu tidak saja dialami oleh orang awam pada umumnya, melainkan juga oleh para tokoh, pemuka, pemimpin masyarakat, dan bahkan juga para elite agama sekalipun. Buktinya, di bulan Ramadhan tidak sedikit elite masyarakat, tidak terkecuali elite agama, masih saja saling mengujat, merendahkan, menganggap orang atau kelompok lain salah sedangkan dirinya paling benar, dan seterusnya. Semoga memasuki separo Bulan Ramadhan ke depan, kita semua berhasil mempuasakan jasmani dalam arti menghindarkan diri dari makan, minum, dan lain-lain yang membatalkan puasa, serta sekaligus juga berhasil mempuasakan hawa nafsu. Wallahu a�lam

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: