Manakala diyakini benar bahwa mencari ilmu itu adalah untuk mengenal Tuhan, maka tidak mungkin dilakukan dengan sembarangan. Mencari ilmu harus dilakukan dengan jujur. Tanpa kejujuran, ilmu yang diperoleh tidak akan ada gunanya. Ilmu adalah untuk kebenaran, maka harus diperoleh dengan cara yang benar.

Namun setiap kali diselenggarakan ujian, apalagi ujian nasional atau ujian lainnya, selalu ramai dibicarakan tentang adanya kecurangan. Kekhawatiran adanya sontek menyontek dan bahkan juga perjokian, para penyelenggara ujian mengantisipasi dengan menata tempat ujian dan pengawas sedemikian rupa. Naskah ujian dijaga super ketat dan bahkan melibatkan polisi segala.

Menjadi terasa aneh, kegiatan yang kehadirannya dimaksudkan untuk meraih dan menjaga kebenaran dan kejujuran ternyata sudah dimanipulasi. Kelihatan menjadi tidak jelas lagi antara pendidikan sebagai institusi yang berfungsi melatih kejujuran dan sebagai alat sekedar untuk mendapatkan ijazah atau gelar, misalnya.

Mungkin karena pertimbangan akal saja, apapun dimanipulasi hingga pendidikan sekalipun. Setiap memperbincangkan pendidikan yang diwarnai oleh suasana manipulatif seperti digambarkan tersebut, saya selalu teringat apa yang saya alamai ketika belajar di pedesaan semasa masih kecil. Belajar di madrasah diniyah yang biasa diiakukan di sore hari, adalah sama sekali tidak ada manipulasi.

Pendidikan di madrasah diniyah tidak ada ujian. Kemampuan para siswa sudah diketahui pada setiap hari, baik oleh guru maupun santri yang bersangkutan. Pengetahuan tentang perkembangan para santri diperoleh dari mereka di dalam mengerjakan tugas-tugas, menjawab pertanyaan guru, dan juga berbagai aktifitas murid dalam bentuk lainnya.
Para guru madrasah diniyah sehari-hari tidak saja mengajar tetapi juga mengevaluasi dengan caranya sendiri atas kemajuan para santrinya. Melalui cara itu, guru mengetahui dengan baik perkembangan setiap santrinya. Tanpa ada ujian dengan mengambil waktu khusus, para guru madrasah mampu memberikan penjelasan tentang perkembangan masing-masing santrinya. Suasana demikian itu menjadikan tidak ada santri yang menyontek dan semacamnya.

Pendidikan di madrasah diniyah dijalankan seara alami, tidak ada yang bersifat formalitas. Guru mengajarkan sesuatu yang mereka bisa dan benar-benar dipahami. Sebaliknya, apa yang diajarkan bukan dari hasil penataran yang baru saja diikuti. Keadaan yang demikian itu menjadikan guru, ���- di mata santri, benar-benar sebagai guru. Para guru mengajarkan tentang apa yang mereka bisa dan yang lebih penting adalah sesuatu yang mereka jalankan.

Ketika para guru sanggup berperilaku jujur, bekerja sepenuh hati, dengan penuh kasih sayang, tulus dan total, maka ilmu yang disampaikan terasa sampai di hati para siswa. Madrasah diniyah di pedesaan itu menjadi benar-benar sebagai tempat belajar, tempat menimba ilmu, tempat berlatih menjalani kehidupan yang damai, jujur, dan ikhlas.

Ketika para guru selalu menunjukkan kejujurannya, maka para santri juga tidak berani berbuat tidak jujur. Para santri juga mengetahui tentang kemampuannya sendiri, hingga ketika kenaikan kelas misalnya, bagi yang merasa belum mampu, mereka lebih memilih tinggal kelas. Santri dimaksud akan mengulang pelajarannya hingga mereka benar-benar merasa layak naik kelas.

Rupanya, sekolah sekarang ini keadaannya sudah berubah total. Sekolah sudah dijadikan ajang kompetisi, dan karena itu juga tidak mustahil dimanipulasi. Siswa yang belum mampu pun juga berharap lulus, segera selesai, dan mendapatkan ijazah. Memaksa guru agar diluluskan dan diangap baik adalah sebagai hal biasa. Oleh karena itu rupanya sekolah sudah kehilangan esensinya. Nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan apalagi keikhlasan sudah semakin hilang di lembaga tempat berlatih menjalankan nilai-nilai luhur itu. Wallahu a�lam -

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: