Sementara orang beranggapan bahwa orang yang kaya ilmu maka secara otomatis perilaku atau akhlaknya semakin baik. Anggapan tersebut mendasarkan pada keyakinan bahwa ilmu selalu berpengaruh pada perilaku seseorang. Orang pintar sekaligus akan berperilaku baik dan sebaliknya, orang miskin ilmu pengetahuan selalu berperilaku tidak baik. Namun pada kenyataannya, tidaklah selalu demikian itu. Orang kaya ilmu banyak yang melakukan penyimpangan, sementara itu orang yang ilmunya terbatas justru berperilaku sebaliknya, terpuji.

Pada kenyataannya tidak sedikit orang yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dikenal pelit, berperilaku diskriminatif, sombong atau takabur, sering terlibat konflik dan permusuhan dengan orang lain, dan seterusnya, Sebaliknya, orang yang pendidikannya terbatas, misalnya tidak pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, tetapi perilakunya di tengah masyarakat lebih baik, jujur, tidak diskriminatif terhadap orang lain, suka menolong, dan seterusnya. Kesan seperti itu dirasakan oleh banyak orang.

Gambaran tersebut tentu, tidak berlaku umum, misalnya orang kaya ilmu selalu berperilaku kurang baik dan orang yang tidak berpendidikan, atau miskin ilmu, selalu berperilaku baik, dan sebaliknya. Ada juga orang yang kaya ilmu tetapi juga sekaligus perilakunya baik dan juga orang yang tidak berilmu pengetahuan sekaligus perilakunya di tengah masyarakat dikenal kurang baik. Namun, memang antara kekayaan ilmu atau tingginya pendidikan seseorang tidak selalu berkorelasi dengan perilakunya.

Jika demikian itu gambaran yang terjadi, maka apakah memang harus ada pemisahan antara upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan perbaikan akhlak atau budi. Memang seharusnya orang yang berilmu adalah sekaligus berbudi atau berakhlak mulia. Akan tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Kaya ilmu menjadikan seseorang berwawasan luas, pandai, cerdas, mampu menciptakan banyak hal. Orang yang kaya ilmu akan mampu menjelaskan sesuatu atas dasar ilmunya itu. Selain itu yang bersangkutan juga mampu berargumen secara baik dalam segala tindakannya. Berilmu seseorang menjadi lebih cerdas, kreatif, dan pandai beragumentasi.

Ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui sekolah, belajar di lembaga pendidikan, atau melalui kegiatan meneliti, berdiskusi, menulis, dan lain-lain. Oleh karena itu, semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh atau semakin banyaknya kegiatan akademik yang diikuti, seseorang semakin cerdas dan pintar. Demikian pula sebaliknya, orang yang tidak pernah menempuh pendidikan, biasanya tidak tampak pintar, sekalipun hal itu tidak berlaku umum. Artinya, ada saja orang yang tidak berpendidikan formal, tetapi mampu menunjukkan kecerdasannya.

Berbeda dengan jalan menuju cerdas dan pintar, orang berbudi atau berakhlak mulia ternyata bukan diperoleh melalui sekolah atau lembaga pendidikan, melainkan ada cara lain yang dapat ditempuh oleh semua orang. Cara itu adalah melalui banyak berdzikir, merenungkan tentang eksistensi dirinya, dan menjalankan shalat. Al Qur�an menyebut demikian itu. Shalat adalah menjauhkan seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Orang yang shalat dengan khusu� maka hatinya akan menjadi sehat. Hati yang tidak berpenyakit itulah yang menjadikan seseorang berakhlak dan atau berbudi luhur.

Sifat-sifat buruk yang merupakan buah dari penyakit hati, yaitu misalnya bakhil, takabur, sombong, hasut, iri hati, dengki, permusuhan, fitnah, dan seterusnya hanya bisa dihilangkan melalui cara-cara tertentu dan bukan karena sebab seseorang menguasai banyak ilmu. Ilmu tidak berpengaruh terhadap penyakit hati. Bahkan bisa jadi, justru dengan kekayaan ilmu itu, penyakit hati menjadi bertambah. Oleh karena itu, seseorang yang berilmu agar diangkat derajatnya, masih dipersyaratkan bahwa yang bersangkutan mampu menjaga keimanannya. Maka, menjadi pintar ternyata berbeda dari jalan menjadi orang baik. Oleh karena itu, siapapun yang berkehendak meraih keduanya, maka kedua jalan tersebut harus dilalui secara bersama-sama. Wallahu a�lam

- Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: