PESONA anggota militer seringkali menari perhatian mata wanita. Banyak gadis yang menginginkannya menjadi suami seorag tentara yang gagah. Tak heran, bila waktu acara kematian almarhum Donjuan, tujuh istri sirinya pada datang takziah ke rumahnya. Karin sebagai istri sah pun hanya bisa melongo.

Empat bulan lalu, tangisan menggema di salah satu rumah di kawasan perumahan Medokan Asri, Surabaya Timur. Tangisan itu tak hanya keluar dari istri sah Donjuan, sebut Karin, 59.

Namun, juga tujuh wanita lain yang ternyata juga istri Donjuan. Hanya saja statusnya siri, bukan istri sah seperti yang terdaftar di akta nikah. Tujuh wanita itu datang dari beberapa kota, seperti Bandung, Lampung, Makassar, Papua, Lombok, dan Blitar.

“Sampai sekarang sedihnya bukan karena suami sudah meninggal. Tapi, ingatnya itu. Kok bisa dia menikah segitu banyaknya, dan saya tidak tahu sama sekali,” keluh Karin ketika mengurus warisan di Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Surabaya, Kamis lalu (23/6) seperti dilansir Radar Surabaya.

Bersama anak bungsunya, Karin mengaku sampai saat ini belum ikhlas dengan kepergian suaminya. Wanita yang kini tinggal di kawasan Wonokromo, Surabaya itu masih terus saja menangis dan menjerit­-jerit sendiri tak terima dia sudah dimadu.

“Tujuh istri datang dan menangis. Lima belas anak datang dan juga ikut tahlilan di rumah. Apa nggak bikin saya shock,” kenang dia.

Ibarat bernostalgia mengingat masa lalunya, Karin tak pernah curiga bila suaminya itu bisa memperistri banyak wanita. Tidak ada tanda­ tanda selingkuh sama sekali.

Memang sebagai tentara, Donjuan seringkali pindah dari tempat satu ke tempat satunya lagi. Ke batalyon satu ke satunya lagi. Meskipun rumah utamanya adalah di kompleks Kodam, tetapi Donjuan memang sering pindah dari kota satu ke kota lainnya.

“Kadang setahun ditinggal, kadang lima tahun. Saya sih tidak pernah curiga sama suami,” kata Karin yang terus menangis.

Karin sendiri merasa kalau dia adalah wanita yang paling cantik di hati suaminya. Dialah satu­sa-tunya permata cinta Donjuan.

Bahkan, Karin sendiri mengaku kalau semasa muda dia diperebutkan banyak tentara. Tapi, ia akhirnya memilih Donjuan karena pria itu dianggapnya yang paling spesial. Makanya itu, dia yakin kalau suaminya tak akan mengkhianatinya.

Sayangnya, semua itu hanya Karin saja yang merasa. Tidak demikian dengan Donjuan.

Kini Karin hanya bisa nelangsa. Ia tak terima ditujuhkan. Karin makin sakit hati ketika melihat kenyataan kalau ternyata istri-­istri almarhum suaminya juga lebih cantik darinya. “ Iya ada yang di bawahku (usianya, Red). Ada yang 40 tahun,” kata Karin.

Yang membuat Karin tak percaya lagi kalau semua istri­istri almarhum itu juga tahu kalau Donjuan punya istri. “Kok mau ya dimadu. Anak­ anak mereka juga pinter, ada yang kerja di kementerian dan ada pula yang jadi polisi. Padahal, gaji bapak (Donjuan, Red) lho berapa. Itupun yang saya tahu ditransfer semua ke saya,” kata ibu empat anak itu.

Mendengar ungkapan ibunya, Mira, salah satu anak Karin, langsung ngomel pada dia. “Bu yo wajar kalau bapak istrinya banyak. Pulangnya saja setahun sekali. Lha gituannya (bercinta, Red) sama siapa. Bapak juga diam, gak kayak sampeyan ngecemes ae. Sing wes yo wes. Gak usah nangis koyok bayi,” kata Mira.

Mendengar anaknya marah, tangis Karin makin menjadi­jadi. Karin bahkan mengancam akan minggat bila anak­anaknya tidak membelanya. “Aduh wes bu. Masa lalu, yang penting lak mereka datang tidak minta warisan sih. Wes cukup,” kata Mira meninggalkan Karin sendirian. Karin hanya melongo. “Nduk..nduk.. nduk..” jerit Karin sembari mengejar anaknya. (umi hany/opi)

Sumber : Jpnn.com
Reaksi: