Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto: dok jpnn
Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto: dok jpnn
JAKARTA - Institusi Polri kembali tercoreng oleh ulah oknum anggotanya di Pekanbaru, Riau, yang diduga terlibat pemerkosaan.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, pemerkosaan yang diduga dilakukan anggota Polsek Tampan, Pekanbaru, Brigadir Mar bersama empat temannya 16 Juni 2016 adalah tindakan yang sangat biadab. Ia mendesak Polri mempercepat proses kasus ini.

"Agar Brigadir Mar bisa segera dihukum mati atau dihukum maksimal dan kemudian dikebiri," ujar Neta, Sabtu (18/6).

IPW menyatakan, sebelum melakukan tindakan kebiri terhadap anggota masyarakat yang terlibat kasus perkosaan, Polri harus lebih dulu mengkebiri anggotanya yang menjadi predator seks. Sebab, beberapa waktu belakangan jumlah polisi yang menjadi predator seks bagi masyarakat makin meningkat. "Sama meningkatnya dengan jumlah anggota Polri yang bunuh diri atau membunuh orang dekatnya," papar Neta.

Ia menambahkan, kasus yang melibatkan Brigadir Mar tergolong sangat biadab. Sebab pelaku bersama empat temannya menculik dan memperkosa korban dalam mobil di jalanan. Aksi perkosaan ini dilakukan pelaku masih dengan menggunakan pakaian dinas seragam polisi. "Alasannya, karena cintanya ditolak korban," tegasnya.

Menurut Neta, aksi  biadab ini menunjukkan bahwa Brigadir Mar sangat tidak pantas menjadi polisi sebab sesungguhnya dia seorang penjahat dan predator seks bagi wanita. "Orang seperti Brigadir Mar sangat berbahaya apalagi jika ia tetap memakai seragam dan memegang senjata api," ungkapnya.

Untuk itu IPW mendesak Polda Riau segera menahannya untuk kemudian diproses hukum agar yang bisa segera dijatuhi hukuman mati atau dihukum maksimal dan dikebiri. "Tindakan tegas dan keras perlu dilakukan agar muncul efek jera, sehingga oknum-oknum polisi bisa mengendalikan hawa nafsunya," kata Neta. (boy/jpnn)

Sumber : Jpnn.com
Reaksi: