Ketiga hal dalam judul tulisan ini, yaitu uang, politik, dan agama, seringkali terasa saling dikaitkan oleh seseorang dan bahkan oleh para tokoh. Uang dianggap penting, tetapi hanya dengan uang semata rupanya disadari belum berhasil memuaskan nafsunya. Banyak orang memiliki uang tetapi juga belum merasakan kepuasan. Maka dengan uangnya itu, orang mencari kepuasan lainnya melalui kegiatan politik atau kekuasaan.

Menguasai uang dan sekaligus politik, sehingga kedua-keduanya dirasakan semakin kuat. Uangnya bisa digunakan untuk mempertahankan dan mengembangkan kekuasaannya, dan seterusnya kekuasaan bisa digunakan untuk menambah dan memperbesar jumlah uangnya. Maka dengan menguasai kedua-duanya, orang akan merasa bangga dan puas.

Oleh karena itu, uang dan kuasa dikejar, bagaimana dan apapun caranya. Namun dilihatnya bahwa, agama juga diangap penting. Agama dipandang sebagai kekuatan untuk mempertahankan kekuasaannya. Oleh karena itu, para penyandang uang dan sekaligus kekuasaa, berusaha mendekati tokoh agama. Mereka dengan caranya, mematut-matutkan diri sebagai bagian dari kelompok pemeluk agama tertentu.

Orang yang mengetahui bahwa betapa kekuatan agama diperlukan, maka sekali-kali seseorang menghiasi dirinya dengan simbol-simbol agama, seperti berpeci, persorban, bersarung, dan berbaju koko, dan semacamnya, sekalipun sebenarnya hati yang bersangkutan belum tentu condong pada agama dimaksud. Melalui cara seperti itu, ���celakanya, sementara komunitas agama mempercayai bahwa orang dimaksud benar-benar bersimpatik pada agama yang dipeluknya.

Mempermainkan uang dan politik untuk memuaskan nafsu kiranya tidak akan terlalu merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Kerugian akan terjadi manakala permainan uang dan politiknya itu melahirkan kerusakan, misalnya dengan uangnya itu digunakan untuk merusak tatanan politik atau demokrasi. Uangnya digunakan untuk jual beli kekuasaan, dan semisalnya. Akan tetapi perilaku yang demikian itu tidak akan bisa digunakan untuk mempermainkan agama secara terus menerus.

Agama tidak bisa dipermainkan sebagaimana mempermainkan uang dan politik. Siapapun yang mempermainkan agama akan segera ketahuan masyarakat. Boleh saja, seseorang menggunakan simbol-simbol agama, tetapi tidak akan segera dipercaya sepenuhnya. Selain itu juga boleh-boleh saja seseorang menggunakan uangnya untuk meluluhkan tokoh agama, tetapi masyarakat tidak mudah dibeli dengan uang atau berupa apapun.

Dahulu pada zaman Orde Baru, banyak tokoh agama didatangi oleh para pialang politik, dengan maksud agar mendukung partai politiknya. Para tokoh agama yang bersikap adaptif, bersedia menerima tawarannya dengan janji berupa dibangun pesantren dan madrasahnya, ternyata justru yang bersangkutan ditinggalkan oleh umatnya. Pesantrennya bertambah besar dan bagus, tetapi segera kehilangan masyarakat pengikutnya.

Oleh karena itu, boleh saja seseorang bermain uang dan politik untuk memuaskan nafsunya, akan tetapi tidak semudah mempermainkan agama. Keyakinan agama bersarang di hati setiap orang. Siapapun tidak mudah memalsu atau merekayasa suara hati nurani. Tatkala seseorang melakukannya, justru yang bersangkutan sendiri akan menangung resikonya. Maka, boleh bermain uang dan politik, tetapi tidak mudah mempermainkan agama. Wallahu a�lam

- Sumber: Imamsuprayogo.com
Reaksi: