Tatkala seseorang bersedia menjadi bagian dari perguruan tinggi, menjadi dosen atau guru besar misalnya, maka tugas-tugasnya tidak akan pernah selesai. Satu di antara tugas perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. Tugas itu sehari-hari dilakukan oleh para dosen dan guru besarnya. Itulah sebabnya, di perguruan tinggi selalu saja ada sesuatu yang baru. Manakala di perguruan tinggi sudah tidak ada kegiatan penelitian hingga mengakibatkan tidak terdengar lagi sesuatu yang baru, maka berarti institusi itu sudah berhenti menjadi perguruan tinggi.

Perguruan tinggi selalu menarik dari kalangan manapun adalah oleh karena memiliki sesuatu yang baru dari hasil penelitiannya itu. Para mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi semakin lama akan menjadi semakin betah di kampus oleh karena adanya hal baru dimaksud. Sebaliknya, umpama ada sementara mahasiswa yang segera bosan berada di kampus dan berlari pada kegiatan lainnya, maka sebenarnya bisa diduga bahwa yang bersangkutan tidak mengerti hal baru dan atau kemungkinan lainnya, kegiatan penelitian di kampus yang bersangkutan balum berhasil dijalankan.

Hal ganjil lainnya adalah seringkali muncul wacana, bahwa lulusan perguruan tinggi tidak match dengan lapangan kerja. Disebutkan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi tidak mudah memasuki lapangan kerja oleh karena ilmunya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Kenyataan yang demikian itu sebenarnya juga bisa diduga sebagai akibat dari faktor kegiatan penelitiannya yang belum berkembang. Perguruan tinggi seharusnya mengetahui kebutuhan masyarakat lingkungannya. Atas dasar pengetahuan itulah maka dari hari ke hari atau dari waktu ke waktu, perguruan tinggi selalu melakukan perubahan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakatnya.

Adanya lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja itu menggambarkan bahwa aktifitas penelitian, atau setidaknya kesadaran atas betapa pentingnya informasi atau data, masih lemah. Hal demikian itu sebenarnya bukan merupakan watak perguruan tinggi. Sehari-hari perguruan tinggi seharusnya berbicara tentang data, tentang informasi, hasil penelitian terbaru, buku terbaru, dan sejenisnya. Manakala hal demikian itu tidak dimiliki oleh perguruan tinggi, maka institusi pendidikan dimaksud sebenarnya sudah berada pada fase yang menyedihkan.

Pernyataan keras tersebut sudah waktunya disampaikan agar lahir kesadaran bahwa perguruan tinggi benar-benar berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya, semisal SMP atau SMA. Pada jenjang pendidikan tingkat menengah, tugas guru adalah mentransfer ilmu pengetahuan kepada para siswanya. Maka, pada lembaga pendidikan itu selalu disusun kurikulum, bahan pelajaran, dan bahkan buku teksnya. Hal itu berbeda dari pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Para dosen dan mahasiswa seharusnya dipacu untuk melakukan kegiatan penelitian. Namun anehnya, kegiatan yang berorientasi untuk menemukan, menguji dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu, ternyata belum selalu berhasil dilakukan. Sebaliknya, hal yang amat menggembirakan pada akhir-akhir ini, para siswa di tingkat SMP dan SMA, justru sudah berhasil melakukannya, sekalipun dalam jumlah dan kualitas terbatas. Tidak sedikit informasi, bahwa ada siswa SMP atau SMA berhasil mempresentasikan hasil penelitian di forum ilmiah.
Rendahnya semangat meneliti di kalangan perguruan tinggi, rupanya salah satu sebabnya adalah terlalu sederhana di dalam memaknai konsep perguruan tinggi itu sendiri. Perguruan tinggi hanya dimaknai sebagai institusi yang sehari-hari menyelenggarakan perkuliahan, ujian, dan mewisuda lulusannya. Kegiatan perkuliahan juga dihitung dalam batas minimal, yaitu berapa kali dosen harus datang dan demikian pula berapa kali mahasiswa juga menghadiri kegiatan itu. Manakala target minimal yang ditentukan itu sudah berhasil dipenuhi, maka beban itu dianggap telah selesaai dilakukan. Selanjutnya, manakala sejumlah mata kuliah telah berhasil diikuti sesuai dengan syarat yang ditentukan, maka mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus sebagai sarjana.

Memenuhi ketentuan tersebut sudah barang tentu tidak sulit. Siapa saja akan sanggup, tidak terkecuali bagi mereka yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaannya, dan bahkan bertempat tinggal jauh dari lokasi kampusnya. Sebagai akibatnya, muncul kasus-kasus yang dianggap tidak selayaknya terjadi, misalnya adanya kelas jauh, ijazah palsu, gelar palsu, dan bahkan juga perguruan tinggi yang tidak jelas statusnya. Kenyataan yang demikian itu, jika direnungkan secara mendalam, sebenarnya sangat merugikan terhadap semua pihak. Usaha-usaha untuk memperbaiki SDM, memperbaiki lembaga pendidikan dan tidak terkecuali perguruan tinggi, dan lain-lain oleh pemerintah menjadi tidak mudah dilakukan.

Umpama saja perguruan tinggi selalu mengedepankan kegiatan penelitian, yaitu misalnya setiap mahasiswa atas bimbingan para dosen dan guru besarnya sehari-hari melakukan kegiatan akademik dimaksud, maka hal-hal yang bersifat menerabas, termasuk menerabas dalam mendapatkan gelar akademik, menjadi tidak akan terjadi. Sebaliknya, perguruan tinggi akan selalu menarik oleh karena temuan-temuannya yang baru, baik yang dilakukan oleh dosen, guru besar, dan para mahasiswanya. Selain itu oleh karena padatnya kegiatan di kampus, maka tidak akan ada lagi di antara mereka yang menjadi mahasiswa hanya sekedar sambilan atau berharap memperoleh gelar dan ijazah. Jika demikian itu yang terjadi, yakni kegiatan penelitian mejadi semarak, maka perguruan tinggi akan selalu dipandang berhasil memberikan sesuatu yang baru dari hasil kegiatan akademiknya.

Sudah barang tentu, penelitian dimaksud tidak selalu harus bersifat formal dan kaku, tetapi bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di perpustakaan, laboratorium atau bagi para ilmuwan social, kegiatan itu dalam bentuk pengamatan pada obyek tertentu yang dilakukan sehari-hari, kemudian ditulis dan dipublikasikan. Dengan cara itu, maka pada setiap saat, para dosen dan guru besar menghasilkan tulisan dari hasil penelitian atau pemikirannya yang bersifat baru. Jika demikian maka perguruan tinggi akan sama artinya dengan tempat bagi orang-orang yang suka berpikir mendalam, melakukan pengamatan, uji coba atau eksperimentasi, dan hasilnya tentu baru dan menarik. Kegiatan semacam itu, oleh karena dunia yang menjadi obyek kajiannya selalu berubah secara terus menerus, maka kegiatan penelitian pun juga tidak akan mengenal Selesai. Wallahu a�lam - 

Reaksi: