Pada saat dulu pertama kali naik pesawat terbang, saya benar-benar bisa merasakan nikmat naik kendaraan modern itu. Terasa nikmat, karena baru pertma kali itu merasakannya. Selain itu, tempat duduknya sudah diatur, dilayani oleh pramugari yang kerjanya amat profesional, dan ketika terbang,------ kecuali ada awan tebal, tidak ada goncangan. Berbeda lagi ketika sudah setiap minggu bepergian, bepergian dengan pesawat terbang, terasa tidak ada kenikmatan sama sekali, bahkan kadang membosankan. Apalagi bepergian jarak jauh yang menghabiskan waktu belasan jam, sekalipun berada di kursi bisness class, sangat membosankan.

Demikian pula, ketika pertama kali naik mobil dan bahkan sepeda motor, rasa nikmatnya bukan main. Perasaan berbangga oleh karena telah berpengalaman naik sepeda motor dan juga mobil. Sekalipun kehujanan dan kondisi jalannya kurang bagus, ketika itu masih terasa enak. Mungkin hal itu disebabkan, karena sebelumnya ke mana-mana, hanya berjalan kaki, bersepeda angin atau ketika sedang di pegunungan hanya naik kuda. Akan tetapi setelah lama-lama naik mobil dan juga sepeda motor, terasa bosan. Naik mobil berlama-lama tidak merasakan nikmat.

Merasakan betapa sulitnya mensyukuri nikmat itu, saya teringat nasehat seorang kyai kepada mantan santrinya yang datang ke rumahnya. Orang dimaksud, sebenarnya hidupnya sudah jauh meningkat. Dahulunya, ia tidak punya rumah. Bersama isterinya, oleh karena penghasilannya pas-pasan, ia hanya menyewa rumah kecil. Namun demikian ia bersyukur, dan tidak lama kemudian, keluarga sederhana itu memiliki anak hingga beberapa jumlahnya. Rizki pun bertambah, dan akhirnya mampu membangun rumah sekalipun tidak terlalu besar.

Namun setelah anak-anaknya menginjak besar, dirasakan bahwa, rumah kecil miliknya sendiri itu tidak mencukupi. Seringkali terjadi keributan, karena sempitnya rumah yang ditempati itu. Sebagaimana orang desa pada zaman dahulu, jika ada persoalan, daripada mikir sendiri, alumni pesantren itu datang ke kyainya untuk berkonsultasi. Setelah semua keadaannya disampaikan, kyai memberikan solusi, yaitu agar ia membeli kambing ke pasar. Tentu atas nasehat itu, yang bersangkutan terkejut. Nasehatnya terasa tidak masuk di akalnya. Rumahnya sempit, dan tidak memiliki tempat lain, tetapi oleh kyainya disuruh memelihara kambing.

Akan tetapi oleh karena nasehat itu datang dari kyainya sendiri, maka dipenuhi. Ia ke pasar, dan pulang membawa seekor kambing. Sudah barang tentu, apa yang dilakukannya itu diprotes oleh anak dan isterinya. Orang kampung yang tidak percaya dengan hasil pikirannya sendiri itu, oleh isterinya sendiri, dianggap tidak waras, apalagi kambingnya itu ketika malam hari, ditaruh di dalam rumah yang sangat sempit. Sudah barang tentu, anak dan isterinya marah keras. Suami itu dianggap gila oleh karena mengikuti nasehat kyainya yang belum tentu memahami keadaan yang sebenarnya. Menghadapi protes anggota keluarganya itu, ia segera datang kembali ke rumah kyai, menceritakan apa yang terjadi di rumahnya setelah ia membeli seekor kambing.

Mendengar laporan tersebut, kyai justru menyalahkannya. Keributan itu terjadi oleh karena, ia hanya membeli seekor kambing. Maka, untuk menyelesaikan persoalan itu, mantan santrinya dimaksud disuruh ke pasar menambah jumlah kambingnya. Saran itu tidak masuk akal, tetapi lagi-lagi, oleh karena dahulu pernah mengaji ke kyai tersebut, apapun nasehatnya dipenuhi. Besuk harinya, ia ke pasar mencari tambahan kambing peliharaannya. Sudah pasti sesampai di rumah, isteri dan anaknya semakin ribut, marah, dan mencaci makinya. Mereka menganggap suami atau ayahnya semakin seius gilanya. Rumahnya yang sempit diisi seekor kambing saja sudah kacau, tetapi masih ditambah lagi.

Akhirnya, ia datang lagi ke rumah kyai, melaporkan apa yang telkah terjadi di rumah tangganya. Kedatangannya yang terakhir itu, kyai memberi nasehat berbeda. Mantan santrinya itu disuruhnya segera menjual semua kambingnya. Setelah semua kambing itu dijual, dianjurkan agar datang kembali ke rumah kyai, untuk melapor keadaan yang terjadi. Selanjutnya, kyai menanyakan keadaan rumahnya setelah kambingnya dijual semuanya. Disampaikan bahwa, rumahnya sudah bersih dan tidak berbau lagi. Selain itu, semua anak dan isterinya menjadi gembira dan bersyukur oleh karena di rumah tidak bercampur lagi dengan kambing.

Cerita yang saya peroleh dari mendengarkan pengajian tersebut, entah apakah benar diangkat dari realitas sebenarnya atau sekedar cerita yang dibuat-buat, akan tetapi hal tersebut menggambarkan bahwa seseorang tidak pernah puas dengan yang apa ada. Selain itu mensyukuri nikmat ternyata tidak mudah. Kenikmatan itu menjadi benar-benar terasakan, setelah seseorang mengalami keadaan sulit. Selain itu, bahwa sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan jumlahnya terlalu banyak, apalagi sudah menjadi hal biasa, maka tidak akan lagi dirasakan sebagai nikmat dan bahkan memiliki kegunaan.

Oleh karena itu, di saat memperingati hari kebangkitan nasional pada setiap tanggal 20 Mei, yang kebetulan jatuh pada hari ini, maka yang perlu kita renungkan adalah bahwa bangsa ini sebenarnya sudah jauh lebih maju, lebih makmur, dan lebih sejahtera dibanding pada zaman penjajahan dulu. Namun apa yang telah diraihnya itu, kadang tidak mudah disyukuri. Berapa dan apa saja yang telah dihasilkan, seolah-olah masih terasa kurang. Kemampuan mensyukuri nikmat itulah yang sebenarnya masih perlu ditingkatkan. Selain itu, di tengah-tengah masyarakat terasa terjadi kesenjangan yang sedemikian lebar. Jarak antara yang kaya dan miskin, semakin jauh.

Kedua kelompok tersebut, -------yang kaya dan yang miskin, sebenarnya sedang merasakan hal yang sama. Bagi yang terlalu kaya, mereka tidak merasakan kenikmatan oleh karena kekayaannya terlalu banyak. Sementara itu, yang miskin merasakan hal yang sama, oleh karena sehari-hari berkekurangan. Umpama mereka yang terlalu kaya peduli pada yang miskin, yaitu bersedia membayar zakat, infaq, shadaqah, hibah, atau apa saja namanya, maka kenikmatan itu akan dirasakan bersama-sama. Tuhan mengajarkan kepada manusia agar mau berbagi, dan tidak memelihara sifat tamak dan bakhil. Selain itu, Tuhan memberikan rizki kepada makhluknya dalam jumlah berbeda-beda, tetapi ketika membagi nikmat ternyata merata dan bahkan sama. Jumlah banyak kadang menjadi beban, sementara itu yang memperoleh sedikit justru merasakan nikmatnya. Semoga menjadi renungan di peringatan hari Kebangkitan Nasional yang bersejarah ini. Wallahu a�lam - Sumber: imamhttp://imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=2979#sthash.DivwvEOD.dpuf
Reaksi: