Terasa sekali bahwa di dalam menjalani kehidupan ini ada dua kekuatan yang selalu saling tarik menarik, yaitu nafsu dan iman. Nafsu menuntut dipenuhi, dan begitu pula iman menuntut agar selalu dipelihara. Nafsu adalah apa saja yang berkaitan dengan dunia. Misalnya, ingin menjadi kaya, unggul, pintar, memiliki keturunan, pengaruh yang luas, jabatan, dan lain-lain. Sementara itu, iman atau kepercayaan yang datang dari Allah harus dipelihara sebaik-baiknya.

Terlalu memenuhi hawa nafsu maka akan mengganggu keimanan. Sementara itu hawa nafsu tidak terbatas. Dalam soal harta, pangkat dan jabatan misalnya, orang tidak akan pernah merasa puas. Setelah setahap berhasil terpenuhi, maka akan menuntut tahap berikutnya yang lebih banyak dan berkualitas lagi. Tuntutan itu tidak ada batasnya. Itulah sebabnya, orang tidak akan berhenti mencari dan memenuhinya.

Melalui nafsu itu, orang akan tampak dinamikanya. Andaikan tidak ada orang yang memiliki nafsu untuk menjadi pemimpin, maka berbagai komunitas tidak ada lagi orang yang berminat memimpinnya. Akhirnya, suasana politik menjadi sepi. Tidak akan ada lagi perebutan kekuasaan seperti yang terjadi sekarang ini. Berbagai jabatan akan ditawar-tawarkan, dan itupun tidak akan banyak yang mau menerimanya. Gambaran itu akan terjadi oleh karena tidak ada orang yang bernafsu untuk berkuasa.

Demikian pula, andaikan orang tidak ada yang bernafsu mengumpulkan dan mencintai harta, maka keadaan ekonomi menjadi lesu. Setelah apa yang dimiliki terasa cukup, maka orang tidak akan berusaha lagi untuk menambah. Kegiatan mencari harta dan atau berusaha mendapatkan kekayaan melebihi orang lain akan berhenti. Suasana kehidupan mungkin akan menjadi statis dan tidak berkembang. Oleh karena itu, pada aspek tertentu, nafsu menjadi penting. Namun, harus dipelihara agar jangan berlebih-lebihan.

Lain halnya adalah iman. Setiap orang pada asalnya memiliki apa yang disebut iman itu. Iman bisa diartikan sebagai kepercayaan yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Oleh karena iman diberikan kepada semua orang, tanpa kecuali, maka sebenarnya semua orang berpotensi untuk melakukan kebaikan. Akan tetapi, oleh karena iman itu berada pada diri manusia, yang juga memiliki nafsu, maka terjadilah tarik menarik antara dua kekuatan dimaksud.

Orang yang terlalu memenuhi nafsunya, maka akan melakukan apa saja termasuk mengorbankan iman yang ada di dadanya. Betapa berat mengendalikan nafsu itu, sehingga tidak semua orang mampu menjaga iman yang ada padanya. Ada dua bekal pondamental agar setiap orang berhasil mengendalikan nafsu dan tidak tersesat, yaitu al Qur�an dan hadits nabi. Manakala dua bekal itu dijadikan pedoman, maka keimanan akan terpelihara. Kemuliaan seseorang adalah terletak pada kemampuannya memelihara iman, dan sebaliknya orang akan terperosok hidupnya, jika mengedepankan hawa nafsunya itu.

Siapa saja yang selalu ingat Allah dan Rasul-Nya akan mempu menjaga iman yang ada pada dirinya, dan begitu pula sebaliknya. Orang yang selalu mengikuti kehendak nafsu, maka saatnya akan sampai pada fase krisis, yaitu lupa diri. Oleh karena terlalu mengikuti nafsu berkuasa, mendapatkan harta kekayaan tanpa batas, pengaruh, dan tidak mau ada orang lain yang melebihinya, maka pada suatu saat justru akan jatuh. Nafsu yang tidak terkendalikan tidak akan menyelematkan dirinya, baik di dunia ini dan apalagi di akherat kelak. Wallahu a�lam

- Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: