Mungkin saja oleh karena jengkel dan hingga putus asa, seorang yang baru saja menyelesaikan tugas sebagai pemimpin di suatu instansi mengatakan bahwa, merawat binatang jauh lebih mudah dibanding memimpin manusia. Merawat binatang, apalagi binatang buas, memang terasa sulit tetapi tidak lebih sulit memimpin orang. Ketika perutnya sudah kenyang, binatang biasanya tidak mau menambah makanan lagi. Mereka akan beristirahat dan tidak akan memikirkan apa-apa.

Binatang memang berbeda dari manusia. Binatang memiliki akal tetapi tidak digunakan untuk berpikir dan akal itu hanya digunakan untuk berkhayal. Binatang memiliki pengetahuan, tetapi tidak dikembangkan hingga menjadi ilmu. Manusia lebih sempurna, yaitu berakal, berpikir, berkhayal, berpengetahuan, dan sekaligus juga berilmu. Sementara itu binatang hanya berakal untuk berkayal dan mengetahui sesuatu. Manusia memiliki kelebihan, tetapi justru dengan kelebihannya itu bisa merepotkan terhadap dirinya sendiri dan juga sesama. Jika tidak dibimbing oleh hatinya, kelebihan yang dimiliki oleh manusia justru akan digunakan untuk membuat kerusakan.

Mengendalikan binatang, tidak terkecuali binatang buas sekalipun, cukup dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dibatasi gerak fisiknya. Kerbau atau sapi misalnya, cukup diikat leher dan hidungnya. Dengan cara itu, binatang dimaksud sudah tidak bisa bergerak dan melakukan sesuatu secara leluasa yang bisa merusak apa saja. Demikian pula, menjinakkan binatang buas, misalnya harimau, singa, srigala, ular, buaya, dan semacamnya, maka bisa dilakukan dengan membatasi ruang geraknya dengan alat atau sarana yang sesuai dengan kekuatan binatang dimaksud.

Mengurus binatang berbeda dengan mengurus orang. Kemampuannya dalam berpikir dan berilmu pengetahuan, manusia tidak bisa dibatasi, kecuali dipenjarakan. Mendasarkan pada kemampuan akal dan ilmunya, manusia bisa bebas mengatur segala sesuatu. Mereka mampu membuat strategi, taktik, dan berbagai rekayasa, sehingga sesuatu yang semula menjadi penghalang, bisa diubah dan akhirnya justru menjadi kekuatan untuk meringankan dan bahkan memudahkan beban hidupnya.

Manusia dengan pikiran dan ilmunya, mampu mengubah kehidupan. Dahulu manusia menjalani hidupnya secara terbatas. Namun dengan ilmu dan teknologi yang diciptakannya sendiri, manusia bisa terbang, menyelam, meniru apa saja secara persis sesuai dengan yang dilihatnya. Manusia juga bisa menaklukkan berbagai jenis tantangan hidup. Udara panas bisa dibuat dingin, dan sebaliknya, udara dingin bisa dipanaskan. Angin kecang, banjir, air, cahaya, dan sebagainya yang semula merupakan sesuatru yang membahayakan, akhirnya ditaklukkan sehingga menjadi sesuatu yang berguna dan atau memudahkan bagi hidupnya.

Binatang oleh karena tidak bisa menggunakan akalnya untuk berpikir dan membangun ilmu, maka mereka tidak bisa melakukan semua yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu merawat binatang juga jauh lebih mudah dibanding merawat manusia. Manusia mampu melakukan apa saja terhadap alam, terhadap binatang, dan juga terhadap sesama, tetapi sayangnya mereka gagal dalam merawat dan mengatur dirinya sendiri. Demikian pula, manusia mampu mengalahkan siapapun, tetapi tidak selalu berhasil mengalahkan apa yang ada pada dirinya sendiri.

Akibat kegagalannya itu, manusia bisa menyombongkan dirinya di hadapan orang lain, berperilaku congkah, takabur, bakhil, dendam, hasut, permusuhan, memfitnah, mengadu domba, dan jenis kejahatan lainnya. Sekalipun demikian, manusia ternyata tidak mampu menaklukkan dirinya sendiri. Kehadiran Islam sebenarnya adalah untuk menolong manusia agar mampu mengalahkan apa yang ada pada dirinya sendiri itu. Sebab, merawat dan menaklukkan terhadap dirinya sendiri ternyata tidak semudah merawat orang lain dan juga sekedar menaklukkan binatang.

Merawat binatang cukup dengan mengendalikan atau membatasi kekuatan fisiknya, sementara itu merawat orang harus dilakukan dengan cara mengendalikan aspek nafsunya. Oleh karena kekuatan akal dan ilmu, apalagi setelah diperkuat oleh nafsu, maka mengendalikan orang jauh lebih sulit dibanding merawat binatang. Makhluk yang mampu berpikir dan sekaligus berilmu itu, kadangkala menampakkan pribadinya secara tidak jelas, atau bukan yang sebenarnya. Manusia suatu ketika menampakkan keadaannya yang lemah, tetapi dengan kelemahannya itu justru digunakan sebagai alat untuk meraih kemenangan dan atau keuntungannya. Wallahu a�lam. -

Sumber: Imamsuprayogo.com
Reaksi: