Belum lama ini, pada hari ahad yang lalu, ketika sedang di rumah, saya kedatangan tamu. Sebenarnya tamu dimaksud belum saya kenal sebelumnya. Orangnya sudah tua, dan ternyata usianya sama dengan usia saya, yaitu 66 tahun. Namun tampak, kondisi badannya masih sehat, masih mampu mengemudikan mobilnya sendiri. Pikirannya kelihatan masih cerdas, dan semangat hidupnya masih menyala-nyala.

Oleh karena saya belum mengenalnya, saya menanyakan kepadanya, dari mana dan ada keperluan apa kedatangannya itu. Ia mengaku sudah lama mengenal saya, yakni sejak saya ikut aktif terlibat dalam membangun dan membesarkan Universitas Muhammadiyah Malang dan kemudian ketika saya memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hingga beberapa lama, saya belum mengetahui maksud kedatangan tamu itu yang sebenarnya. Tetapi, ia memberikan apresiasi tentang cara kerja saya dalam mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang dilihatnya selama ini.

Setelah sekian lama, ia mengemukakan maksud kedatangannya. Yaitu bahwa setelah melihat, saya sudah berhenti dari menjadi rektor, dan dipandang masih sehat, saya diajak bekerjasama untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang diharapkan berkualitas. Ia mengaku memiliki hubungan dengan seseorang yang mampu menyediakan dana yang cukup besar. Dikatakan bahwa, dana dimaksud bisa digunakan berinvestasi, termasuk di antaranya untuk membangun lembaga pendidikan. Kedatangannya ke rumah adalah setelah mempertimbangan bahwa pengalaman yang saya miliki selama ini bisa digunakan untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang diinginkan itu.

Sekalipun telah berbincang panjang lebar, saya tidak terlalu menanggapi tawaran yang dimaksudkan itu. Saya justru mengingatkan, bahwa usia manusia itu terbatas. Paling-paling berusia 80 tahun orang sudah kelihatan tua dan bahkan sebelum mencapai umur itu sudah meninggal. Kita menyaksikan di tempat-tempat ibadah, apalagi di mall atau di tempat lain, ternyata tidak ada orang yang berumur lebih 90 tahun. Orang yang telah berumur hingga bilangan tersebut tidak berada di tempat itu, bukan oleh karena malas bepergian, tetapi memang oleh karena, mereka sudah meninggal dunia. Artinya, usia manusia itu terbatas dan hal itu seharusnya menjadi perhatian bagi semua orang.

Inti dari pembicaraan itu, saya ingin mengatakan bahwa, ketika seseorang telah berusia 66 tahun, yang sebentar lagi mau mencapai 70 tahun, dan kemudian 80 tahun, maka mau tidak mau, akan segera kembali ke rumah sejati, yaitu ke alam akherat. Semua orang akan meninggalkan dunia ini dan akan menempati rumah baru yang lebih kekal. Setelah mengingatkan hal penting itu, saya mengajak berpikir kepada tamu yang sebenarnya belum saya kenal dimaksud, yaitu apakah di usia yang sudah 66 tahun, ���usia yang bisa disebut senja ini, kita tidak sebaiknya bersiap-siap untuk kembali ke rumah yang kekal dan sejati itu.

Saya juga memberikan pandangan bahwa, untuk membekali diri agar berhasil meraih kehidupan di dunia ini, orang harus bersekolah bertahun-tahun, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, dan bahkan S3. Namun ternyata, banyak orang lupa mempersiapkan diri pada kehidupan yang lebih lama dan kekal, yaitu di akherat kelak. Kehidupan di akherat, tentu memerlukan bekal yang tidak kalah berat dibanding kehidupan di dunia yang hanya sebenar ini. Sukses di dunia memerlukan bekal berupa kecerdasan, ketrampilan, akhlak mulia, kesehatan, dan lain-lain. Sementara itu bekal ke akherat, sekalipun dilupakan oleh banyak orang, sebenarnya lebih berat lagi.

Bekal ke akherat, tentu bukan sebagaimana yang diperlukan di dunia, tetapi berupa hati yang bersih dan suci atau iman yang terjaga, dan amal shaleh. Bersih dan suci adalah kata kunci agar selamat tatkala menghadap kepada Dzat Yang Maha Suci. Kepada tamu yang kebetulan berumur sama dengan umur saya tersebut, saya mengatakan, bukankah kita seharusnya lebih tepat membuat proyek yang relevan dengan perbaikan kualitas diri sendiri yang akan kita gunakan sebagai bekal di akherat yang sebentar lagi akan datang. Namun, saya juga mengatakan bahwa, apa yang kita lakukan selama ini sebenarnya juga telah bermakna sebagai bekal di akherat kelak. Akan tetapi maksud saya, jika di umur senja seperti ini masih harus menanggung beban harta orang lain, maka akan sangat berkemungkinan ketika kembali ke rumah sejati, kita masih meninggalkan hutang, dan belum tahu siapa yang akan membayarnya.

Saya mengajak kepadanya membaca diri masing-masing, bahwa sekarang ini kita sudah bercukupan, yakni sudah memiliki rumah untuk berteduh, memiliki pakaian, kebutuhan hidup sehari-hari tidak berkekurangan, dan demikian pula lainnya. Umpama semua itu masih harus ditambah, maka bukankah justru akan menambah beban kita tatkala kembali ke rumah sejati. Maka, yang seharusnya masih perlu diperbanyak adalah bekal ke akherat yang saya maksudkan itu. Boleh saja kita tidak berhenti bekerja untuk kepentingan umat, tetapi sebisa-bisa seharusnya memilih jenis kegiatan yang tidak terlalu beresiko atau harus menanggung beban milik orang lain. Dalam usia senja, kiranya tidak perlu menambah hutang melainkan harus segera melunasi hutang. Dengan cara berpikir seperti itu, tatkala kembali ke rumah sejati, maka bekal itu telah cukup, iman tetap terjaga, hati dalam keadaan tenang, dan tidak terlalu banyak beban yang harus dibawa. Wallahu a�lam -

Sumber :Imamsuprayogo.com
Reaksi: