Sejak masa kecil dulu, saya sudah mendengar istilah harta karun. Diceritakan bahwa harta karun itu memang ada, hanya saja tempatnya yang belum diketemukan. Jumlah harta karun itu dikatakan melimah, sehingga siapa saja yang berhasil menemukan dan memiliki akan menjadi kaya raya. Banyak orang berkeinginan menemukan harta itu, tetapi sampai hari ini ternyata belum ada berita bahwa ada orang yang berhasil. Mungkin saja, harta karun itu memang ada, tetapi sebenarnya siapapun tidak ada yang tahu, apa sebenarnya yang dimaksudkan itu.

Harta kekayaan yang diburu oleh setiap orang sebenarnya ada di mana-mana, dan bahkan dalam jumlah yang tidak terbatas. Banyak orang mengatakan bahwa harta itu terbatas, tetapi sesungguhnya tidak demikian itu. Jika seseorang mengetahui kunci untuk mendapatkannya, maka jumlah harta itu tidak terbatas. Rakhmat Allah itu sesungguhnya tidak terbatas, sedangkan yang terbatas adalah kemampuan manusia untuk menggali dan mengeksploitasi berbagai potensi yang tersedia itu.

Jumlah kekayaan itu menjadi terbatas oleh karena kemampuan manusia untuk mendapatkannya yang terbatas. Hal itu bisa dilihat dari apa yang terjadi pada bangsa kita ini. Bangsa ini memiliki berbagai jenis sumber kekayaan yang luar biasa banyaknya. Berbagai jenis tambang, tanah yang luas dan subur, lautan yang hampir tidak terbatas luasnya, hutan, dan lain-lain, namun oleh karena keterbatasan ilmu dan juga modal yang tidak mencukupi, maka potensi itu tidak bisa dimanfaatkan. Terpaksa sumber kekayaan yang dimaksudkan itu pengelolaannya diserahkan kepada orang lain yang memiliki ilmu, teknologi, dan juga modal.

Negara-negara yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi maka menjadi maju dan makmur. Mereka itulah yang menguasai dunia ini. Sekalipun tidak memiliki sunmber daya alam yang cukup, tetapi oleh karena berhasil mengembangkan sumber daya manusia, maka negara-negara dimaksud berhasil menguasai segalanya. Amerika, Eropa, Jepang, China, dan lain-lain bisa menjadi maju oleh karena berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, negara-negara berkembang masih gagal dalam mengembangkan ilmu dan teknologinya. Akibatnya, keadaannya selalu tertinggal.

Melihat kenyataan itu, maka harta karun itu sebenarnya terletak pada setiap diri orang, atau pada setiap bangsa. Hanya saja tidak semua orang atau bangsa sanggup menggali atau mengeksploitasinya. Padahal semua orang memiliki potensi yang sama. Sedangkan yang membedakan hanyalah kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan potensi yang telah diberikan oleh Allah kepada masing-masing orang dan masing-masing bangsa. Siapa saja yang memiliki kemauan dan berusaha sungguh-sungguh, maka akan berhasil. Begitu pula sebaliknya, mereka yang sekedar meniru saja tidak mau dan juga tidak mampu, maka akan semakin jauh tertinggal.

Maka kunci agar berhasil menggali dan menemukan harta karun itu adalah pendidikan. Manakala pendidikan dikembangkan maksimal dan bukan sekedar mengejar aspek formalnya belaka, maka harta karun itu akan berhasil ditemukan. Harta karun itu sebenarnya bukan berada di dalam tanah, di kedalaman lautan, di kaki gunung, atau di mana-mana, melainkan berada di dada masing-masing orang. Manakala apa yang ada di dalam dada setiap orang dikembangkan, maka akan memperoleh harta karun yang dimaksudkan itu. Sedangkan yang dimaksudkan mengembangkan apa yang ada di dalam dada masing-masing orang adalah mengembangkan kemauan, kemampuan mencipta dan memprakarsa, sehingga hasilnya adalah kekayaan melimpah dan tepat disebut harta karun yang selama ini dicari-cari itu. Wallahu a�lam -

Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: