Perasaan cukup ternyata tidak selalu dimiliki oleh setiap orang, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak orang selalu merasakan  berkekurangan, sekalipun sebenarnya pada ukuran-ukuran tertentu apa yang ada pada mereka sudah sangat berlebih. Apa saja yang dimiliki dirasakan  masih kurang, dan atau masih kalah dibandingkan dengan milik orang lain.

Hanya sedikit saja orang yang berhasil merasakan bahwa apa yang dimiliki sebenarnya sudah cukup. Perasaan itulah yang menjadikan hatinya tenang dan dalam bahasa agama disebut telah berhasil bersyukur terhadap apa yang diraih dan  dimilikinya.  Orang yang tidak pernah merasa cukup dan bersyukur akan selalu gelisah untuk menambah dan atau menjaga agar yang berhasil dimilikinya tidak berkurang.

Perasaan berkekurangan secara terus menerus sebagaimana yang dimaksudkan  tersebut utamanya adalah menyangkut  kenikmatan duniawi, pemenuhan hawa nafsu, harta, kekuasaan, dan semacamnya. Anehnya, kenikmatan yang justru  bersifat mendasar, yaitu terkait dengan kebutuhan hidup yang sebenarnya justru merasa segera puas. Kebutuhan hidup yang mendasar dan berjangka panjang itu misalnya adalah menyangkut ilmu pengetahuan, kesadaran berkorban, kepedulian terhadap orang lain, kedekatan dengan Tuhan, dan sejenisnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan, seseorang yang sudah memiliki harta melimpah, misalnya memiliki rumah besar, kendaraan mewah, tabungan, berbagai jenis perusahaan, dan lain-lain, ternyata justru lebih bersemangat menambah dibanding orang yang hanya memiliki harta seadanya. Semua pikiran, tenaga, dan kesempatannya  dihabiskan untuk menambah kekayaan yang sudah melimpah.  Padahal sebenarnya, apa yang sudah dimiliki itu tidak terbayang akan bisa  dihabiskan sepanjang hidupnya. Akan tetapi anehnya,  yang bersangkutan masih berusaha menambahnya.

Demikian pula terkait dengan jabatan atau kekuasaan. Orang tidak pernah puas dengan kekuasaan yang dimiliki. Seseorang yang telah menduduki jabatan tertentu, maka segera tumbuh keinginan meraih jabatan pada jenjang yang lebih tinggi, dan begitu pula  seterusnya. Seorang yang menduduki jabatan kepala desa misalnya,  menghendaki  agar suatu ketika menjadi camat, kemudian berkeinginan naik menjadi bupati, selanjutnya menjadi gubernur, dan jika  ada peluang berkeinginan menjadi  menteri,  atau jabatan lebih tinggi lagi.

Sebaliknya,  terkait dengan kebutuhan  yang lebih mendasar  dalam kaitannya dengan kemanusiaan yang sebenarnya, ternyata segera merasa puas. Orang segera merasa cukup dalam berkorban,  prestasi dalam mengejar ilmu pengetahuan, kesediaan dalam mendekatkan diri pada Tuhan, dan seterusnya. Lebih jelasnya lagi, orang segera merasa cukup dalam membaca kitab suci sekalipun baru dilakukan secara terbatas. Demikian pula dalam hal serupa, misalnya dalam berinfaq, bershadaqah, membantu orang lain, shalat malam, dan seterusnya.

Adanya sifat dasar manusia, yaitu di antaranya pantang berkekurangan dalam hal-hal yang bersifat duniawi, seperti kepemilikan harta, kekuasaan, pengaruh, jabatan, dan semacamnya itu maka menjadikan orang bersikap tamak, rakus, bakhil, miskin rasa syukur, dan tidak pernah merasakan kepuasan. Sebaliknya,  yang ada pada mereka adalah perasaan serba berkekurangan atau merasa tidak cukup,  sekalipun keadaannya  sudah berlebih. Perasaan seperti digambarkan itulah yang melahirkan persaingan, perebutan, dan konflik di berbagai lapangan kehidupan.     

Perasaan serba berkekurangan yang ada pada diri manusia itu ternyata tidak bisa dihilangkan hanya lewat pendidikan, dan atau  berlatih melalui sekolah.  Persoalan menyangkut hati hanya bisa diselesaikan oleh yang memiliki hati itu sendiri. Caranya adalah memohon kepada Allah dan Rasul-Nya, agar diubah. Itulah sebabnya, setiap orang dibimbing agar selalu memohon petunjuk pada setiap saat, utamanya pada setiap menjalankan shalat lima waktu. Manakala petunjuk itu berhasil diperoleh maka tidak akan ada kekuatan apapun yang bisa menyesatkan, dan begitu pula sebaliknya.  Namun,  orang yang berhasil mendapatkan petunjuk hingga mampu bersyukur dan  merasa berkecukupan,  ternyata jumlahnya tidak banyak. Semoga kita menjadi yang tergolong sedikit itu.

Sumber : Imamsuprayogo
Reaksi: