KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah baru saja diberhentikan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menanggapi pemecatan itu, dia malah menyebutkan bahwa dirinya mirip dengan Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple.

"Saya ini kayak Steve Jobs, ditendang dari Apple, keluar sebentar, nanti balik yang membesarkan Apple karena kader mengharapkannya begitu," ujar Fahri mengibaratkan dirinya sendiri.

Baca: Fahri Hamzah: Saya Ini Kayak Steve Jobs

Semirip apakah cerita Fahri dengan riwayat hidup Jobs yang mendirikan dan membesarkan perusahan pembuat iPhone dan iPad itu?

Memang benar Jobs pernah hengkang dari perusahaan yang dia dirikan. Dia meninggalkan Apple karena perseteruannya dengan CEO Apple saat itu, John Sculley.

Awal perseteruan Jobs dan Sculley adalah saat menentukan harga untuk penjualan Macintosh 128K. Komputer yang satu ini sebenarnya dirancang dengan harga merakyat, di kisaran 1.000 dollar AS.

Baca: Sepuluh Karya Terpenting Steve Jobs

Namun seiring tahun demi tahun dan pengembangan yang berjalan, harganya naik hampir dua kali lipat. Sebelum peluncuran, Jobs memilih harga 1.995 dollar AS tapi Sculley merasa pilihan tersebut kurang mahal.

Sculley tetap berkeras menaikkan harga Macintosh dan dilepaskan komputer tersebut dengan banderol 2.945 dollar AS. Jobs yang tidak setuju dengan langkah tersebut, mulai geram.

Perseteruan terus berlanjut hingga akhirnya Sculley meminta dewan perusahaan untuk memilih mempertahankan dirinya atau Jobs. Dewan pun memilih Sculey dan Jobs pun dipindahkan ke posisi sebagai Chairman Apple.

Sebenarnya posisi yang ditempati Jobs merupakan peningkatan jabatan. Tapi peran tersebut tak cocok bagi dirinya yang ingin terus bergerak dan berinovasi.

Jobs mengundurkan diri dari Apple dan mendirikan NeXT, sebuah perusahaan yang merancang dan membuat workstation canggih untuk kampus-kampus. Dia juga membajak sejumlah pegawai penting Apple.

Dua belas tahun kemudian

Kepergian Jobs tidak sebentar. Setelah 12 tahun hengkang dan berkutat dalam usaha membesarkan NeXT, pria kelahiran San Francisco ini akhirnya kembali ke Apple.

Saat itu, NeXT yang didirikannya sudah mulai membesar. Mereka menjual hardware, meski tidak selaris penjualan Apple. Selain itu mereka juga membuat sebuah platform sendiri.

Platform atau sistem operasi itulah yang kemudian menjadi penyebab Jobs pulang ke Apple. Atau lebih tepatnya, Apple yang sedang membutuhkan sistem operasi baru memutuskan untuk membeli NeXT seharga 429 juta dollar AS.

Selain itu, Apple juga menawarkan 1,5 juta lembar saham dan otomatis membeli Steve Jobs untuk kembali ke perusahaan lamanya.

Jobs meyakinkan dewan direksi untuk melepaskan CEO Apple saat itu, Gil Amelio. Sebagai gantinya Jobs diangkat menjadi CEO baru.

Restrukturisasi dan perbaikan pun terjadi. Lini produk disederhanakan, perjanjian lisensi ditputus, dan Apple membesar menjadi perusahaan yang kita kenal sekarang.

Membandingkan Fahri dan Jobs

Adalah hak pribadi Fahri Hamzah untuk menyamakan kisahnya dengan Steve Jobs. Namun, mari kita telisik klaim kesamaan tersebut.

Pertama, Fahri baru bisa mengklaim sama dengan Jobs jika nanti diterima kembali ke PKS. Itu pun setelah 12 tahun, seperti kisah Steve Jobs.

Jobs kembali ke Apple setelah membuat perusahaan baru NeXT yang cukup sukses. Jika ingin seperti Job, Fahri sebaiknya membuat dan membesarkan sebuah partai politik. Baru kemudian balik ke PKS.

Proses kepergian Jobs dari Apple memang didahului konflik dengan CEO Apple, mirip Fahri dan PKS. Namun, Jobs ditawari posisi lebih tinggi sedangkan Fahri tidak mendapatkan tawaran jabatan apa pun.

Jobs keluar dari Apple tidak dipecat tetapi secara suka rela. Seperti diketahui, Fahri malah mengaku akan melawan pemecatannya sampai ke Mahkamah Agung.

Dia menggugat tiga pihak mengenai masalah pemecatannya dari segala jenjang kepartaian. Tergugat itu adalah Presiden PKS, Majelis Tahkim PKS dan Badan Penegak Disiplin Organisasi PKS. Baca: Dipecat, Fahri Hamzah Gugat Presiden PKS, Majelis Syuro, dan BPDO

Apakah perjalanan Fahri akan mirip dengan Steve Jobs, setidaknya mungkin untuk bagian kembali dan membesarkan organisasi yang memecatnya? Kelanjutan cerita ini menarik untuk terus disimak.

Sumber : Kompas.com
Reaksi: