Mungkin saja ada pandangan bahwa akhlak bisa diperbaiki oleh sembarang orang, termasuk guru, dosen, ustadz, kyai, atau ulama. Mereka mengira bahwa akhlak bisa diperbaiki dari mendengarkan ceramah, mengaji, membaca buku, dan sejenisnya. Dipandang oleh sementara orang bahwa, setelah melakukan kegiatan tersebut, akhlak seseorang menjadi berubah, yaitu dari semula tidak baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Akhlak adalah perilaku yang bersumber dari hati yang bersangkutan. Berawal dari hati itulah maka akan memunculkan perilaku. Manakala hatinya baik, maka perilaku yang ditimbulkan akan baik dan demikkian pula sebaliknya Oleh karena merupakan perbuatan hati, maka tidak ada yang bisa memaksanya. Hati tidak bisa dipaksa oleh siapapun sesama manusia, termasuk oleh pemiliknya sendiri.

Bisa saja perbuatan seseorang bukan atas perintah hatinya sendiri, melainkan oleh dorongan nafsunya, atau bahkan juga atas perintah akalnya. Perbuatan yang demikian itu biasanya tidak selalu membuahkan kebaikan oleh karena bukan diperintah oleh kekuatan yang seharusnya memerintahkannya. Perbuatan yang didasarkan pada emosi atau juga akal bisa jadi akan mencelakakan dirinya sendiri

Berbagai jenis kejahatan biasanya didirong oleh emosi, nafsu, dan juga akalnya. Pertimbangan nafsu dan juga akal biasanya adalah untuk memperoleh keuntungan, kemenangan, dan keunggulan tanpa mempertimbangkan kebaikan dan keselamatan. Akhlak mulia adalah perilaku yang bersumnber dari kekuatan hati yang bersih dan sehat, sehingga hasilnya selalu benar.

Oleh karena itu, menyempurnakan akhlak mulia sebenarnya adalah membersihkan dan menyehatkan hati itu sendiri. Untuk melakukan tugas itu tidak bisa dijalankan oleh sembarang orang, kecuali oleh dirinya sendiri. Bisa saja orang lain memberikan saran, nasehat, petuah, tetapi otoritas untuk menggunakan berbagai nasehat dan semacamnya tersebut adalah yang bersangkutan sendiri.

Betapa banyak orang yang tidak jujur, sombong, bakhil, riya�, hasut, bermusuhan, memfitnah dan semacamnya, setelah yang bersangkutan mendapatkan nasehat dari berbagai kalangan, ternyata perilakunya tetap saja sebagaimana semula. Perilaku yang bersangkutan tidak berubah, sekalipun sehari-hari mendapatkan masukan agar melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Mereka yang bakhil tetap bakhil, yang iri dan hasut juga tetap saja iri dan hasut, dabn demikian pula yang suka bermusuhan tidak pernah berubah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya tidak mudah dan bahkan tidak mungkin membangun akhlak mulia terhadap semua orang. Itulah sebabnya al Qur�an memerintahkan agar menjaga dirinya sendiri dan keluarganya dari api neraka. Selain itu, Tuhan tidak menganjurkan agar seseorang memperbaiki akhlak orang lain, kecuali tugas itu diberikan kepada utusan-Nya, yaitu Muhammad saw. Bahkan juga disebutkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Maka artinya seseorang bisa saja mengubah ekonomi, politik, sosial, kepintaran, dan lain-lain yang dimiliki oleh orang lain, tetapi tidak akan mampu mengubah hati atau akhlaknya. Akhlak seseorang bisa berubah oleh karena ada kekuatan yang mengubahnya. Kekuatan itu hanya datang dari diri sendiri setelah mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah dan Rasul-nya.

Tugas menyempurnakan akhlak mulia itu sebenarnya hanya ada pada utusan Allah, yaitu Muhammad saw. Selain Rasul, tugasnya hanya memberi masukan, nasehat, bermusyawarah atau memberi bahan pertimbangan. Oleh karena itu kita seharusnya selalu berdo�a atau memohon agar akhlak yang ada pada diri kita masing-masing berhasil berubah menjadi lebih baik dan mulia. Wallahu a�lam
- Sumber : imamsuprayogo.com
Reaksi: