Sudah beberapa kali kegiatan wisuda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saya tidak bisa mengikuti oleh karena ada kegiatan di luar kota dan bahkan di luar negeri. Pada wisuda sarjana, hari Sabtu, tanggal 19 Maret 2016, saya berusaha untuk menyempatkan hadir. agar tidak terlalu sering meninggalkan kampus pada acara penting yang dihadiri oleh banyak kalangan.

Banyak hal yang saya rasakan menggembirakan dari acara wisuda sarjana itu, di antaranya, adalah semakin banyak lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang selain berprestasi di bidang akademik juga berhasil menghafalkan al Qur�an hingga sempurna, yaitu 30 juz. Yang agak mengagetkan lagi, mereka yang hafal al Qur�an hingga sempurna itu ternyata lebih banyak berasal dari fakultas sains dan teknologi.

Kenyataan tersebut menghapus kesan negatif, bahwa orang yang menggeluti bidang sains akan semakin menjauh dari kitab suci. Namun pada kenyataannya, atau paling tidak yang terjadi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak sebagaimana kesan itu. Justru mereka yang mempelajari sains ternyata semakin dekat pada al Qur�an dan bahkan mampu menghafalkannya hingga sempurna.

Hal lain yang terjawab dari kenyataan tersebut adalah bahwa, kegiatan menghafal al Qur�an tidak mengganggu dalam mempelajari sains, dan juga sebaliknya mempelejari sains tidak mengganggu upaya menghafal al Qur�an. Kenyataan yang menggembirakan dan sekaligus membanggakan seperti itu sebenarnya sudah lama bisa dilihat. Sejak kampus ini berubah dari sekolah tinggi menjadi universitas, pada setiap wisuda, mahasiswa yang berprestasi akademik tertinggi adalah para penghafal al Qur�an hingga 30 juz.

Banyaknya mahasiswa yang menghafal al Qur�an dan ternyata akademiknya juga berhasil sebenarnya adalah sekaligus menjawab kekhawatiran dari sementara pihak akan terjadinya pendangkalan agama di perguruan tinggi Islam ketika statusnya berubah dari sekolah tinggi menjadi universitas seperti sekarang ini. Menjelang diusulkan perubahan STAIN menjadi UIN, tidak sedikit orang yang khawatir, ilmu agama menjadi hilang dan orang hanya akan sibuk belajar ilmu umum atau sains. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang digambarkan itu. Kedua-duanya bisa berjalan bersamaan, yaitu mahasiswa belajar agama dan sekaligus juga belajar ilmu umum.

Mengikuti petunjuk al Qur�an dan hadits Nabi, kaum muslimin seharusnya mempelajari apa yang ada pada dirinya sendiri dan juga tentang alam semesta. Manusia dianjurkan oleh al Qur�an untuk mempelajari kejadian dirinya dan juga penciptaan langit dan bumi. Semua itu dimaksudkan agar yang bersangkutan berhasil mengenal Tuhannya. Oleh karena itu sebenarnya mempelajari sains adalah merupakan implementasi dari perintah Allah yang disampaikan melalui al Qur�an dan hadits nabi.

Hal yang sangat menggembirakan, bahwa menurut informasi, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mengikuti kegiatan menghafal al Qur�an jumlahnya semakin meningkat pada setiap tahunnya. Pada tahun ini jumlah mereka yang ikut menghafal al Qur�an sudah tidak kurang dari 20 % dari seluruh mahasiswa, yaitu lebih dari 2.000 (dua ribu) orang. Melihat data itu, kita seharusnya bertambah optimis terhadap masa depan. Kekhawaitran perubahan STAIN dan IAIN menjadi UIN seharusnya diubah atau dibalik, yaitu justru seharusnya didorong atau dipercepat.

Namun perubahan tersebut harus bersifat total, yaitu menyangkut berbagai hal lainnya secara menyeluruh harus diubah. Selain menyangkut kelembagaannya, maka mental, cara pandang terhadap perguruan tinggi, cara kerja, sistem, dan berbagai hal lainnya harus diubah. Tidak boleh, sudah menjadi universitas tetapi pikiran orang yang ada di dalamnya masih sempit atau bagaikan berjalan di lorong-lorong. Jika masih demikian itu yang terjadi, maka perubahan tersebut tidak akan ada artinya. Selain itu, harus ada keberanian melakukan langkah-langkah sebagai penyempurna dari perubahan tersebut, misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh UIN maulana Malik Ibrahim Malang meningkatkan pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris, menyempurnakan kampusnya dengan ma�had, adanya kemauan menghilangkan sekat-sekat primordial, dan sebagainya.

Jika hal tersebut berhasil dilakukan, maka harapan agar perguruan tinggi Islam melahirkan sosok ulama yang intelek profesional dan atau intelek profesional yang ulama maka tidak mustahil akan berhasil diwujudkan. Perguruan tinggi Islam akan menjadi alternatif ideal dan bahkan akan menjadi contoh bagi pengembangan perguruan tinggi lainnya. Di tengah-tengah banyak orang mengabaikan kualitas, maka perguruan tinggi Islam harus tampil dengan kelebihannya, di antaranya adalah banyaknya para lulusannya, selain berprestasi akademik sekalipun penghafal kitab suci dimaksud. Indah sekali. Wallahu a�lam. -

Sumber :imamsuprayogo.com

Reaksi: