Di tengah-tengah kesibukan dan apalagi pada saat tidak melakukan kegiatan apa-apa, sering terlitas pikiran tentang Tuhan dan rasul-Nya. Menerungkan sedikit saja tentang kejadian dan melihat apa saja di kanan kiri, terbayang begitu dahsyat ciptaan Allah. Kehidupan tampak beraneka ragam bentuk dan jenisnya, semua hidup teratur, berupa binatang, tumbuh-tumbuhan, batu, air, udara, angin yang selalu bergerak, sinar, cahaya, dan lain-lain. Semua itu ada, tentu ada yang mengadakan, menghidupkan, dan sekaligus mengaturnya.

Ternyata Tuhan tidak bekerja sendirian. Ia menciptakan pembantu dan utusan-Nya, yaitu malaikat, nabi dan rasul-Nya. Dalam keimanan Islam, Tuhan menciptakan para rasul dan yang terakhir adalah Muhammad saw. Menurut riwayat Abu Dzar, ada 124.313 nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, dengan rincian 124.000 nabi dan 313 rasul. Terakhir utusan itu adalah Muhammad. Dalam berbagai keterangan di dalam al Qur�an, posisi Muhammad sedemikian dekat dengan Allah.

Setiap orang yang menyatakan diri sebagai telah mempercayai dan menganut Islam, maka harus mengucapkan dua kalimah syahadat. Kesaksian bahwa tidak ada tuha selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Kesaksian itu tidak cukup hanya satu, misalnya hanya bersaksi bahwa Allah sebagai tuhannya. Sifatnya, bukan sekedar menyempurnakan, melainkan kedua-duanya harus diucapkan secara beruntun. Sebab Tuhan tidak akan dikenal tanpa ada utusan-Nya, yakni Muhammad.

Demikian pula di dalam banyak ayat-ayat al Qur�an ketika menyebut nama Allah, maka selalu diikuti dengan menyebut rasul-Nya. Mentaati Allah maka selalu ditambah dengan mentaati rasul-Nya. Bahkan juga mentaati rasul-Nya dipandang sama dengan mentaati Allah. Maka posisi rasul sedemikian dekat dengan Allah. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin mendekat pada Allah, maka harus juga mendekati Rasul-Nya. Tanpa mendekat pada rasul-Nya, maka tidak akan nyampai. Tuhan menyampaikan ayat-ayat kitab suci juga tidak langsung kepada manusia, melainkan melalui rasul-Nya yang ditunjuk, yaitu Muhammad saw.

Oleh sebab itu, sehari-hari selain harus berusaha mencintai Allah juga sekaligus mencintai Rasul-Nya. Mentaati Allah juga mentaati rasul-Nya. Dan juga, mentaati rasul-Nya dianggap mentaati Allah. Keduanya, yaitu Allah dan rasul-Nya tidak boleh dipandang secara terpisah. Memang antara keduanya berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan. Mencintrai Allah, juga harus mencintai rasul-Nya. Semoga, kita mendapatkan taufiq dan hidayah, selalu mencintai Allah dan rasul-Nya secara total. Wallahu a�lam -

Sumber :  Imamsuprayogo.com
Reaksi: