Ber-Islam bagi semua pemeluknya adalah tentu bukan untuk menyiksa diri, agar lebih menderita, lebih susah, lebih ribet, dan semacamnya, melainkan agar meraih kebahagiaan dan keselamatan sejati. Bahkan keselatan dan kebahagiaan yang dimaksud tidak terbatas, yaitu meliputi di dunia maupun di akherat kelak. Orang beragama berkeyakinan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tidak lama. Kehidupan yang justru sebenarnya adalah di akherat.

Selain hal tersebut, bagi orang yang beragama, kehidupan menyangkut aspek jasmani dan rohani. Keduanya harus dirawat dan sukses. Meraih satu aspek tetapi gagal atau apalagi mengorbankan lainnya dianggap bukan sejati. Secara jasmani berhasil tetapi pada wilayah ruhani gagal maka masih merugi, dan begitu pula sebaliknya. Hal demikian itu sejalan dengan doa yang sehari-hari dibaca, yaitu memohon agar memperoleh kebaikan, baik di dunia maupun di akherat.

Beragama seharusnya menyenangkan. Kegiatan agama yang dimaksudkan itu meliputi aspek ritual, sosial maupun intelektualnya. Dalam kegiatan ritual disebut menyenangkan jika diperoleh kekhusu�an dan kepuasan karena merasa berhasil bertemu dengan Tuhannya. Hal demikian itu menjadikan hatinya lapang, teduh, dan damai. Menjadi semakin sempurna karena dari kegiatan ritual itu pula terbangun komunikasi dengan sesama secara dekat, terbuka, dan ikhlas.

Sebaliknya, bukan justru merasa menang dan berhasil mengalahkan yang lain, merasa benar sendiri sedangkan lainnya kalah, merasa memiliki lebih banyak pengikut, sementara yang lain terbatas atau lebih sedikit. Tentu bukan demikian itu yang dimaksud dalam beragama. Melalui kegiatan ritual agar mendapatkan kedamaian, baik dengan Tuhan atau dengan sesama. Buah kegiatan shalat berjama�ah di masjid misalnya, akan memperoleh kedamain, baik dengan Tuhan maupun sesama jama�ah. Damai adalah kata kuci yang amat penting yang seharusnya lahir dari kegiatan ritual yang dimaksudkan itu.

Demikian pula agama yang berkaitan dengan kegiatan sosial, seharusnya mendatangkan kedamaian dan keselamatan sejati. Berbagai jenis kegiatan dimaksud, baik yang menyangkut politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Oleh karena Islam selalu menjaga kejujuran, keadilan, menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak setiap orang, dan lain-lain yang sifatnya terpuji maka dalam implementasinya akan berhasil menyelesaikan berbagai problem yang selalu berakhir menyenangkan bagi semua pihak.

Hal demikian tersebut adalah merupakan gambaran yang seharusnya terjadi. Namun pada kenyataannya, baik kegiatan ritual maupun sosial seringkali melahirkan suasana yang tidak sebagaimana dimaksudkan itu. Beragama malah melahirkan konflik, peseteruan, saling mencurigai, berebut kemenangan, dan seterusnya. Agama tidak mengajarkan yang demikian itu. Kemenangan dalam beragama adalah tatkala seseorang berhasil mengalahkan musuh yang ada pada dirinya sendiri masing-masing.

Umpama saja orang lain dianggap atau diposisikan sebagai musuh, maka musuh yang dimaksudkan itu bukan untuk dihancurkan, melainkan justru diselamatkan dan diajak secara bersama-sama untuk melakukan kebaikan. Itulah sebabnya, mengajak kepada kebaikan harus melalui cara yang baik, bijak atau bil hikmah. Pemaksaan dalam beragama tidak dibenarkan. Karena itu, beragama seharusnya tidak melahirkan permusuhan dan atau berbuat sesuatu apa saja yang mendatangkan rasa sakit hati bagi orang lain.

Dalam kaitannya dengan aspek intelektual, Islam menganjurkan umatnya untuk menggali ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Rahasia penciptaan langit dan bumi dipersilahkan untuk diteliti dan dipahami. Bahkan orang yang di antaranya melakukan perenungan terhadap penciptaan langit dan bumi itu diberi sebutan ulul al baab. Sebutan itu sedemikian mulia, diberikan kepada orang yang selalu ingat Allah pada setiap waktu, memikirkan dan merenungkan penciptaan langit dan bumi, serta meyakini bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.

Beragama atau Ber-Islam sebagaiamana digambarkan itu, jika dijalankan sepenuh hati, maka akan melahirkan keselamatan dan kebahagiaan sejati. Orang beragama akan terjaga hatinya melalui kegiatan ritual. Pikirannya diajak untuk memahami ciptaan Allah seluas-luasnya, dan kepada sesama harus peduli, mengedepankan akhlak mulia dan tidak boleh menyakiti dan apalagi membunuh. Dalam Islam menyakiti seorang sama artinya dengan menyakiti manusia seluruhnya. Beragama memang untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan sejati. Wallahu a�lam -

Sumber: imam suprayogo
Reaksi: