Dalam al Qur�an dijelaskan bahwa, Tuhan mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya. Maka artinya, setiap benda memiliki nama, atau setiap nama selalu ada pemiliknya. Tidak ada benda yang belum punya nama, demikian pula sebaliknya, ada nama tetapi tidak ada bendanya. Jika demikian yang terjadi, tentu ada persoalan, dan persoalan itu tentu bersumber dari manusianya sendiri. Mereka mengenal nama, tetapi tidak mengetahui barangnya, atau sebaliknya mengetahui bendanya tetapi belum tahu namanya.

Memang seringkali kita menyebut nama, kata, dan atau istilah, tetapi ternyata kita sendiri belum tahu siapa yang memiliki nama, kata, atau istilah itu. Sekalipun belum jelas, kita biarkan saja, seolah-olah kita sudah mengetahui atau mengerti pemilik nama itu, padahal sebenarnya memang belum tahu. Kita menyebut kata agama, kata Islam, kata nabi, kata Tuhan, kata Qur�an, seolah-olah kita dan atau semua orang telah tahu, padahal ternyata banyak orang yang tidak tahu.

Mendengar kata Islam misalnya, bagi orang yang telah lama belajar, segera memahami bahwa apa yang disebut atau dikatakan itu adalah nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, datang dari Tuhan. Agama itu mengajarkan kasih sayang, bersyukur, tentang keselamatan, tentang kebahagiaan baik di dunia hingga di akherat. Akan tetapi, nama Islam itu, karena tidak diketahui, ternyata banyak disalah-pahami. Dikira, Islam itu adalah ajaran yang membahayakan, mengajarkan permusuhan, saling bunuh-membunuh, dan seterusnya.

Akibatnya, banyak orang membenci dan takut dengan kehadiran Islam. Orang yang tidak mengerti tentang Islam kemudian berusaha sekuat tenaga mencegah siapa saja belajar atau memahami Islam, agar kelak tidak mengganggu dan membahayakan dirinya. Padahal Islam tidak demikian itu. Melalui gambaran seperti itu, artinya telah terjadi kesalahan di dalam memahami Islam. Antara nama dan yang memiliki nama tidak dikenal secara baik, apalagi sempurna. Bahkan yang terjadi sebaliknya, yaitu pemahamannya salah.

Adanya ketidak-jelasan antara nama dan yang memiliki nama itu, tidak saja terjadi pada orang awam, atau orang yang tidak berpendidikan, melainkan juga dialami oleh banyak orang. Hanya tingkatannya saja yang berbeda-beda. Benda yang pasti memiliki nama itu jenis dan jumlahnya sedemikian banyak, bahkan tidak terhitung. Oleh karena itu tidak mungkin atas keterbatasannya, orang mampu mengenal nama-nama benda semuanya. Hanya sebagian kecil saja, jenis benda dan juga namanya yang sebenarnya berhasil diketahui oleh kebanyakan orang.

Namun anehnya, sekalipun tidak tahu, tidak semua orang segera mencari tahu nama benda-benda dimaksud. Keengganan mengetahui nama dan sekaligus bendanya itu juga dialami oleh banyak orang, ���-dan secara jujur oleh karena keterbatasan, adalah juga saya sendiri. Ketika membaca al Qur�an tidak semua ayat mampu saya pahami, sekalipun sudah tersedia terjemah dan apalagi tafsirnya. Begitu juga banyak orang yang berani jujur mengatakan, ketika membaca doa di dalam shalat, ternyata tidak memahami apa yang diucapkannya. Maka artinya, ketika kata atau nama itu diucapkan mereka tidak mengetahui apa atau siapa sebenarnya yang dimaksud atau pemilik nama itu.

Padahal al Qur�an memberikan tuntunan agar dan juga bahkan menegur kepada orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak menjalankannya. Tuhan membenci sikap atau perilaku seperti itu. Namun pada kenyataannya, adalah lebih parah lagi, yaitu jangankan mengerjakan, sebatas memahami apa yang disebutkannya saja telah gagal. Mereka tidak mengetahui apa yang dikatakannya. Arti berdo�a adalah memohon, yaitu memohon sesuatu kepada Tuhan, tetapi anehnya apa yang diminta sehari-hari ternyata tidak dimengerti.

Semua benda, barang, jenis kegiatan, dan apa saja telah memiliki nama. Tuhan mengajarkan agar nama-nama itu dikenali siapa pemiliknya. Dengan begitu, antara nama dan pemilik nama selalu jelas. Islam mengajarkan agar umatnya kaya ilmu, mengetahui benar terhadap benda yang diucapkan, atau mengetahui nama dan sekaligus bendanya. Itulah sebabnya, kewajiban belajar tidak ada batasnya, mulai dari ayunan hingga masuk ke liang kubur. Begitu pula, mempelajari al Qur�an tidak mengenal usia, berapapun umurnya setiap orang masih diwajibkan belajar, hingga sampai ke liang kubur. Maksudnya, agar antara nama dan siapa pemilik nama terhadap berbagai jenis benda dikenali dengan baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terlibat konflik, bersitegang leher, bermusuhan, dan bahkan bunuh membunuh hanya karena salah memahami dengan baik antara nama dan bendanya. Tidak terkecuali dalam menjalankan agama, banyak orang gagal mengerti tentang beragama. Akibatnya, agama dijadikan bahan perbantahan, bahan perdebatan memburu kemenangan, bahan mengalahkan orang lain, dan seterusnya. Padahal, agama hadir adalah agar di antara sesama saling mengenal di antara sesama, dan demikian pula bahwa yang terbaik di antara manusia adalah yang bertaqwa. Namun tujuan mulia itu tidak berhasil diraih oleh karena di antaranya, terjadi salah paham. Antara nama dan yang memiliki nama itu sendiri tidak dipahami hingga jelas. Wallahu a�lam
- Sumber : Imamsuprayogo.com
Reaksi: