Di zaman sekarang ini, apa saja harus menggunakan uang. Seolah-olah tanpa uang semua jenis kegiatan tidak akan berjalan. Kerja yang bersifat pengabdian atau suka rela, hampir tidak ada. Bahkan, hingga membaca khutbah, memberi sambutan dalam sebuah acara, dan bahkan memimpin doa saja, yang bersangkutan harus diberi imbalan berupa uang.

Semua jenis jasa tidak saja harus dibayar, tetapi jumlahnya juga ditentukan. Biasanya, posisi seseorang juga menentukan jumlah yang harus dibayarkan. Orang yang dianggap penting, berpendidikan, dan memiliki jabatan tinggi, maka tarifnya akan berbeda dibanding dengan orang yang tidak menyandang identitas apa-apa. Selain itu, besarnya tarif juga dirasakan berkorelasi dengan harga diri atau gengsi yang diperoleh

Oleh karena jabatan, pangkat, posisi di tengah masyarakat selalu berkorelasi dengan uang yang diterima, maka posisi-posisi penting di masyarakat juga selalu diperebutkan. Perebutan posisi penting dianggap lazim. Memang, sementara orang masih menyebutkan bahwa posisi atau jabatan itu amanah, tetapi anehnya amanah itu dibeli dan diperebutkan.

Anehnya lagi, orang tidak lagi merahasiakan berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan jabatan atau amanah. Apalagi, besarnya uang yang dikeluarkan juga sekaligus menunjukkan tingkat prestise atau gengsi yang diperoleh. Pandangan yang berkembang seperti itu menjadikan sementara orang tidak merasa berat mengeluarkan sejumlah uang untuk memperoleh jabatan yang bergengsi.

Hal yang terasa baru, artinya terjadi pada akhir-akhir ini, adalah bahwa jabatan yang dipandang bergengsi tidak saja sebatas berada pada organisasi yang mendatangkan uang, tetapi juga pengaruh dan gengsi itu. Orang mau saja mengeluarkan sejumlah uang apabila yang bersangkutan menjadi terkenal dan berpengaruh luas. Itulah sebabnya, pimpinan berbagai organisasi sosial dan apalagi politik selalu diperebutkan. Konflik di lingkungan partai politik, dan bahkan di organisasi sosial keagamaan sekalipun sering terjadi, karena dianggap mendatangkan pengaruh dan gengsi itu.

Sebagai akibat adanya transaksi, maka fungsi struktur dalam organisasi tidak saja penting untuk pembagian tugas dan wewenang, tetapi juga gengsi, imbalan, dan sekaligus pengaruh. Hubungan-hubungan dalam organisasi bukan saja terkait tanggung jawab, rasionalitas, tetapi juga terkait isi saku. Akhirnya di dalam organisasi itu bukan suasana kedamaian, ketenangan, dan apalagi nilai perjuangan yang diperoleh, melainkan sebaliknya, yaitu perebutan dan bahkan saling menjatuhkana sesama teman dianggap menjadi hal biasa.

Di tengah-tengah kehidupan yang diliputi oleh suasana transaksional dan perebutan seperti digambarkan tersebut, ternyata ���-sebagaimana tulisan saya beberapa hari yang lalu, masih ada organisasi sosial keagamaan yang berhasil membangun kultur ideal, yaitu semua yang terlibat di dalam organisasi itu, dalam menunaikan tugasnya, mendasarkan pada niat ibadah dan keikhlasan. Sebagai bagian dari ibadah, mereka bekerja secara ikhlas. Nilai tertinggi pada organisasi dimaksud bukan posisi pada struktur organisasi dan juga besar- kecilnya gaji, melainkan suasana hati yang ikhlas itu.

Siapapun yang mampu bekerja secara ikhlas, apapun posisinya maka diyakini akan mendapatkan pahala yang lebih tinggi. Pandangan yang demikian itu, menjadikan setiap orang bukan berebut posisi, melainkan berlomba untuk menunaikan tugas sebaik-baiknya. Demikian pula, orang tidak akan berebut posisi yang dirasakan ia sendiri tidak mampu menjalankannya. Mereka lebih suka mendapatkan amanah yang dirasakan sesuai dengan kemampuannya. Bekerja secara baik dan ikhlas itulah yang diinginkan. Ikhlas selalu berada di hati dan bukan di kepala. Apa saja yang berada di hati biasanya indah dan menyenangkan. Namun sayang, pandangan itu pada akhir-akhir ini sudah banyak ditinggalkan orang. Wallahu a�lam

Reaksi: