Foto : Perenungan Diri , Imamsuprayogo.com/doc
Jika diperhatikan secara saksama ketiga jenis kelompok orang, yakni petani, pedagang, dan ilmuwan, masing-masing memiliki karakter berbeda. Karakter itu bisa jadi tumbuh dari tantangan yang dihadapi oleh mereka berbeda-beda. Seorang petani misalnya, sehari-hari mengurus tanaman. Sebagai petani, mereka tidak pernah bersaing dengan siapa saja. Selain itu, tanaman juga tidak akan mungkin diajak tumbuh cepat. Setiap jenis tanaman memiliki ukuran waktu panen yang tetap. Padi misalnya, akan panen setelah usianya sekitar tiga bulan, tidak bisa dipercepat atau dilambatkan. 

Contoh lainnya, adalah tanaman cengkih, kopi, durian, kepala, dan sejenisnya. Tanaman cengkih akan berbuah setelah usianya menginjak sekitar lima tahun. Demikian pula tanaman keras sejenis itu. Memang, dengan rekayasa, usia kurang dari kebiasaan itu bisa berbuah. Akan tetapi, upaya merekayasa tanaman itu dilakukan oleh ahlinya, yaitu ahli pertanian. Petani sendiri biasanya tidak melakukannya, apalagi petani tradisional. Pekerjaan petani hanyalah menanam, menyiangi pada waktunya, dan menunggu waktu panen. 

Pekerjaan petani seperti itu menjadikan mereka terbiasa menunggu, yakni menunggu musim tanam, musim memupuk, musim menyiangi, musim datangnya hama, dan musim panen. Kehidupan mereka serba menyesuaikan dengan keadaan alam, iklim atau cuaca. Pada saat musim hujan harus segera menanam jenis tanaman yang cocok, dan demikian pula ketika datang musim kemarau. Memang ada petani yang kreatif dan agresif, yang selalu mencari cara dan peluang agar jumlah panennya meningkat, tetapi sosok petani yang demikian itu jumlahnya tidak banyak. 

Berbeda dengan petani adalah pedagang. Sebagai pedagang, untuk mendapatkan untung, maka mereka harus berpikir dinamis. Pekerjaannya tidak ada habis-habisnya. Jika tidak memiliki dagangan, maka segera mencari hingga mendapatkannya. Tatkala sudah diperoleh, maka mereka sibuk mencari cara agar dagangannya dapat terjual. Pedagang selalu diburu waktu, antara mencari dan menjualnya. Selain itu, pedagang harus bersaing dengan pedagang lainnya. Mereka bersaing mendapatkan dagangan, bersaing harga, bersaing untuk mendapatkan pasar. Hidup mereka selalu berada pada tantangan, yang kadang kala begitu keras. Jika petani sehari-hari menunggu dengan sabar, maka pedagang seolah-olah selalu dikejar-kejar. 

Berbeda dengan kehidupan petani dan pedagang adalah kehidupan ilmuwan. Seorang ilmuwan bertugas mencari, menguji, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehari-hari, mereka bekerja melakukan pengamatan, baik di lapangan terbuka, di perpustakaan, atau di laboratorium. Para ilmuwan dituntut untuk menemukan hal baru dari hasil penelitiannya, sesuai dengan bidangnya. Seorang ilmuwan disebut hebat manakala mereka kaya gagasan, buah pikiran, dan temuan baru. Produk itu biasanya dipublikasikan. Itulah sebabnya, sebagai syarat untuk naik jabatan akademik, seorang ilmuwan atau dosen harus memilki karya ilmiah yang dimuat di majalah, penerbitan, atau di jurnal ilmiah. Tanpa mampu menunjukkan karya itu, ilmuwan dianggap tidak produktif dan tidak dinaikkan pangkatnya. 

Merenungkan tentang tugas ketiga jenis pekerja tersebut, memang masing-masing tampak berbeda.
Para petani tidak akan merasa memiliki pesaing. Sehari-hari yang dihadapi adalah tanaman dan iklim atau cuasa. Manakala tanahnya subur, iklimnya bagus atau sesuai dengan jenis tanamannya, dan tidak ada hama ganas yang menyerang, maka petani gembira dan optimis akan panen sesuai dengan harapan. Petani tidak banyak memikirkan pesaing yang akan mengalahkannya. Sesama petani biasanya juga bekerjasama untuk menaikkan produksi. Oleh karena itu, kehidupan petani lebih tenang dibanding pedagang. 

Pedagang selalu berpikir tentang pesaing. Kalah bersaing, mereka akan bangkrut. Selain bersaing, pedagang juga selalu dikejar oleh waktu. Terlambat sedikit saja, dagangan tidak laku atau akan diambil orang. Oleh karena itu, pedagang tertentang untuk berpikir terus menerus. Hal itu mirip dengan ilmuwan. Bedanya ilmuwan tidak memiliki pesaing. Sesama ilmuwan dianggap sebagai mitra atau kolega. Bagi ilmuwan kehadiran sesama justru ditunggu dan bahkan dicari. Sesama ilmuwan akan saling mengisi, melengkapi, menguji kesakhehan hasil penelitian dan pemikirannya, juga menginspirasi. Maka aneh sesama ilmuwan menempatkan diri sebagai pesaing, dan apalagi musuh. 

Memang pada kenyataannya tidak sedikit petani bermental pedagang, demikian pula pedagang bermental petani, dan bahkan juga ilmuwan bermental petani atau pedagang. Ketika seorang ilmuwan bermental petani, maka karya ilmiahnya tidak kunjung selesai. Naskah disertasinya hanya ditunggu dan tidak dilanjutkan. Akibatnya, lulusnya molor. Begitu pula, ilmuwan yang bermental pedagang. Agar cepat selesai, maka untuk menyelesaikan karya ilmiahnya mengutip sana, mengutip sini, dan ternyata kebanyakan hingga dituduh plagiat. Di antara ketiganya, yang sekiranya tepat adalah menyesuaikan proporsinya. Petani ya petani, pedagang ya pedagang, ilmuwan ya ilmuwan. Seorang ilmuwan misalnya, ketemu ilmuwan akan merasa beruntung, bisa berbagi hasil pemikiran, hasil penelitian, dan juga inspirasi. Bukan malah saling menjauh. Wallahu a�lam

Reaksi: