Sudah banyak orang merasakan, bahwa kehidupan ini sudah semakin mengkhawatirkan. Antara sesama sudah tidak saling mempedulikan. Masing-masing orang sudah mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya. Umpama kepentingan itu diperluas, hanya sebatas membela orang-orang dekat, kelompok, atau seorganisasinya. Bahkan, sekalipun semula dibela oleh karena seorganisasi, ternyata bisa berbalik dijadikan musuh. Hal demikian itu dianggap biasa. Itulah krisis kemanusiaan yang sebenarnya amat berbahaya. 

Untuk memperbaiki hal tersebut, sementara orang berpendapat harus dicari penyebabnya dan dibuang jauh-jauh. Sementara orang berpandangan bahwa keadaan itu disebabkan oleh kemiskinan. Maka, cara mengatasinya harus melalui pendekatan ekonomi. Umpama sudah tidak ada lagi orang miskin, sehingga perut setiap orang sehari-hari tercukupi, maka persoalan yang membahayakan tersebut di muka akan terselesaikan dengan sendirinya. Tentu, pandangan seperti itu tidak selalu benar. Buktinya, banyak orang kaya, atau kebutuhan perutnya terpenuhi, tetapi justru perilakunya masih menyimpang, mereka bakhil, ujub, sombong, berselingkuh, dan juga korupsi. 

Sementara pendapat lainnya, bahwa keadaan masyarakat yang mengkhawatirkan sebagaimana dirasakan selama ini, disebabkan oleh kebodohan. Di kepala mereka terdapat akal, tetapi oleh karena tidak dididik sehingga menjadi bodoh. Banyaknya orang bodoh itu menjadikan orang saling bermusuhan, mengadu domba, memfitnah, dan sejenisnya. Maka, cara menyelesaikannya adalah melalui pendidikan. Manakala masyarakat sudah terdidik, maka akan lahir kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Dikira dengan otak yang cerdas, berpengetahuan luas, kaya ilmu, maka persoalan masyarakat akan selesai dengan sendirinya. 

Padahal kenyataannya, banyak kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang otaknya cerdas. Mereka berpendidikan, menyandang gelar akademik, dan banyak mengikuti berbagai kegiatan untuk meningkatkan akecerdasannya, akan tetapi kehebatan otaknya itu ternyata tidak selalu berhasil digunakan untuk menghindarkan diri dari berbuat jahat. Tidak semua orang yang cerdas berhasil menjauhkan dirinya dari berbuat yang mencelakakan dirinya dan apalagi orang lain. Justru dengan kecerdasannya itu maka skala kejahatan yang dilakukan semakin besar. Demikian pula, kerusakan yang ditimbulkan dari kejahatannya semakin parah. Maka, kecerdasan yang ada di kepala seseorang tidak menjamin bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan apalagi orang banyak. 

Tatkala perut dan otak yang ada di kepala tidak mampu menyelamatkan kehidupan, maka sebenarnya masih ada satu piranti yang ada pada diri setiap orang, yang justru menjadi penentu, yaitu hati. Manakala hati seseorang baik, maka akan berpengaruh terhadap semua organ lainnya. Hati akan selalu menjadi penentu terhadap kualitas semua organ lainnya, dan begitu pula sebaliknya. Seseorang yang hatinya baik, maka pikiran dan semua organ tubuh lain yang digerakkan juga akan menjadi baik. Hati akan menjadi penentu perilaku manusia. 

Hati seseorang ada kalannya sehat, tetapi ada kalanya sakit, dan bahkan juga mati. Berbagai penyakit bersumberkan dari hati itu. Penyakit hati bermacan-macam, misalnya ujub, riya, hasut, takabur, berprasangka buruk, kikir, fitnah, adu domba, tamak, dan loba. Manakala penyakit hati itu berhasil dihilangkan, maka seseorang menjadi sehat dan akan berimbas pada kesehatan jasmaninya. Orang yang hatinya sehat maka yang bersangkutan akan mampu bersyukur, sabar, ikhlas, kasih sayang pada sesama, pemaaf, mampu menghormati dan menghargai orang lain, dan memiliki sifat-sifat mulia lainnya. 

Persoalannya adalah bagaimana menjadikan hati itu tetap sehat. Jawabnya adalah selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Di antaranya adalah dengan shalat dan sabar. Orang yang shalat dengan benar, yakni tidak saja menenuhi dari aspek fikliy dan qauliy nya, tetapi juga aspek qolbinya, maka akan menjadikan yang bersangkutan sehat. Shalat disebut benar jika dilakukan dengan niat yang ikhlas, khusu�, memenuhi semua rukun dan hal lain yang dipersyaratkan. Semua itu dilakukan dengan sabar. Manakala semua orang, baik di dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dan bahkan negara, berhati bersih, jernih, dan sehat, maka kehidupan ini akan menjadi aman, damai, dan indah. 

Berbagai persoalan kehidupan yang semakin mengkhawatirkan, sebagaimana disebutkan di muka, sebenarnya bersumber dari hati masyarakat yang sedang sakit. Oleh karena itu, cara mengobati seharusnya melalui penyembuhan hati yang sedang sakit itu. Manakala hati tetap sakit, dan bahkan berbagai kebijakan yang dijalankan justru menambah penyakit itu, maka keadaan masyarakat tidak akan bisa diperbaiki. Berbagai penyimpangan dan bahkan kejahatan pada tingkat apapun sebenarnya bukan sebatas berasal dari perut dan kepala, melainkan bersumber dari penyakit hati itu. Wallahu a�lam


Reaksi: