Sumber persoalan bangsa, baik yang berkuran kecil, menengah, atau pun besar yang selalu muncul dan akibatnya dirasakan sehari-hari oleh seluruh rakyat, sebenarnya berasal dari manusianya itu sendiri. Umpama semua manusia itu baik, maka kehidupan ini akan aman, tenteram, dan damai. Namun oleh karena manusia sendiri membawa persoalan, maka sepanjang kehidupannya selalu ditimpa oleh masalah yang tidak mudah diselesaikan.

Oleh karena sumber persoalan itu datang dari manusianya sendiri, maka ketika jumlah manusia semakin banyak, maka persoalan yang dihadapi juga semakin besar pula. Tampak misalnya di kota-kota besar, sekalipun lembaga pendidikan semakin maju, orang semakin pintar, dan ilmu pengetahuan semakin berkembang, maka persoalan juga semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Penindasan antar manusia, tuduh menuduh antar sesama, konflik, perebutan kekuasan, kejahatan ekonomi, peras memeras, dan lain-lain adalah justru lebih banyak di temui di daerah perkotaan. Daerah perkotaan yang jumlah orangnya lebih banyak, maka kejahatan juga semakin banyak pula. Sudah barang tentu tidak berarti bahwa di pedesaan sama sekali tidak ada kejahatan, tetapi sesuai dengan jumlah orangnya yang tidak terlalu banyak, maka penyimpangan tidak sebanyak di pekotaan. Itulah sebabnya, seringkali muncul pandangan bahwa jika ingin mendapatkan kedamain dan ketenangan, maka datanglah ke pedesaan.

Manakala persoalan kehidupan itu disebut bersumber dari manusianya itu sendiri, maka bagian manakah sebenarnya yang menjadi inti atau sumber kejahatan dimaksud. Sebagaimana yang seringkali diungkapkan oleh banyak pakar bahwa persoalan hidup itu muncul oleh karena kemiskinan, kesenjangan sosial, rendahnya tingkat pendidikan, dan sejenisnya. Namun sebenarnya, umpama pandangan itu dianggap benar, maka bukankah banyaknya kejahatan itu justru berada di perkotaan. Padahal di wilayah perkotaan, pendidikan lebih maju dibanding di pedesaan, para sarjana dan atau orang pintar lebih banyak, dan demikian pula ekonomi lebih baik.

Atas kenyataan itu, maka persoalan kehidupan manusia bukan semata-mata disebabkan oleh hal sebagaimana disebutkan itu, tetapi ada faktor lain yang sangat menentukan. Faktor lain yang dimaksudkan itu adalah hati manusia itu sendiri. Manakala hati seseorang, dan tentu masyarakat pada umumnya selalu sehat dan baik, maka seluruh anggota tubuh orang yang bersangkutan juga akan sehat dan baik pula. Sebagaimana hadits nabi mengatakan bahwa, pada diri manusia terdapat segumpal daging. Manakala daging itu baik maka baiklah perilaku manusia itu dan demikian pula sebaliknya. Adapun daging yang dimaksudkan itu adalah hati.

Jika keterangan tersebut bisa dipahami, maka untuk menjadikan masyarakat selalu hidup damai, tentaram, dan sejahtera, yang harus disentuh atau dipelihara adalah hatinya. Hati adalah merupakan sumber kekuatan penggerak dan sekaligus pengarah seluruh tubuh manusia. Sedangkan anggota badan lainnya hanyalah berposisi sebagai instrumen, alat, atau piranti bagi hati untuk memilih perilaku yang ditampakkan. Misalnya, tangan digunakan untuk memegang, kaki untuk melangkah, telinga untuk mendengarkan, mata untuk melihat, dan akal bertugas untuk berpikir. Semua amanah yang dilakukan oleh anggota tubuh tersebut dikirim ke hati untuk dijadikan dijadikan bahan melakukan sesuatu.

Semua indera manusia tersebut sebenarnya amat jujur, dan atau melakukan fungsinya dengan benar. Sebagai misal, hidung, mata, telinga, mulut dan lainnya akan memberikan informasi apa adanya. Semua instrumen itu tidak pernah berbohong, atau memberikan informasi salah. Mulut misalnya, terhadap sesuatu yang manis dilaporkan manis, demikian pula misalnya masam, lezat, pahit, asin, dan seterusnya. Namun demikian, keputusan akhir semua itu tergantung pada hati. Manakala hatinya sehat dan baik, maka keputusan yang diambil juga pasti baik, dan begitu pula sebaliknya, jika hatinya kurang sehat dan buruk, maka keputusan yang diambil bisa menjadi buruk dan atau kurang baik pula.

Oleh karena itu, memberantas penyimpangan atau keburukan yang lahir dari setiap orang, maka bisa dimulai dari upaya menyehatkan hati. Orang yang hatinya sehat dan baik maka tidak akan berbuat jahat, serperti misalnya memeras dan menyakiti orang lain, merendahkan, hasut, takabur, memfitnah, mengadu domba, dan bahkan juga melakukan korupsi sekalipun. Maka, korupsi yang menjadikan negara tidak maju dan rakyat sengsara, sebagaimana dialami oleh bangsa Indonesia sekarang ini, sebenarnya bisa dicegah dengan membersihkan hati orang-orang yang sedang mendapat amanah mengurus pemerintah dan atau negara. Hanya sayangnya, yang bisa membersihkan hati seseorang adalah pemiliknya sendiri. Orang lain hanya bisa mengingatkan, memberikan informasi, dan atau menasehati. Wallahu a�lam. -

Reaksi: